
Halmaheranesia – Gempa berkekuatan 5,6 magnitudo mengguncang Pulau Morotai, Maluku Utara, pada Kamis, 19 September 2024, sekitar pukul 16.45.
Titik gempa ini tepatnya berlokasi di laut pada jarak 50 km Timur Laut Daruba, pada kedalaman 32 km.
Warga di sejumlah desa di Morotai memilih meninggalkan rumah dan mencari tempat ketinggian untuk mengantisipasi adanya terjadi tsunami pascagempa.
Puluhan warga di Desa Sambiki Tua, Desa Gamlamo, Desa Sangowo Barat, dan Desa Sangowo telah mengungsi di area bebukitan.
Rahidin Taihu, salah satu warga Desa Sambiki Tua, mengaku kebanyakan warga telah mengungsi di dataran tinggi lantaran khawatir terjadinya tsunami setelah terjadi gempa susulan.
“Orang samua sudah lari di gunung. Samua panik karena gempa berulang-ulang,” kata Rahidin.
Sekretaris Desa Sangowo, Mahfud Rasai, mengaku hampir separuh dari penduduk warga Desa Sangowo Barat pun telah mengamankan diri di area dataran tinggi.
“Jadi warga di Sangowo Barat ini hanya menjaga kemungkinan untuk mengantisipasi jangan sampai terjadi gempa susulan lagi,” ucap Mahfud.
“Kemungkinan warga yang sudah mengungsi itu sudah 50 persen. Mereka membawa benda-benda penting yang harus diamankan,” sambungnya.
Data sementara sebanyak 25 unit rumah warga yang tersebar di delapan desa Kecamatan Morotai Timur dan Kecamatan Morotai Jaya mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
Pemerintah masih terus melakukan indentifikasi dan evakuasi terhadap korban terdampak gempa.
Kepala Stasiun Geofisika Ternate, Gede Eriksana Yasa, melalui siaran persnya mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Masyarakat juga harus menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa,” kata Gede.
Ia mengaku, pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.
______
Reporter: Risaldi