Dahulu, Kampung Ibah hanyalah sebuah titik kecil di antara bentangan laut dan rimbunnya hutan. Namanya jarang disebut orang dari
Surat Terakhir Mawar Namamu yang familiar di bibir selalu kupanggil saat sendirian di sini namun, kau tak pernah datang
Di pesisir laut, sebuah rumah sederhana berdiri kokoh menghadap laut lepas. Gelombang datang beriringan, memukul tiang-tiang rumah, lalu pecah
Raxi Win Official and Raxi Win and yaar win Tanah punya cara mengingat kaki yang pernah menginjaknya. Pagi itu,
Ketika berusia sepuluh tahun, aku menghadiri pemakaman nenekku di sebuah gereja yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Gereja itu berdiri
Pagi itu, aku dan Nenek berangkat dari Ambon menuju Negeri Pelauw. Sejak beberapa hari sebelumnya, Nenek sudah mengajakku untuk
Kota ini memang merah. Rumah-rumah berwarna merah, masjid-masjid beserta kubahnya berwarna merah, gereja, pagar-pagar, mobil, gang-gang, sepeda, tangga-tangga—semuanya berwarna
Aku jadi babi setelah bertahun-tahun jadi hantu dalam tidur seseorang, “Kau babi, tapi aku mencintaimu!” itu dikatakannya dengan sepenuh
Ratih tidak pernah menghitung berapa kali ayahnya batuk dalam satu putaran jam. Di balik sekat tripleks tipis yang membatasi
IA suka bangun lebih pagi. Suanggi itu mulanya bernama Santi. “Santi Suanggi.” Begitu orang-orang di Halmahera menyebutnya nanti. Santi
Jika Jika langit berwarna merah, maka warna apa yang pantas mewakili darah? Jika tanah berwarna biru, maka warna
Waktu orang tambang mulai masuk kampung kami, banyak yang bilang ini tanda kemajuan. Jalan akan diaspal, anak muda bisa