
Halmaheranesia – Sejumlah mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial (Gamhas) kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor wali kota Ternate pada Rabu, 11 Desember 2024.
Koordinator aksi, Aji Buamona, mengatakan aksi kali ini menindaklanjuti janji pemerintah kota atas keluhan masyarakat di Kelurahan Sasa RT 01, Foramadiahi RT 07, serta Kelurahan Tubo RT 08 yang sejak lama tidak merasakan distribusi air.
“Hasil investigasi kami, warga di beberapa kelurahan, selalu mengeluarkan biaya membeli air profil selama satu minggu. Warga juga kadang selalu bergantung dengan air hujan,” kata Aji.
Komite Gamhas, Fahril Fokatea, menyebutkan sejak 2013 hingga sekarang sebanyak 36 rumah di Kelurahan Sasa RT 01 belum mendapatkan pendistribusian air. Sementara Kelurahan Foramadiahi RT 07 sejak 2020 sampai 2024, sebanyak 13 rumah juga belum mendapatkan air bersih.
“Tetapi terdapat empat rumah di Kelurahan Foramadiahi RT 07 mendapatkan bantuan dari pihak kelurahan dengan syarat membayarnya setiap bulan. Meskipun sudah dibayar, tapi distribusi air tidak disalurkan,” ungkap Fahril.
“Ini menjadi temuan, padahal sudah terpasang pipa PDAM di Kelurahan Foramadiahi, tetapi air belum ada. Masyarakat terpaksa membeli air sebesar 200.000 ribu per profil selama satu minggu, bahkan warga terus bergantung dengan air hujan. Terhitung warga Fora sudah mengeluarkan biaya Rp 7.000.000 selama setahun,” sambungnya.
Ia juga mengungkapkan, untuk Kelurahan Tubo terdapat pelayanan air bersih yang kurang maksimal, tepatnya di RT 08. Meskipun sudah membayarnya, tetapi pelayanan air sering mengalami kemacetan.
“Sehingga kami dari Gamhas menuntut secepatnya kepada pemerintah agar segera menyalurkan air bersih,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Direksi Teknis PDAM, Maslan Deis, mengatakan untuk pengembangan jaringan air di Kelurahan Sasa RT 01 harus melibatkan tiga pihak instansi, mulai dari Balai Wilayah Sungai (BWS), Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW), dan Dinas PU.
Namun, Maslan meminta agar dari pihak kelurahan juga harus menyurat ke pihak PDAM, sehingga mereka dapat melakukan survei lokasi terkait jalur jaringan.
“Jadi tiga instansi itu yang melakukan pengembangan proyek jaringan, tetapi kami dari pihak PDAM tetap berkoneksi untuk melakukan pelayanan air ke masyarakat,” ujar Maslan.
Ia menambahkan, untuk di Kelurahan Foramadiahi, pihaknya masih mengalami kendala karena kondisi elevasi yang terlalu tinggi.
“Untuk Foramadiahi elevasinya di atas 100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara di Tubo butuh normalisasi yang cukup lama karena ketika terjadi pemadaman listrik, pelayanan air juga mati,” kata Maslan.
____
Reporter: Musmaulana