
Halmaheranesia – Sejak tahun 2018 hingga 2024 Madrasah Young Researchers Supercamp (Myres) telah menciptakan 40.053 proposal penelitian serta kurang lebih 80.000 peneliti muda.
Hal tersebut disampaikan pencetus Myres, Anggoro Tri Mursito, pada acara talkshow KSM dan Myres 2024 di Kota Ternate, Maluku Utara.
“Myres sudah menciptakan sebanyak 30 hak cipta, beberapa software aplikasi yang telah didaftarkan hak cipta, 2 hak paten, dan sekitar 700 laporan publikasi penelitian,” ungkap Anggoro, Kamis, 6 September 2024.
Anggoro menekankan, para pendamping peserta Myres untuk memberi kesempatan kepada siswa-siswinya di Madrasah untuk bisa menulis ide mereka sendiri.
“Terkadang ada hal kecil menurut siswa-siswi di lingkup madrasah, justru menjadi temuan baru yang menjadi bagian dari proses mereka,” ungkapnya.
“Terkadang ada hal yang sangat kecil bagi siswa-siswi madrasah yang justru ternyata menjadi temuan baru,” tambahnya.
Pria yang berprofesi sebagai Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu mengharapkan penyelenggaraan Myres 2024 mampu menciptakan sosok peneliti-peneliti muda yang berasal dari Madrasah.
“Kegiatan ini juga secara langsung membuktikan bahwa Madrasah juga mampu menciptakan bibit-bibit ilmuwan muda yang mampu bersaing di dunia internasional,” jelasnya.
Penyelenggaraan Myres, kata Anggoro, awalnya hanya diikuti oleh siswa-siswi pada jenjang Madrasah Aliyah. Namun seiring berjalannya waktu kemudian diikuti oleh Madrasah Tsanawiyah (MTs) baik negeri maupun swasta hingga saat ini.
Sementara itu, Dekan FITK UIN Sjarif Hidayatullah Jakarta, Siti Nurul Azkiyah, menambahkan bahwa anak didik adalah digital native, mereka bisa belajar dengan mudah dimanapun dan kapanpun. Artinya, mereka bisa menyerap dan memperoleh informasi dari media digital.
“Tugas penting pengajar di sini adalah mengarahkan anak didik untuk bisa critical thinking (berpikir kritis) serta dapat memfilter sumber data maupun informasi,” ucap Nurul.
Nurul menjelaskan, untuk bisa melakukan riset atau penelitian, hal pertama yang penting dilakukan adalah membaca. Saat ini, membaca bisa dari berbagai macam sumber, baik fisik maupun digital seperti buku, jurnal, artikel dan lain-lain.
“Dengan begitu adanya kompetisi ini, saya yakin kita bisa menghasilkan generasi emas sebagai peneliti muda yang peka terhadap lingkungan, memiliki pola pikir dan bersikap ilmiah,” pungkasnya.