

Halmaheranesia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara (Malut) menggelar kegiatan diseminasi hasil riset dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 tahun WALHI Nasional, di Kedai Coffesua, Kamis, 15 Oktober 2026.
Mengusung tema “Konferensi Pers dan Diseminasi Hasil Riset Kualitas Air di Kawasi Pulau Obi”, kegiatan itu menghadirkan tiga narasumber, di antaranya Direktur WALHI Malut, Astuti N. Kilwouw, Guru Besar Universitas Khairun (Unkhair), Prof. Dr. Muhammad Aris, M.Si, dan Ketua Canga Kawasi, Ahmad Ibrahim.
Direktur WALHI Malut, Astuti N. Kilwouw, mengatakan bahwa WALHI Malut bersama tim telah melakukan riset berkaitan dengan kualitas air di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan. Hasil uji kualitas airnya menunjukkan adanya kandungan logam berat di 12 titik pengambilan sampel.
Astuti mengaku, salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah konsentrasi kromium heksavalen yang melampaui ambang batas baku mutu di dua titik sumber air terjun yang digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
“Pengujian sampel air ini dengan mengukur empat parameter logam berat, yaitu kromium heksavalen atau Cr (VI), merkuri (Hg), kobalt (Co), dan nikel (Ni),” ucap Astuti.
Ia menyebutkan, rangkaian kegiatan penelitian yang terdiri dari pengambilan sampel air, uji laboratorium, dan penyusunan laporan analisis hasil riset dilakukan selama lima bulan terakhir, yakni bulan Mei hingga September 2026.
Lokasi pengambilan sampel meliputi enam titik di perairan pesisir laut, dua di timur, dua di tengah, dan dua di barat. Kemudian dua titik di Sungai Akelamo, dua titik di air terjun, dan dua sumur warga (ujung timur dan barat pemukiman).
“Standar baku mutu yang digunakan sebagai alat ukur komparasi adalah Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Kepmen LH) Nomor 51 Tahun 2004 untuk air laut, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 untuk air terjun (danau), Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2023 untuk air sumur,” katanya.
Menurutnya, dalam pengujian laboratorium, terdapat empat parameter logam berat yang diperiksa, yakni kromium heksavalen, merkuri, kobalt, dan nikel. Hasil pengujian menunjukkan merkuri dan nikel umumnya berada di bawah ambang batas baku mutu.
“Sementara itu, konsentrasi kromium heksavalen di salah satu titik perairan laut berada tepat pada batas ambang baku mutu,” ujarnya.
Astuti menyatakan, temuan yang lebih mengkhawatirkan terdapat pada dua titik air terjun. Titik pertama mencatat konsentrasi kromium heksavalen sebesar 1,64 miligram per liter atau sekitar 24 kali lipat dari ambang batas baku mutu.
Sementara titik kedua mencatat konsentrasi 0,699 miligram per liter atau sekitar 14 kali lipat dari ambang batas tersebut.
Ia memaparkan kandungan kromium heksavalen dalam konsentrasi tinggi berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, antara lain iritasi kulit, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan kanker.
WALHI menilai temuan tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah, terutama karena pengambilan sampel dilakukan di kawasan industri yang menghasilkan logam berat. Kondisi ini memunculkan indikasi kemungkinan keterkaitan antara aktivitas industri dan pencemaran air di Kawasi.
Meski demikian, WALHI menegaskan bahwa hasil pengujian sampel air tersebut belum cukup untuk memastikan sumber pencemaran berasal dari aktivitas industri. Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab tingginya konsentrasi kromium heksavalen di sejumlah lokasi.
Guru Besar Universitas Khairun (Unkhair), Prof. Dr. Muhammad Aris, M.Si, menyampaikan bahwa pada tahun 2019, ia bersama tim pernah melakukan riset di kawasan perairan Desa Kawasi.
Ia menuturkan, saat itu kondisi atau kualitas perairan di kawasan Desa Kawasi dinilai sangat memprihatikan.
Menurutnya, seiring dengan adanya pemberitaan dan masukan yang disampaikan, sepertinya ada kecenderungan bahwa apa yang disampaikan selama ini telah mendapat perhatian.
Ia menegaskan, bahwa riset itu adalah sesuatu yang dilakukan untuk membuka fakta atau kebenaran berdasarkan hasil analisis secara ilmiah.
“Artinya langkah-langkah yang dilakukan dengan metode-metode yang telah tervalidisasi itu diharapkan dapat menjadi suatu tolak ukur,” tegasnya.
Dalam pengujian terbaru, kata dia, temuan WALHI memperlihatkan penurunan kadar logam berat terlarut. Selain itu, terdapat anomali pada parameter logam berat. Meski begitu, hasil laboratorium menunjukkan konsentrasi yang diuji berada di bawah batas baku mutu.
Ia menuturkan, kekeruhan air laut tidak selalu disebabkan oleh keberadaan logam berat. Perubahan kondisi perairan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk partikel yang terdapat di lingkungan laut.
“Oleh karena itu, penilaian dampak aktivitas pertambangan perlu disertai pemetaan risiko yang menyeluruh agar sumber perubahan kualitas air dapat diidentifikasi secara tepat,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan warga yang juga sebagai Ketua Organisasi Rakyat (OR) Canga Kawasi, Ahmad Ibrahim, menegaskan sebagian warga disebut merasa khawatir saat mengonsumsi air bersih.
Ahmad memaparkan, sejumlah mata air, seperti Sungai Toduku telah berubah warna menjadi kehijauan, berbusa, serta menyebabkan gatal saat terkena kulit.
“Tapi sekarang warga curiga limbah itu dialirkan langsung di Sungai Toduku tepatnya di belakang Desa Kawasi, jadi warga merasa takut konsumsi air itu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perubahan warna air yang diduga telah terkontaminasi logam berat dinilai sangat berdampak pada kesehatan warga, terutama ibu hamil dan anak-anak.
Menurut Ahmad, kualitas udara juga menjadi masalah yang setiap hari dihadapi oleh warga. Debu-debu hampir setiap hari memenuhi halaman hingga masuk ke dalam rumah warga.
“Misalkan kita jemur pakaian di luar rumah, lalu dibiarkan sekitar setengah jam saja, balik periksa lagi, semua sudah berdebu, jadi memang debunya parah sekali,” jelasnya.
close