Halmaheranesia — Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, H. Samsuddin Abdul Kadir, membuka secara resmi Pertemuan Technical Working Group (TWG) 2 Program Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDC-SUI) di Halmahera Room, Bela Hotel Ternate, Senin, 21 September 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan FAO Regional Asia Pasifik, FAO Indonesia dan Timor Leste, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI yang diwakili Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara, Warsita, pimpinan OPD Provinsi Maluku Utara, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan Sekda Samsudin, Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian RI dan FAO atas dukungan terhadap upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman tanaman pangan dan pertanian di Maluku Utara.
“Pertemuan ini memiliki arti yang sangat penting. Yang sedang kita bicarakan bukan sekadar persoalan komoditas, bukan semata-mata persoalan produksi, tetapi menyangkut masa depan sumber daya genetik, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan petani, dan warisan pengetahuan masyarakat untuk generasi mendatang,” ujar Samsuddin.
Ia menjelaskan, Maluku Utara memiliki posisi penting dalam sejarah dunia karena pala dan cengkeh pernah menjadi primadona perdagangan internasional.
Menurutnya, konservasi kedua komoditas tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertanian, tetapi juga menyangkut warisan alam, budaya, sejarah perdagangan dunia, dan identitas daerah.
“Ketika kita berbicara tentang konservasi pala dan cengkeh di Maluku Utara, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang warisan alam, warisan budaya, sejarah perdagangan dunia, dan identitas Maluku Utara,” tegasnya.
Samsuddin juga mengaitkan upaya konservasi dengan tantangan global, termasuk peluang perdagangan karbon yang dapat memberikan insentif bagi negara atau daerah yang menjaga kelestarian hutan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi Maluku Utara yang memiliki kekayaan hutan dan biodiversitas tinggi.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara, Warsita, menjelaskan bahwa sumber daya genetik tanaman merupakan aset strategis bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Program CDC-SUI merupakan kerja sama Kementerian Pertanian dan FAO yang didukung Global Environment Facility (GEF). Program tersebut dilaksanakan di tiga provinsi dan delapan kabupaten, yakni Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, dan Maluku Utara, dengan fokus pada lima komoditas utama, yaitu padi, talas, uwi, pala, dan cengkeh.
“Maluku Utara memiliki peran yang begitu penting. Daerah ini memiliki sejarah panjang dalam perdagangan rempah khususnya pala dan cengkeh, dan menjadi pusat penting keanekaragaman genetik atau center of origin bagi kedua komoditas tersebut,” kata Warsita.
Ia menyebutkan, hasil identifikasi di sejumlah kawasan, termasuk Gunung Sibela, Halmahera Selatan, masih ditemukan kerabat liar atau wild relative pala dan cengkeh. Kekayaan tersebut dinilai sebagai bank genetik yang perlu dikonservasi.
Di Kota Tidore Kepulauan, kata dia, lebih dari 85 persen masyarakat memiliki tanaman pala dan cengkeh. Luas budidaya pala mencapai 5.868,8 hektare dan cengkeh 891,4 hektare.
Namun, lanjut dia, sebagian besar tanaman telah berumur lebih dari 25 tahun dan hasil produksi masih banyak dijual dalam bentuk biji pala dan cengkeh kering sehingga nilai tambah di tingkat petani masih terbatas.
Sementara di Halmahera Selatan, sejumlah lokasi seperti Bacan, Makian, Kayoa, Mandioli, Gunung Sibela, Desa Gandasuli, dan Desa Marabose menjadi fokus kegiatan konservasi, karakterisasi, penguatan Custodian Farmer, hingga pengembangan akses diversifikasi pasar.
“Kami menargetkan lahirnya lebih dari 50 Custodian Farmers atau petani pelestari di Maluku Utara yang akan mendapatkan pengakuan formal serta paket insentif nyata seperti alat pertanian, pupuk organik, bibit unggul, hingga solar dryer,” jelasnya.
Menurut Warsita, insentif tersebut disusun berdasarkan Farm Conservation Plan yang diformulasikan oleh petani. Melalui intervensi mutu pascapanen, pendapatan petani diproyeksikan meningkat sekitar 15 hingga 25 persen dengan target penerima manfaat langsung sekitar 5.110 orang, dengan 50 persen di antaranya perempuan.
Ia menegaskan, forum TWG 2 menjadi bagian penting dalam merumuskan harmonisasi kebijakan lintas sektor, khususnya antara kawasan hutan, kebun rakyat, dan tanah adat.
“Forum ini sangat krusial untuk merumuskan harmonisasi kebijakan lintas sektoral antara kawasan hutan, kebun rakyat, dan tanah adat, sebagai wujud nyata sinergi pemerintah, mitra internasional, dan masyarakat dalam menjaga warisan sumber daya genetik bersama,” pungkasnya.





