
Sebuah Radio, Kekasihku!
Pada musim apa kita akan berjumpa, kekasihku! Radio nenek tak lagi membunyikan kabar duka. Pesawat televisi sedang dirusak gosip dan obral harta benda. Dan orang-orang sedang beterbangan di dunia maya; memamerkan apa-apa yang sementara; apa-apa yang terlupakan sebelum pintu rumah ibadah. Di angkasa tempat ingatan kita berjanji. Bayi-bayi tak berdosa berjatuhan di surga. Tuhan bilang ia tak akan tinggal diam. Tapi orang-orang masih beterbangan ke dunia mata. Tak ada yang salah dengan mesin tik saat leher-leher patah di pangkal senjata. Bom-bom dan semua ledakan yang melahap jiwa-jiwa manusia tak berdosa. Lihat saja pinggul-pinggul yang sedang menari di notifikasi. Sebuah pagi tersaji tanpa teh manis dan buku cerita, hanya berita… hanya berita! Bagaimana kau bayangkan perjumpaan kita, kekasihku! Radio kakek dibuang ke dalam telepon yang pintar. Orang-orang panik bertanya; ke mana pergi masa depan? Ke mana semua musim bahagia itu menyesatkan dirinya, kekasihku!
Seperti Perpisahan
Malam ketika kau memutuskan untuk pergi. Aku menunggu sepotong kalimat di sebuah lekuk pantai. Mungkin angin atau ombak atau badai yang akan membawanya ke puncak gunung asa yang sedang diputus malu. Kurang delapan jam sesudah tulang belakangku remuk digigit nyamuk, serangga-serangga tak ingin aku berdiri; aku digulat, digigit, disiksa kaki sendiri. Ada sebilah pisau yang terjaga di sepi tangan kiriku. Tak kutahu terbuat dari apa belati tumpul itu. Tapi lagu-lagu terus merundung telingaku; sebuah video pendek terhimpit di bilah jemariku; ada ayah dan ibu dan kakak dan adik dan semua alasan-alasan dalam lagu-lagu yang kita seduh seadanya sebelum terburu-buru bercinta untuk terakhir kalinya, entah sore yang kapan, sesudah itu, lupa-lah aku. Kau ingat, hari di mana pertama kali kau mengenalnya, lelaki yang bercincin emas di jari manisnya. Aku tak mengenalnya, kau juga tak mengenalnya—waktu itu. Dan kini ia sudah di sebelahmu, memberimu kebahagiaan yang seharusnya dariku. Darinya kau tersenyum, dariku hanya satu. Sepotong kalimat datang sebelum kau memutuskan untuk pergi dari lekuk pantai: “Aku adalah pintu di sepi rahim teluk itu, katakan padanya ketuklah dengan namaku, dan mengeranglah sekuat-kuatmu, surgaku”.
Dua Pohon
aku melihat api dibungkam rerantingan
kusentuh baranya dengan telapak hatiku
suara-suara malam mengayuh tatapku ke laut
yang tersisa hanyalah bilah-bilah bintang
yang kupilah dalam dudukku dan dudukmu
daun-daun terusik mata pancing; deru ombak
dua pohon adalah dua hati dan dua nama
aku melihat api dibungkam hangus peluru
terbakar biru cemburu
Kumenunggumu
kumenunggumu!
dilepas nafas pantai Dorolamo,
untuk sesuap nasi yang dikeluh angin bisu
dari seberang gulungan ombak menari-nari
kumenunggumu!
bolehkah kujerang rambut putihmu—
Gamalama!
rintih kisah kita yang berkelana mencari nama
mencari arti dari berabad-abad yang telah sudah,
kumenunggumu!
deru mesin yang memompa air mata anak bangsa!
air mata yang kau saru ke dalam mangkuk putih;
bening menyala-nyala…
adakah kau bertanya, bersama apa…
kumenunggumu?
ada rintih puisi yang menggali kuburmu;
jiwamu; Gamalama!
bercak darah air mataku
Perahu & Kota
disedu sedan perahu bocor yang menanduk bibir kota
Ternate tenang, terlalu tentram, terantuk kantuk oleh waktu
tetapi perahu; perahu rongsok sedang bertanya di mana Cakalang tidur
adakah oto-oto menyeru ke mana arah zaman melesat, seperti laut!
di darat Gamalama kau boleh bertanya pada tikus-tikus mati di tengah jalan;
pada mulut-mulut kerucut yang menaruh janji di atas maklumat suci tiga agama
adakah bendi-bendi masih menyanyikan lagu anak-anak, kau dengar!
ada pelacur di tengah kota yang menjual mimpinya pada roh rempah-rempah
di sana, di simpang jalan ia melihat perahu bocor menanduk bibir kota
dan janji dan sampah dan bencana yang terhambur melulu dalam doa-doa
Menuju Laut-Ku
sedih hatiku sembab sembilu
jejak jejaka menunggu-nunggu
bolehkah kau datang tanpa air matamu
kuku-kuku telah disembelih bulan berpuluh
aduh… aduh… pening kepalaku beku berliku
katak-katak berloncatan dari batu ke batu
sedih hatiku tak ada makna di kerut dahimu
kelamin-kelamin basah tersedu-sedu berlalu
bolehkah kau datang tanpa mengayuh perahu
aduh… aduh… pening hatiku sendu sembilu
kupuja kata, kupuja makna, kukayuh hatimu
menuju lautku…
_____
WDGafoer