02
Oktober
2026
Jumat - : WIB

JPIK Malut Ungkap Karhutla 2026 Capai 3.314 Hektare

Andri R. Mansur
Oktober 1, 2026 pada Kabar Daerah
Peristiwa Karhutla di Kota Ternate, Maluku Utara. Foto (Istimewa)

Halmaheranesia – Jaringan Pemantauan Independen Kehutanan (JPIK) Maluku Utara (Malut) mengungkapkan peristiwa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sepanjang tahun 2026 telah mencapai 3.314 hektare.

Koordinator Divisi Pemantauan JPIK Malut, Muajmin, mengatakan berdasarkan data pemantauan sepanjang tahun 2026, total area terbakar di Maluku Utara mencapai 3.314 hektare (ha). Angka ini mencakup seluruh kejadian kebakaran dari awal tahun hingga periode yang dipilih pada dasbor pemantauan.

“Luas area terbakar berfluktuasi tajam. Pada awal tahun, kebakaran relatif kecil, sekitar 160 hektare pada bulan pertama, lalu turun menjadi sekitar 40 hektare dan 70 hektare pada dua bulan berikutnya,” ujar Muajmin, Kamis, 1 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, lonjakan pertama terjadi pada bulan keempat, dengan luas terbakar sekitar 800 hektare. Setelah itu, luasnya turun dan bertahan di kisaran 200-300 hektare per bulan.

Menurutnya, puncak tertinggi terjadi pada bulan terakhir periode, dengan luas sekitar 1.500 hektare atau hampir setengah dari seluruh area terbakar sepanjang tahun. Pola ini menunjukkan tekanan kebakaran meningkat tajam menjelang atau selama puncak musim kemarau.

Muajmin menjelaskan, tumbuhan non-hutan disebut paling dominan. Sekitar 55-60 persen dari area kawasan itu mengalami kebakaran. Ini umumnya semak belukar, alang-alang, atau padang rumput yang mudah terbakar. Pertanian menyumbang sekitar seperlima (±20 persen), yang berpotensi merugikan mata pencaharian masyarakat.

“Hutan terdampak sekitar 15-18 persen dari total area terbakar, yang berarti ratusan hektare tutupan hutan hilang atau rusak.
Non-vegetasi merupakan porsi terkecil (±2-3 persen),” jelasnya.

Ia menegaskan, dominasi lahan non-hutan dan pertanian menandakan bahwa kebakaran banyak terjadi di area yang bersinggungan dengan aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan, perladangan, atau pembakaran yang meluas tak terkendali.

“Namun, kebakaran yang mencapai kawasan hutan tetap menjadi perhatian karena berdampak pada keanekaragaman hayati, fungsi tata air, dan emisi karbon,” katanya.

Kemudian, kata dia, lonjakan pada bulan terakhir periode menegaskan perlunya kesiapsiagaan lebih awal, seperti patroli, sosialisasi larangan pembakaran lahan, dan penyiagaan regu pemadam sebelum puncak kemarau.

Analisis sebaran titik api menunjukkan bahwa sebagian besar titik api terdeteksi berdekatan dengan wilayah pertambangan. Di kawasan yang bersinggungan dengan area operasi PT IWIP dan PT Weda Bay Nickel, titik api muncul dalam jumlah yang menonjol dibandingkan wilayah lain di Maluku Utara.

Pola serupa juga ditemukan di Halmahera Timur, tempat titik api terdeteksi di sekitar konsesi PT Jaya Abadi Semesta, PT Alam Raya Abadi, dan PT Indo Bumi Nikel.

“Kami menduga tekanan terhadap kawasan konsesi pertambangan turut membuat areal di sekitarnya menjadi lebih rentan terbakar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, bahwa pembukaan lahan, perubahan tutupan vegetasi, dan terbukanya kawasan hutan dapat membuat lanskap menjadi lebih kering dan mudah tersulut api, terutama pada musim kemarau.

“Kedekatan titik api dengan area konsesi ini menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan, meskipun hubungan sebab-akibatnya masih perlu dibuktikan melalui verifikasi lapangan dan penelusuran lebih lanjut,” pungkasnya.

Disalin
by halmaheranesia
MENU