02
Oktober
2026
Jumat - : WIB

Di Kawasan Tambang Terbesar, Warga Obi Susah Listrik Selama Ramadan

halmaheranesia
Maret 18, 2025 pada Kabar Daerah
Aksi warga Obi, Halmahera Selatan, terkait pemadaman listrik selama bulan Ramadan. Foto (Istimewa)

Halmaheranesia – Warga Desa Kawasi mengepung kantor PT Harita Nickel, perusahaan tambang terbesar di Kecamatan Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada Senin, 17 Maret 2025. Aksi ini buntut dari dua pekan lebih warga tak menikmati pelayanan listrik.

“Warga menuntut listrik harus segera dinyalakan. Apapun caranya, harus ada solusi,” kata salah satu narasumber yang enggan disebutkan namanya kepada awak media, Senin, 17 Maret 2025.

Menurutnya, aksi demonstrasi kali juga tidak lepas dari janji perusahaan kepada warga.

“Perusahaan pernah berjanji masalah air bersih hingga listrik jadi tanggung jawabnya,” katanya.

Selain itu, alasan warga mendesak PT Harita segera mencari solusi karena kaum muslim yang tengah melaksanakan ibadah puasa mengalami kesulitan. Terutama saat memasak makanan sahur dan takjil menjelang berbuka.

“Warga kewalahan menyiapkan makanan untuk sahur maupun berbuka puasa. Desa Kawasi saat ini memang benar-benar gelap,” katanya.

Tak hanya itu, yang membuat warga marah karena sebelum Desa Kawasi dilanda kebakaran beberapa waktu lalu, smelter perusahaan sempat mengalami peristiwa yang sama. Tapi dalam waktu singkat, sistem kelistrikan di area perusahaan dapat diperbaiki dan smelter kembali beroperasi.

“Nah, kenapa yang dialami masyarakat Desa Kawasi beda penanganan. Paling tidak kan harus ada perhatian. Apalagi mereka juga pernah berjanji ke warga soal listrik ini,” katanya.

Lebih lanjut, ia menuturkan, saat ini sebagian warga sudah pindah ke Ecovilage, sebuah kawasan perumahan yang dibangun Harita untuk merelokasi warga Kawasi.

“Di Ecovilage, listrik menyala 1×24 jam. Padahal jumlah warga yang tinggal di sana (Ecovilage) itu tidak sebanding dengan yang bertahan di kampung asal. Mereka di Kawasi sini lebih banyak, tapi kenapa Ecovilage lebih diperhatikan,” ungkapnya.

Salah satu tokoh agama setempat, pendeta Edy. A. Karamaha menegaskan, demonstrasi itu dilakukan karena masyarakat belum mendapat respons dari pihak PT Harita Nickel tentang kejelasan membantu penerangan di desanya.

Pihaknya pun sudah berupaya membuat pertemuan baik-baik dengan Harita untuk meminta mempercepat pelayanan listrik di Kawasi, tapi hingga kini tidak ada respons.

“Karena itu, para tokoh masyarakat dan tokoh agama, bersama masyarakat membuat kesepakatan dan melakukan demonstrasi hari ini,” ujar Edy.

Menurutnya, kebutuhan listrik ini mestinya cepat dipenuhi oleh pihak perusahaan, sebab saat ini saudara-saudaranya yang Muslim sementara menjalani ibadah puasa yang dalam waktu dekat juga merayakan Idulfitri.

“Ini perusahaan besar, dan sudah banyak mengambil kekayaan alam kita, mestinya pelayanan yang mereka berikan kepada kita juga setimpal. Kita harus mendapat pelayanan listrik yang terbaik. Bukan justru membiarkan kita hidup kegelapan,” sesal Edy.

Edy menyebut, pihak perusahaan selalu beralasan listrik over kapasitas. Padahal sebenarnya tidak. Pelayanan penerangan sampai di Desa Kawasi lebih dari cukup.

Hanya saja, ia menduga ini juga tak lepas dari program relokasi masyarakat Kawasi ke wilayah pemukiman baru, Ecovilage, yang tak mendapat respons secara baik dari masyarakat.

“Di desa pemukiman baru listrik menyala stabil. Kita di desa induk Kawasi listrik padam, menyala mati-menyala mati. Ini tidak adil. Kalau di sana mendapat pelayanan baik, seharusnya di sini juga begitu,” tandasnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, pihak Harita Nickel belum merespons hasil konfirmasi awak media dan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pemadaman lampu.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

by halmaheranesia
MENU