Kuskus merupakan hewan endemik yang penyebarannya terbatas di Indonesia. Hewan ini selain menghadapi kerusakan habitat akibat masifnya deforestasi, maraknya perburuan juga menjadi ancaman kelangsungan hidup mereka. Lalu, bagaimana kehidupan hewan ini?
Kuskus merupakan mamalia berkantung (marsupial), hidup beraktivitas pada malam hari (nokturnal), memiliki ekor prehensil (ekor panjang dan kuat yang berfungsi sebagai alat bantu pergerakan), serta masuk dalam famili Phalangeridae.
Terdapat enam genus kuskus di dunia, yakni Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, Strigocuscus, Wyulda, dan Trichosurus. Keenam genus tersebut persebarannya hanya ada di Indonesia, Papua Nugini, dan Australia.
Di Indonesia terdapat empat genus kuskus yang tersebar di Papua, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Pulau Timor. Keempat genus tersebut meliputi Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, dan Strigocuscus. Setidaknya ada 23 spesies kuskus yang tersebar di Indonesia.
Di Maluku Utara ditemukan dua genus kuskus, yaitu Phalanger dan Spilocuscus. Kedua genus itu tersebar di Pulau Halmahera, Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Bacan, Pulau Obi, Pulau Morotai, dan Pulau Gebe, di mana terdapat empat spesies dari dua genus tersebut yang dikategorikan sebagai hewan endemik.
Empat kuskus endemik tersebut meliputi kuskus mata biru (Phalanger matabiru), kuskus gebe (Phalanger alexandrae), kuskus kuning/berhias (Phalanger ornatus), dan kuskus obi (Phalanger rothschildi).
Tim koncodata (Divisi Data halmaheranesia) merangkum informasi dan menganalisis tingkat keterancaman keempat hewan endemik nokturnal yang dilindungi negara. Beberapa di antaranya berpotensi terancam punah.
Kuskus Mata Biru dari Ternate

Kuskus mata biru atau Blue-eyes Cuscus adalah hewan endemik yang berasal dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Hewan omnivora pemakan serangga, daun, dan buah ini oleh masyarakat Ternate disebut dengan kuso.
Hewan bernama latin Phalanger matabiru ini merupakan mamalia berkantung dengan ciri khas mata berwarna biru, bulu tebal berwarna abu-abu kecokelatan, serta ukuran tubuh kecil hingga sedang. Satwa dilindungi ini memiliki ekor panjang (prehensil) untuk memanjat dan aktif pada malam hari (nokturnal).
Kuskus mata biru kini menghadapi ancaman terhadap ekosistemnya. Selain karena semakin padatnya permukiman serta penebangan pohon untuk pembangunan dan konversi lahan, hewan ini juga kerap menjadi sasaran perburuan.
Pada 23 Januari 2024, sebanyak lima orang pemburu liar kuskus mata biru berhasil diamankan oleh pengelola Pulo Tareba, salah satu destinasi ekowisata di Kota Ternate.
Belum lama ini, kejadian serupa kembali terjadi. Komunitas Pulo Tareba menangkap empat orang pelaku pemburu kuskus. Sebanyak 15 ekor dewasa dan 3 bayi satwa endemik tersebut ditemukan mati akibat diburu di sekitar kawasan Kelurahan Loto, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, pada 30 Desember 2025.
Kendati terancam punah, salah satu lokasi yang menjadi habitat kuskus mata biru adalah Pulo Tareba, sebuah destinasi ekowisata di Kota Ternate.
Pulo Tareba berada di punggung Gunung Gamalama atau tepat di sisi barat Danau Tolire. Di tempat inilah kuso masih dapat dijumpai. Para pengelola destinasi ini pun terus menjaga keberadaan kuskus mata biru dari aktivitas perburuan.
Selain di Kota Ternate, penyebaran kuskus mata biru juga dijumpai di Pulau Tidore.
Kuskus Gebe

Kuskus gebe atau nama ilmiahnya Phalanger alexandrae merupakan salah satu hewan marsupial endemik Pulau Gebe, Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang teridentifikasi pada tahun 1995.
Wartika Rosa Farida (2022) dalam laporan berjudul Habitat and Distribution of Cuscuses (Phalangeridae), merujuk pada penelitian Leary dkk. (2008), menyebutkan habitat hewan ini berada di hutan hujan tropis pada ketinggian sekitar 300 mdpl.
Kuskus gebe memiliki postur tubuh lebih besar dibandingkan spesies kuskus lain di Maluku Utara. Warna bulu pada bagian depan tubuh berwarna merah terang, sementara bagian belakang berwarna keabu-abuan, dengan corak mata berwarna kehijauan.
Penelitian yang dilakukan oleh Fajar Alfitrian (2023) mengungkapkan bahwa hewan ini banyak ditemukan di lahan pertanian kering bercampur semak belukar (63,3%), hutan lahan kering sekunder (32,7%), serta sebagian kecil di area permukiman (4%).
Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa kuskus gebe lebih menyukai pohon-pohon tinggi sebagai tempat bersarang (±22 meter), dengan diameter sarang 19,6–32,5 cm serta lebar tajuk 3,0–5,5 meter berbentuk bulat. Makanan utamanya berupa buah-buahan, daun muda, dan bunga.
Penyebarannya yang terbatas di Pulau Gebe membuat hewan ini masuk dalam kategori konservasi Endangered (terancam punah) dan sangat rentan mengalami kepunahan jika tidak mendapat perhatian konservasi lanjutan.
Walaupun telah ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi negara melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK No. P.106/2018), keberadaannya kian memprihatinkan.
Populasi hewan endemik ini semakin terancam akibat maraknya deforestasi, perburuan untuk dikonsumsi, serta aktivitas pertambangan yang menyebabkan hilangnya habitat alami.
Laporan Yayasan Auriga Nusantara (2024) menyebutkan sekitar 3.209 hektare lahan konsesi tambang nikel di Pulau Gebe berada dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas.
Analisis citra dari tahun 2001 hingga 2023 menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan telah menyebabkan deforestasi seluas 1.065 hektare.
Selain itu, lubang-lubang tambang tanpa rehabilitasi juga ditemukan di bekas area PT Antam dan PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara di kawasan Tanjung Ueboelie.
Fenomena ini menunjukkan deforestasi yang kian parah di Pulau Gebe. Hutan sebagai habitat kuskus endemik kini semakin menyempit, rusak, dan terancam hilang jika aktivitas pertambangan terus berlangsung.
Kuskus Endemik Obi

Kuskus obi (Phalanger rothschildi) merupakan salah satu spesies kuskus endemik di Maluku Utara. Satwa marsupial ini hanya ditemukan di Pulau Obi, Pulau Bisa, dan Obi Latu di Kabupaten Halmahera Selatan.
Hewan berukuran kecil dengan berat rata-rata 1.365 gram ini memiliki ciri morfologi berupa bulu tebal berwarna jingga kecokelatan dan abu-abu kehitaman, perut putih kekuningan, garis gelap di punggung, serta ekor panjang prehensil untuk berpegangan. Selain itu, betina memiliki kantung perut untuk membawa anak.
Penelitian oleh Nasir Tamalene, Buyung, dan Said Hasan (2019) menyebutkan bahwa populasi kuskus di Pulau Obi mengalami tekanan akibat pembangunan dan pertumbuhan penduduk.
Berkurangnya sumber makanan akibat penebangan liar, kebakaran hutan, dan fragmentasi habitat untuk perkebunan juga menjadi tantangan dalam upaya pelestarian.
Penurunan populasi dipengaruhi oleh kedekatan permukiman dengan habitat, aktivitas manusia, anggapan masyarakat bahwa kuskus adalah hama, serta pembukaan lahan secara masif.
Perburuan liar untuk konsumsi juga menjadi faktor krusial yang mengancam keberadaan satwa ini, ditambah dengan maraknya investasi pertambangan.
Dalam penelitian tersebut, ditemukan 41 individu kuskus dari delapan jalur pengamatan. Sebanyak 39 individu merupakan Phalanger ornatus, sementara hanya dua individu kuskus obi (Phalanger rothschildi) yang ditemukan pada satu lokasi pengamatan.
Temuan ini menunjukkan bahwa persebaran kuskus endemik Obi sudah sangat terbatas.
Kuskus Kuning/Berhias

Kuskus hias atau kuskus kuning merupakan marsupial endemik Maluku Utara dengan persebaran paling luas. Hewan ini dapat ditemukan di Pulau Halmahera, Bacan, Ternate, dan Morotai.
Hewan dengan nama ilmiah Phalanger ornatus ini hidup di hutan hujan tropis pada ketinggian sekitar 100 mdpl. Di Pulau Ternate, spesies ini juga ditemukan di hutan sekunder serta perkebunan pala dan cengkeh.
Spesies ini pertama kali dicatat oleh Alfred Russel Wallace. Secara morfologi, kuskus ini berwarna cokelat muda dengan bercak putih tidak beraturan, garis punggung gelap, serta bercak putih di telinga.
Ekor berbulu pendek dengan tekstur agak kasar. Individu dari Ternate cenderung berukuran lebih kecil, dengan warna cokelat kemerahan dan iris mata biru, serta tidak menunjukkan dimorfisme seksual.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan kuskus hias sebagai Least Concern (risiko rendah). Namun, ancaman perburuan terhadap spesies ini masih terus terjadi.
_____
Penyusun: M. Rifal Hi. Abdullah





