Halmaheranesia – Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial (GAMHAS) menggelar aksi unjuk rasa di kantor wali kota Ternate pada Kamis, 20 Maret 2025. Aksi ini menuntut pemerintah segera menyelesaikan krisis air bersih di sejumlah kelurahan.
Dalam aksi ini, massa menuding Pemkot Ternate dan PAM Ake Gaale gagal menjalankan tugasnya dalam menyediakan akses air bersih.
Komite Gamhas, Baskara H Abdullah, menyoroti kondisi warga di Foramadiahi, Sasa, Tabona, dan Tubo yang terpaksa membeli air dengan harga selangit atau mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Ini bukan masalah baru. Warga sudah terlalu lama menderita, sementara pemerintah hanya memberi janji tanpa solusi konkret,” tegas Baskara.
Ia meminta Pemkot segera memasang pipa distribusi di wilayah yang belum tersambung, menormalkan aliran air, serta mengevaluasi kinerja PAM Ake Gaale yang dinilai berkinerja buruk.
Baskara juga menilai Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 02 Tahun 2021 tentang Perusahaan Umum Daerah Air Minum Ake Gaale yang tidak dijalankan dengan maksimal.
“Kami menemukan banyak keluhat warga di lapangan. Bahkan dalam bulan Ramadan ini juga terpaksa harus membeli air profil dengan biaya yang cukup mahal,” katanya.
Ia menegaskan, bahwa mereka tidak akan berhenti menggelar aksi sampai janji tersebut benar-benar terealisasi.
“Kami akan terus turun ke jalan jika pemerintah tetap lambat dan abai terhadap hak masyarakat atas air bersih,” jelasnya.
Aksi semakin memanas ketika Gamhas memblokade pintu masuk kantor wali kota.
Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, akhirnya turun menemui massa didampingi Direktur Utama PAM Ake Gaale.
Dalam dialog singkat, Tauhid berjanji akan segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan krisis air bersih yang terjadi.
“Semua tuntutan Gamhas hari ini akan kami upayakan untuk realisasi,” pungkas Tauhid.





