Halmaheranesia – Pancora Beach Festival resmi diluncurkan pada Jumat, 4 April 2025, dan direncanakan menjadi agenda tahunan di Desa Talaga, Kecamatan Ibu Selatan, Halmahera Barat.

Kegiatan peluncuran dimulai dengan workshop bertajuk “Promosi Potensi Wisata Desa Berbasis Digital” yang menghadirkan Faris Bobero, CEO cermat, sebagai narasumber.

Ketua Panitia Pancora Beach Festival, M. Haidir Patty, menjelaskan festival ini merupakan program prioritas Pemerintah Desa (Pemdes) Talaga yang telah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) tahun 2022 – 2029, dan baru bisa direalisasikan tahun ini.

“Kami semua berkeinginan agar kegiatan ini menjadi agenda tahunan. Pelaksanaannya tidak mengikuti kalender Masehi, tetapi mengikuti budaya lokal yang disebut Dodengo, yaitu tradisi yang dilaksanakan pada hari pertama Idulfitri hingga tanggal 4 Syawal, sehingga mengikuti kalender Hijriah,” ujar Haidir.

Ia menambahkan, festival ini juga merupakan hasil inisiatif pemuda dan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam mendukung program prioritas pemdes.

Sejumlah kegiatan telah disiapkan, di antaranya susur sungai, pertunjukan musik tradisional, penanaman pohon lindung, parade perahu layar (ma-sidet), hingga ziarah ke Pele Kie (ritual naik gunung) yang menjadi rangkaian penutupan festival sekaligus peluncuran destinasi wisata Pantai Pancora.

“Beberapa kegiatan seperti ma-sidet dan Pele Kie merupakan bentuk refleksi budaya. Selalu ada cerita dari para tetua yang harus terus kita jaga,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Talaga, Yusri M. Ahya, menyampaikan apresiasi kepada para pemuda dan masyarakat yang telah berpartisipasi hingga festival dapat berjalan dengan baik. Ia juga mengakui bahwa dalam proses persiapannya tidak terlepas dari berbagai kendala.

Menurut Yusri, Desa Talaga memiliki banyak potensi, mulai dari budaya, pariwisata, hingga kuliner. Oleh karena itu, Pemdes melihat peluang besar untuk mengembangkan sektor pariwisata sebagai upaya meningkatkan ekonomi masyarakat dan Pendapatan Asli Desa (PAD).

Menjelang puncak festival, pemdes juga akan mengenalkan kuliner khas masyarakat, seperti kolang (makanan berbahan dasar pohon sagu), olahan dari kerang, sinyole, dan ikan kaam (ikan yang dimasak dalam bambu kemudian dibakar).

“Saya berharap, dengan adanya destinasi wisata ini, pemuda dan masyarakat bisa memaksimalkan potensi yang ada, serta terus mengembangkan sektor wisata di masa mendatang,” pungkasnya.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *