Halmaheranesia – Sore itu, angin laut di Pantai Talaga berembus pelan, membawa ketenangan. Sejumlah orang muda duduk santai di tepi pantai, mata mereka terpaku ke arah cakrawala, menanti matahari tenggelam perlahan.

Di kejauhan, seorang pria tua dengan sabar memotret istrinya yang duduk di atas sebuah pandopo kecil. Pandopo itu berdiri di atas hamparan pasir Desa Talaga, Kecamatan Ibu Selatan, Halmahera Barat.

Tak banyak bangunan mencolok, hanya empat bangunan kecil di atas pasir menghadap laut dan beberapa lapak sederhana juga deretan kursi kayu tersusun rapi.

Namun setiap sore, tempat ini tak pernah sepi. Warga dan wisatawan kerap datang menyaksikan indahnya matahari terbenam.

Pada Kamis, 3 April 2025 atau tepat lebaran Idulfitri hari keempat, halmaheranesia menyambangi tempat ini. Senja Talaga menyuguhkan gradasi warna yang memesona, oranye keemasan berubah perlahan menjadi ungu kebiruan.

Kamera-kamera ponsel pun seolah terangkat bersamaan, mengabadikan keindahan alam yang begitu alami.

Langit sore di pesisir Desa Talaga, Halmahera Barat, Maluku Utara. Foto (Rifki Anwar/halmaheranesia)

Tapi, pesona Pantai Talaga tak berhenti pada panorama langitnya. Pada waktu yang sama, masyarakat setempat menyelenggarakan Festival Pancora Beach, sebuah perayaan budaya yang hidup dari semangat warga dan kecintaan pada tradisi.

Di sini, wisatawan tak hanya datang sebagai penonton, tapi ikut larut dalam irama kehidupan lokal.

Di antara beragam kegiatan yang digelar seperti Susur Sungai, Ritual Pele Kie, Parade Perahu Layar, Penanaman Pohon Lindung, ada satu yang mencuri perhatian dan menyentuh sisi historis serta emosional masyarakat. Mereka menyebutnya Dudengo.

Tak Sekadar Permainan

Dudengo bukan sekadar permainan. Ia adalah seni, sejarah, sekaligus identitas masyarakat Gamkonora.

Dua orang laki-laki bertanding satu lawan satu, menggunakan kayu berbentuk salawaku dan gabah, dalam gerakan ritmis yang mengikuti hentakan gendang tifa. Permainan ini tak asal dimainkan, ia lahir dari filosofi dan peristiwa yang hidup sejak abad ke-13.

Peneliti Dodengo, Isgandi Lifu, menjelaskan Dodengo pertama kali dibawakan oleh Syekh Ishak Waliyullah.

“Menurut orang Gamkonora Syekh ini adalah orang Irak yang tinggal di Kota Bagdad. Nama Syekh Ishak Waliyullah itu panjangnya Syekh Ishak Waliyullah al-Baghdadi,” ungkap Isgandi.

Ia menyebutkan, Dodengo kemudian diajarkan oleh Syekh kepada Sangaji Gamkonora yang bernama Sahrin Malamo Rajamakawasa. Sangaji ini lalu menjadi anak angkat dari penyiar Islam tersebut.

Cerita serupa juga diungkapkan Sulba Taher, yang saat ini menjabat sebagai sekretaris Desa Talaga.

“Tradisi ini sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Dibawa oleh Syekh Ishak Waliyullah yang datang menyebarkan Islam dan mengajarkan bela diri di Gamkonora,” kata Sulba Taher.

Nama Dudengo sendiri berasal dari bahasa Gamkonora. Do berarti awal kata dan dengo-dengo berarti satu lawan satu. Tradisi ini hanya dimainkan pada 1 Syawal atau dalam suasana Hari Raya Idulfitri, sebagai bentuk perayaan dan silaturahmi antarempat desa bersaudara: Talaga, Gamkonora, Tahafo, dan Gamsungi.

“Selama puasa, kita menahan lapar dan haus. Tidak ada darah yang keluar. Maka saat lebaran, semangat dilepaskan lewat permainan Dudengo. Ini bukan tentang kekerasan, tapi tentang kebersamaan dan silaturahmi,” ungkap Sulba.

Meski kerap terjadi benturan, bahkan hingga berdarah, tradisi ini tak pernah melahirkan dendam.

“Kalau ada perkelahian, itu hanya di arena. Di luar tidak ada yang saling simpan hati. Setelah selesai, semua kembali seperti biasa,” tambahnya.

Menurut dia, Dudengo bukan sekadar atraksi. Ia adalah latihan spiritual, mental, dan fisik. Iringan gendang bukan sekadar musik, melainkan penyemangat yang membangkitkan semangat juang, seperti saat nenek moyang mereka menjaga tanah dan martabat.

Di Pantai Talaga, waktu seolah berjalan lebih lambat. Mungkin karena angin laut yang sejuk, senyum tulus warga, atau karena Dudengo yang menyatukan masa lalu dan masa kini dalam harmoni.

“Di tempat ini, orang-orang datang bukan hanya untuk melihat, tapi untuk merasakan, alam, budaya, dan sejarah yang hidup dalam tiap detik yang mengalir,” pungkasnya.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *