

Halmaheranesia – Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, menemui puluhan warga Kelurahan Sulamadaha, Ternate Barat, yang terdampak kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buku Deru-deru, Senin, 5 Oktober 2026.
Pertemuan berlangsung saat Pemkot Ternate melakukan peninjauan lokasi pascakebakaran yang terjadi sejak Sabtu, 3 Oktober 2026.
Warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Sulamadaha Terdampak Kebakaran Buku Deru-deru menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah.
Salah satunya adalah meminta Pemkot Ternate segera mencari lokasi baru dan memindahkan TPA Buku Deru-deru. Warga menilai keberadaan TPA selama ini telah memberikan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, terlebih ketika terjadi kebakaran yang menyebabkan asap tebal menyebar ke permukiman.
Rizal mengatakan Pemkot Ternate memahami kondisi yang dirasakan masyarakat Sulamadaha.
Ia menyebutkan, Wali Kota Ternate telah menetapkan status tanggap darurat sebagai langkah penanganan dampak kebakaran TPA Buku Deru-deru. Pemerintah, katanya, juga akan memperkuat penanganan di wilayah permukiman yang terdampak asap.
“Tadi Pak Wali Kota sudah perintahkan untuk segera buat posko medis maupun penanganan di setiap RT yang terkena dampak kebakaran,” kata Rizal.
Terkait permintaan warga agar TPA Buku Deru-deru dipindahkan, Rizal menyatakan Pemkot Ternate membuka ruang untuk mencari lokasi baru yang dinilai lebih representatif.
“Soal permintaan untuk memindahkan lokasi TPA, saya dan Kadis DLH sempat bercerita, kalau memang ini permintaannya, kita pindahkan saja. Tinggal beri kesempatan pemerintah mencari lokasi yang representatif, supaya tidak ada keluhan lagi dari masyarakat,” ujarnya.
“Kami menerima tuntutan warga, Pemkot Ternate kemudian membangun satu posko medis dan satu posko penanganan di wilayah terdampak sebagai bagian dari respons terhadap kondisi warga pascakebakaran,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Forum Masyarakat Sulamadaha Terdampak Kebakaran Buku Deru-deru, Rifaldi Drakel, mengatakan kebakaran yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memberikan dampak serius bagi warga.
Menurutnya, asap tebal dan bau menyengat menyebar hingga ke permukiman warga yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi TPA. Kondisi tersebut, kata dia, menyebabkan sejumlah warga, termasuk anak-anak dan lansia, mengalami sesak napas, pusing hingga iritasi mata.
“Hal ini menyebabkan aktivitas warga terganggu, dan warga tidak dapat beraktivitas di luar rumah termasuk mencari nafkah,” ujarnya.
Selain meminta pemindahan TPA, warga juga mendesak pemerintah melakukan pemadaman total dan pengendalian asap, menyediakan layanan kesehatan gratis, membagikan masker N95 dan vitamin, serta menempatkan pos pemadam kebakaran selama 24 jam di sekitar TPA.
Ia juga meminta kompensasi atas kerugian ekonomi akibat terganggunya aktivitas, termasuk ganti rugi atas sapi milik masyarakat yang disebut mati akibat paparan asap dan terjebak dalam kebakaran.
Ia turut mendesak adanya evaluasi dan audit terbuka terhadap pengelolaan TPA Buku Deru-deru dengan melibatkan masyarakat. Ia juga meminta aparat kepolisian mengusut dugaan adanya pihak yang sengaja membakar areal TPA hingga api menjalar ke kawasan permukiman.
“Kami memberikan waktu tujuh hari kepada Pemkot Ternate untuk menanggapi dan merealisasikan tuntutan tersebut. Jika tidak, maka akan melaporkan persoalan tersebut ke Kementerian Lingkungan Hidup,” pungkasnya.
close