

Halmaheranesia — Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, melepas 40 peserta program wisata rohani ke Yerusalem di Aula Pertemuan Batik Hotel Ternate, Senin, 5 Oktober 2026.
Wagub Sarbin menegaskan program wisata rohani tersebut harus dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip keadilan sosial, transparansi regulasi, serta penguatan moderasi beragama.
Ia menjelaskan, program wisata rohani yang mencakup umrah bagi umat Islam dan ziarah ke Yerusalem bagi umat Kristiani diprioritaskan bagi tokoh agama, pendeta, ustaz, dan pimpinan jemaat yang belum pernah mendapatkan kesempatan serupa.
Kebijakan tersebut, kata dia, dilakukan untuk memberikan kesempatan yang lebih merata kepada para pelayan umat di seluruh wilayah Maluku Utara.
“Program ini untuk keadilan sosial bagi masyarakat. Kami memprioritaskan mereka yang mengurus dan mendampingi umat selama ini, serta memastikan yang berangkat adalah mereka yang belum pernah mendapatkan kesempatan tersebut,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan adanya penyesuaian alokasi anggaran dan skema bantuan dalam pelaksanaan program tersebut. Pemprov Maluku Utara merasionalisasi besaran uang saku agar kuota peserta dapat ditingkatkan.
Menurutnya, dengan anggaran dalam DPA Biro Kesra yang relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peserta pada tahap pertama dapat ditingkatkan menjadi 40 orang.
Sarbin turut mengingatkan para pihak terkait agar memastikan seluruh pelaksanaan program sesuai regulasi keuangan daerah dan ketentuan administrasi kependudukan. Salah satunya terkait keabsahan KTP Maluku Utara bagi penerima manfaat untuk menghindari persoalan administratif di kemudian hari.
Di hadapan para peserta, Sarbin berpesan agar perjalanan ziarah tersebut tidak sekadar menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga menjadi momentum memperdalam nilai-nilai kerohanian serta memperkuat moderasi beragama.
Ia berharap para tokoh agama yang mengikuti program tersebut dapat berperan dalam menjaga toleransi, kerukunan, dan persatuan masyarakat Maluku Utara.
“Kami berharap semangat moderasi beragama dan nilai kemanusiaan terus dipertajam. Sepulang dari ziarah, para tokoh agama diharapkan menjadi corong perdamaian dan menjaga persatuan di tengah keberagaman,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Biro Kesra Setda Maluku Utara, Asrul Gailea, dalam laporannya menyampaikan, 40 peserta tahap pertama merupakan pimpinan agama yang mewakili tujuh denominasi gereja di Maluku Utara.
“Di antaranya GMIH, GPM, Katolik, GKPOM, GPDI, serta sejumlah denominasi lainnya. Seluruh fasilitas utama, termasuk pengurusan paspor dan akomodasi, ditanggung Pemerintah Provinsi Maluku Utara,” ujarnya.
Asrul menambahkan, Pemprov Maluku Utara juga telah menyiapkan pemberangkatan wisata rohani tahap kedua dengan kuota 40 peserta.
“Pemberangkatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada akhir November 2026,” pungkasnya.
close