

Di pesisir laut, sebuah rumah sederhana berdiri kokoh menghadap laut lepas. Gelombang datang beriringan, memukul tiang-tiang rumah, lalu pecah menjadi buih sebelum kembali ditarik ke tengah lautan. Aroma ikan asin menyeruak dari sela-sela rumah. Perahu-perahu nelayan terparkir di antara rumah warga, seperti kawanan burung yang sedang beristirahat setelah seharian mencari makan.
Jaring-jaring tergantung di halaman. Sebagiannya masih basah, menyisakan bau laut yang melekat pada tali-tali dan tangan para nelayan.
Di teras rumah itu, secangkir kopi mengepulkan asap tipis. Di sampingnya, sebatang kretek terjepit di antara dua jari. Seperti biasa, kaus dalam yang telah kusam menemani seorang lelaki duduk sendiri di kursi kayu. Namanya Abu.
Usianya memasuki lima puluh tahun. Wajahnya telah menjadi peta dari perjalanan panjang: panas matahari, asin air laut, angin kencang, dan malam-malam yang pernah dilewati tanpa kepastian. Ia duduk diam, memandang laut seperti seseorang yang sedang berbicara kepada sesuatu yang tak pernah menjawab dengan kata-kata.
Dari dapur terdengar suara minyak yang berdesis. Istrinya sedang menggoreng lauk sederhana untuk sarapan.
Dua anak mereka bersiap ke sekolah. Yang satu masih duduk di bangku sekolah dasar. Seragamnya telah rapi, meski beberapa bagian kain mulai memudar. Tas digendong di punggung, sepatu dikenakan seadanya. Tak lama kemudian, istrinya mengantar anak-anak itu berjalan kaki.
Setiap pagi, perjalanan menuju sekolah menjadi bagian dari perjuangan kecil keluarga itu. Matahari belum terlalu tinggi, tetapi keringat sudah membasahi kemeja anak-anak mereka. Abu melihat dari kejauhan. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menghisap kreteknya dalam-dalam.
Setelah rumah kembali sepi, Abu menatap langit. Ia mencoba membaca cuaca dari warna awan dan arah angin. Laut tidak pernah bisa ditebak. Dua hari sebelumnya, cuaca buruk membuat hasil tangkapannya nyaris tak ada.
Hari ini, ia berharap laut sedikit lebih ramah. Selama bertahun-tahun, laut menjadi satu-satunya tempat Abu menggantungkan hidup. Ikan-ikan hasil tangkapan dijual kepada tetangga atau dibawa ke pasar terdekat. Dari situlah beras dibeli, biaya sekolah dibayar, dan kebutuhan rumah tangga dipenuhi.
Perahu dan alat tangkap mulai dibereskan. Di atas meja, istrinya telah menyiapkan bekal seadanya. Nasi, lauk sederhana, dan air minum. Abu mengambilnya tanpa banyak bicara. Sebelum melangkah menuju perahu, ia menundukkan kepala. Doa menjadi pembuka setiap perjalanan. Kemudian ia berangkat seorang diri.
Di kampungnya, banyak nelayan mulai memilih pekerjaan lain. Ada yang menjadi buruh harian, bekerja serabutan, atau mencari penghasilan dari pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan. Laut semakin sulit ditaklukkan. Cuaca berubah cepat. Gelombang tak lagi mudah dibaca. Penghasilan pun tak pernah benar-benar pasti.
Namun Abu tetap memilih laut.
Bukan karena ia tidak takut. Melainkan karena ia tidak punya banyak pilihan. Dengan ijazah sekolah dasar yang ia miliki, mencari pekerjaan di usia hampir lima puluh tahun bukan perkara mudah. Dunia pertambangan yang tumbuh di tanahnya pun bukan tempat yang mudah dimasukinya. Usia, pendidikan, dan keterampilan menjadi batas yang tak terlihat, tetapi terasa begitu nyata.
Maka lautlah yang kembali ia datangi. Sebab di sanalah ia merasa masih memiliki kesempatan untuk membawa pulang sesuatu. Sesesuap nasi, sedikit uang. Dan harapan agar anak-anaknya bisa tumbuh lebih baik daripada dirinya.
Perahu Abu semakin jauh dari rumah. Daratan perlahan mengecil di belakang. Rumah-rumah tampak seperti titik-titik kecil. Suara mesin perahu bercampur dengan suara ombak.
Jaring-jaring mulai diturunkan. Laut terbentang luas di hadapannya. Abu duduk sejenak, Ia menatap langit untuk kesekian kalinya. Sebatang kretek dinyalakan. Asapnya perlahan menghilang dibawa angin. Di tengah laut yang luas, Abu memilih diam.
Tidak ada keluhan. Tidak ada cerita tentang betapa berat hidup yang sedang dijalani. Tidak ada kalimat tentang biaya sekolah anak-anak, harga kebutuhan pokok, atau hasil tangkapan yang semakin tak menentu. Barangkali ia tahu, tidak semua kesedihan harus diceritakan. Tidak semua kekhawatiran harus diperlihatkan. Dan tidak semua perjuangan seorang ayah harus disaksikan oleh keluarganya.
Abu hanya menarik napas panjang. Udara laut memenuhi dadanya. Baginya, tidak ada ketenangan lain selain laut dan angin yang sejak lama menjadi teman perjalanan. Di sanalah ia belajar bahwa kehidupan seperti gelombang: kadang meninggi, kadang merendah, kadang menghantam keras, tetapi selalu bergerak menuju pantai.
Ia kembali menatap jaring. Menunggu ikan-ikan datang, menunggu rezeki yang tak pernah bisa dipastikan. Menunggu sesuatu yang bisa dibawa pulang untuk anak-anaknya.
Sementara jauh di sana, rumah kecilnya tetap berdiri menghadap laut. Mungkin sore nanti, ia akan pulang dengan hasil tangkapan yang cukup. Mungkin juga tidak.
Namun satu hal yang selalu ia bawa pulang adalah harapan.
Harapan agar besok masih ada nasi di atas meja, harapan agar anak-anaknya tetap bersekolah. Harapan agar mereka kelak tidak perlu menghabiskan hidup dengan menebak arah angin dan membaca gelombang.
Abu kembali menghisap kreteknya. Kemudian ia menundukkan kepala. Doa-doa kembali terucap pelan dari bibirnya, lalu tenggelam di antara deru ombak dan hembusan angin. Di laut itu, seorang ayah sedang berjuang.
Tanpa banyak kata. Tanpa meminta siapa pun memahami. Sebab terkadang, seorang ayah memilih diam bukan karena tak punya cerita. Ia diam karena ada keluarga yang harus tetap hidup. (*)
Ternate, 8 Oktober 2026.
Penulis Sofyan A.Togubu, adalah penulis buku Renjana dan pegiat literasi di Kota Ternate, Maluku Utara.
close