

Surat Terakhir Mawar
Namamu yang familiar di bibir
selalu kupanggil saat sendirian di sini
namun, kau tak pernah datang
aku harus menanggung beban sendirian
tanpa teman, tanpa keluarga, hanya ditemani sisir
berharap dapat mempercantik diri agar kau ingin kembali.
Sudah lama tak ketemu, aku gila tanpamu
Apa kurangnya diri ini?
sudah kulakukan semua hal agar kau kembali
sekarang, aku terkurung di ruang kubik berwarna putih
menghiasi dinding dengan sejuta perasaan yang tak pernah dilihat olehmu
suatu hari aku, si Mawar yang tak pernah kau idamkan, melihatmu di balik kaca
melihatmu menggandeng tangannya.
Siapa dia?
Begitu anggun melebihi Mawar yang dikenal cantik
Mawar terlihat antik dibanding Anggrek putih penuh arti.
Namamu yang familiar di bibir
kuucapkan saat kita bertemu berbatas kaca tebal
bahkan aku seorang manusia bebal
tak bisa pecahkan pembatas di depan mata.
Aku terlihat bodoh di depan orang barumu itu yang polos
tak tahu apa-apa tentang aku yang goblok
sekarang saatnya si Mawar pergi
membawamu menjadi cinta terakhirku.
2025-2026.
___
Benar Berbakat
Mereka bilang “coba lagi”
Tapi untuk apa?
Mati lagi? Malu lagi?
Ini terus terulang.
Banyak yang tinggi
beda dengan aku yang pendek begini
tapi aku memiliki kepedean seperti mereka
itu sangat memalukan.
Yang bisa kulakukan sekarang hanya mencoba
latihan maupun belajar mungkin tak berguna
tetapi lebih baik dari tidak sama sekali
tak ingin kupermalukan diri ini lagi.
Tak bisakah aku lahir dengan bakat seperti mereka?
Mengatur kata memang mudah
tapi caraku berbeda dengan mereka.
Pulau, 2024.
____
Mencari Jalan
Papa, aku belum siap
melanjutkan hidup seorang diri
tanpa kompas
dari tanganmu yang selalu menuntunku pada jalur yang benar
engkau tahu,
aku kerap tersesat dalam simpang siur ketidakpastian.
Pa, ketahuilah
ada bayang-bayang pekat yang selalu menghantui benarku
Bagaimana jika langkahku salah menapak?
Bagaimana jika kuseduh racun kegagalan
pada cawan mimpi dan harapan yang telah kauukir untukku?
Jalan di hadapanku terbentang kabur
tak sanggup kupilih tanpa suaramu.
Jika takdir memintaku
mendaki bukit dan menyeberang lembah
lewat jalan yang jauh lebih panjang,
maukah kau tetap menyalakan lentera?
Membantuku merintis jalan setapak
hingga asa ini menjelma nyata.
Papa, aku takjub pada caramu
menemukan terang di tengah kabut paling pekat
maka, kumohon, jangan pernah lelah merangkulku
jangan biarkan aku terlempar
menjadi musafir yang tersesat dan sendirian
seperti bentang sepi yang pernah kaujelajah dahulu kala.
Aku selalu membayangkan dirimu di masa muda
begitu kokoh bagai karang yang diterjang ombak
merintis jalan seorang diri tanpa tongkat penopang.
Engkau tahu, darahku tak sekuat dirimu
yang harus bernapas sendirian
di tanah rantau yang riuh dan asing ini.
Apakah hidup ini memang selamanya begini, Pa?
Sebuah perjalanan abadi
terus mencari jalan tanpa akhir?
Lembah, 2026.
____
I’ve Always Wanted A Sister
I’ve always wanted a sister
Because i can play dress up with her
I can talk about boys with her
And I can share my old toys with her.
But it all change when you were born.
I’ve waited for a long time to see a girl comes out of mama’s womb.
But the one who comes out is a boy who like to play with bombs.
I’m almost drowning because of you,
Oh, I wished I’ve pushed you too.
It turns out I can play dress up with you,
But we used blankets and some old jackets.
I do talk about boys with you, and you’d tell me about the girl you liked too, as a barter.
And sometimes you’d play with my bicycle because you like it better.
Seems like the one I’ve been waiting to comes out of mama’s womb is you.
It has always been you,
Not a baby girl who’d cry if I hit her too hard.
2025.
____
Penulis Nurul Arindi Aulia lahir di Ternate pada 24 September 2011. Saat ini, ia tercatat sebagai siswi kelas X di MAN Insan Cendekia Halbar. Di waktu luangnya, Arindi gemar membaca buku–yang sering kali menjadi sumber inspirasi utama dalam melahirkan karya-karyanya. Memiliki ketertarikan yang besar terhadap bahasa asing, ia bercita-cita menjadi seorang diplomat yang membawa manfaat bagi negaranya.
close