

Halmaheranesia — Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, membuka sejumlah kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara.
Kegiatan tersebut di antaranya Kemah Generasi Berkarakter, Kemah Bakti Pramuka Tingkat Daerah, dan Kirab Budaya Kieraha Maluku Utara sebagai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Provinsi Maluku Utara di Sofifi, Jumat, 9 Oktober 2026.
Sarbin menegaskan pendidikan tidak cukup hanya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual. Penguatan karakter, integritas, kejujuran, dan akhlak dinilai menjadi hal penting dalam mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045.
Menurut Sarbin, dunia pendidikan telah menunjukkan kemajuan dalam membangun kecerdasan intelektual peserta didik. Namun, persoalan karakter dan integritas masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.
“Dari sisi kognitif, kita telah mencapai banyak kemajuan. Berbagai materi pelajaran telah diajarkan dan dikuasai anak-anak negeri ini. Namun, bagaimana dengan integritas yang kita rasakan hari ini,” ujarnya.
Ia menilai persoalan karakter, akhlak, dan moral masih jauh dari harapan. Karena itu, pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki kejujuran dan tanggung jawab.
Sarbin mencontohkan persoalan pemalsuan identitas pendidikan, ketika seseorang mengaku pernah bersekolah atau memiliki ijazah yang sebenarnya tidak dimiliki. Menurutnya, persoalan tersebut mencerminkan pentingnya integritas dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Karena itu, ia berharap Kemah Generasi Berkarakter tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial atau ruang untuk mempelajari teori. Kegiatan tersebut harus menjadi sarana menanamkan nilai-nilai karakter melalui praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan secara teori di ruang kelas. Nilai-nilai tersebut harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar kejujuran dan integritas benar-benar tertanam,” katanya.
Selain integritas, Sarbin juga menekankan pentingnya menanamkan sikap menghargai keberagaman sejak dini. Menurutnya, perbedaan suku, agama, dan latar belakang merupakan bagian dari kehidupan yang harus diterima serta dihormati.
Ia menyebutkan, masyarakat Maluku Utara yang berasal dari beragam suku dan agama harus mampu hidup berdampingan secara harmonis. Perbedaan tempat ibadah dan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun kehidupan bersama yang damai.
Sarbin berharap para OSIS dan peserta kemah dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk bertukar pengalaman, saling melengkapi, serta menyerap nilai-nilai positif yang nantinya diterapkan di sekolah masing-masing.
Ia berharap, cita-cita Indonesia Emas 2045 harus didukung generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, akhlak, dan spiritualitas.
“Kita ingin mewujudkan pendidikan yang menghasilkan generasi dengan kemampuan kognitif yang baik, akhlak yang mulia, dan nilai spiritual yang kuat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara, Abubakar Abdullah menambahkan, kegiatan ini diikuti ratusan siswa tingkat sekolah menengah, termasuk sekitar 40 siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), serta didampingi kurang lebih 200 pendamping.
Ia memaparkan, kemah karakter bertujuan membentuk pelajar yang mandiri, tangguh, dan berjiwa kepemimpinan. Peserta mendapat pembekalan tentang literasi, numerasi, kesiapsiagaan bencana, kewirausahaan, etika bermedia sosial, serta pencegahan perundungan.
Selain itu, kata dia, ada juga diskusi tentang penggunaan pakaian adat Maluku Utara di sekolah yang melibatkan unsur kesultanan, pakar sosiologi, perancang busana, dan tokoh hukum adat. Hasil diskusi ditargetkan menjadi dasar penyusunan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang penerapan pakaian adat di lingkungan sekolah.
“Rangkaian kegiatan ini diharapkan memperkuat karakter generasi muda sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal dan menjaga persatuan di Maluku Utara,” pungkasnya.
close