Di tepian pantai Sasa yang lengang, berdiri sebuah bangunan pasar tua yang tampak ringkih. Temboknya mulai kusam, tempat jualan terbengkalai, atap bangunan pun dibiarkan keropos di sejumlah bagian.
Tepat di pintu masuk pasar tersebut, seorang perempuan bertarung hidup pada sebuah meja berukuran sekitar 3×2 meter.
Di atas meja sederhana miliknya, kehidupan menjelma rempah seperti bawang merah, rica, tomat, ikan ngafi (teri) hingga pangan lokal berupa sagu popeda, kenari, maupun pisang.
Pasar Sasa, Kota Ternate, Maluku Utara, disitulah tempat perempuan asal Makean, bernama Asmi Abdurahman berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Saat halmaheranesia tiba di Pasar Sasa, Senin, 14 September 2026, Asmi tampak sedang duduk bersama seorang cucu perempuannya yang masih mengenakan seragam SMP.
Di sana, pasar memang sangat sepi, nyaris tak ada pembeli. Tidak seperti pasar pada umumnya. Hanya sesekali, orang-orang yang ia kenal atau keluarganya sendiri yang datang membeli barang dagangannya.
Menurut Asmi, pasar tersebut sebelumnya ramai para pedagang, tapi semenjak tak diurus, semua pedagang memilih pergi, hanya ia yang bertahan di tempat itu.
“Saya jualan di sini sudah sekitar 10 tahun, dulu ramai, sekarang so (sudah) sunyi. Dulu biasa dapat rezeki banyak, bahkan bisa sampai sejuta, tapi sekarang, seratus atau dua ratus ribu sangat susah,” ucap Asmi.
“Kadang juga dapat hanya Rp 50 ribu, bahkan suami bilang hanya dapat Rp 20 ribu, biar begitu, karena jualan kadang tidak habis. Tapi tong (kami) masih tetap bertahan di sini, karena cuma ini tong punya tempat bajual,” sambungnya.
Asmi bercerita semenjak tiba di Ternate sekitar tahun 1990-an, perempuan lima orang anak itu bersama suami sudah menjalani aktivitas tersebut.
Ia mengaku barang dagangan yang ia jual dibeli dari pihak ketiga. Saat pasar makin sepi, jualannya sering membusuk karena tidak habis dijual.
“Sekarang tong beli barang dagangan di pihak ketiga sudah tidak banyak-banyak lagi, palingan hanya tiga sampai empat kilo rempah, karena takut jualan busuk, nanti tong rugi, modal tara (tidak) balik,” ujarnya.
Demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah dua anak perempuannya yang masih berada di bangku SMA, Asmi kadang harus pergi ke Makean untuk berjualan di sana.
“Hasil jualan di Makean alhamdulilah bisa membantu, kalau hanya bertahan di sini (Pasar Sasa), tong tidak bisa bayar biaya sekolah anak dan penuhi kebutuhan hidup sehari-hari, karena sunyi dan jualan sering busuk,” katanya.
Menjadi perempuan seperti Asmi memang tak mudah, bersama suaminya, mereka harus punya cara untuk bisa bertahan hidup.
Sesekali, suami Asmi yang menggantikan dirinya berjualan di Pasar Sasa, sementara Asmi harus pergi ke Makean membawa sebagaian dagangan mereka untuk dijual di sana.
Embusan angin siang itu bertiup pelan, riuh gelombang air laut terdengar di kejauhan, sementara matahari terus menyalakan terik dan nyaris membakar cemas di wajah perempuan tersebut.
Di sela-sela pembicaraannya, mata Asmi sempat berkaca-kaca. Meski begitu, ia tampak tidak pernah risau. Ia percaya selama tubuhnya masih kuat bergerak, selalu ada cara untuk merayakan kehidupan.
Asmi menjelaskan selain pasar yang sunyi, faktor lain yang membuat jualannya sering membusuk karena banyak pedagang yang menempati jalan umum atau bahu jalan.
Akibatnya, para pembeli tidak lagi masuk ke lokasi pasar. Selain itu, kondisi pasar yang memprihatinkan membuat pembeli tidak bergairah untuk datang ke tempat itu.
“Dalam satu minggu, dua sampai tiga hari pembeli tara datang belanja, kalau ada yang beli, itu pun dapat hanya Rp 20 ribu, saya bilang sabar-sabar saja,” tuturnya.
Asmi percaya, di tempat yang jarang dikunjungi orang sekali pun, selama ia masih berusaha, selalu ada cara menghapus cemas, menemui rezeki setelah melewati hari-hari yang kalut.
Dengan nada suara yang gemetar, Asmi berharap gedung yang ia tempati bisa segera mendapat perhatian untuk diperbaiki, agar situasinya bisa kembali seramai dulu.
“Harapannya dorang (mereka-pemerintah) bisa perbaiki pasar ini, lalu kasih masuk pedagang di sini, biar ramai, supaya torang bisa dapat rezeki, walaupun tak banyak,” pungkasnya.
Di pintu masuk Pasar Sasa yang sunyi, dan di atas meja kecil yang sederhana, Asmi belajar menyemai nasib–memeluk kesebarannya yang menahun, serta berusaha menjaga bara api di tungku dapur agar tak padam.
Di tempat itu, kesepian benar-benar tak lagi menakutkan. Kesepian yang sebenar-benarnya adalah ketika Asmi tak lagi dipedulikan pemerintahnya sendiri.





