Kota ini memang merah. Rumah-rumah berwarna merah, masjid-masjid beserta kubahnya berwarna merah, gereja, pagar-pagar, mobil, gang-gang, sepeda, tangga-tangga—semuanya berwarna merah. Hampir semua sudut kota telah berhasil dimerahkan.

Konon, insiatif memerahkan kota ini atas desakan Raja. Semua pemuka adat maupun agama juga tidak bisa berbicara apa-apa. Perintah menjadikan semuanya merah dikarenakan Raja menyukai warna merah. Kata Raja, “Merah itu berani seperti orang-orang kita yang berani.”

Tapi Raja juga punya alasan lain kenapa harus merah. Raja tidak serta-merta mengatakan merah adalah kebanggaannya. Ia malah membenarkan merah sebagai satu-satunya warna yang menjadikan kota ini bermartabat. Dulu, dulu sekali. Konon, orang-orang asing yang tiba di daerah ini, mereka akan takjub ketika melihat segerombolan laki-laki bermata merah. Siapa saja yang bermata merah, orang-orang asing pasti menundukan kepala serupa orang Jepang memberikan salam.

Di daerah ini laki-laki yang bermata merah adalah laki-laki yang berani, pikir raja. Dulu memang begitu. Laki-laki yang tidak meneguk segelas tuak, jangan panggil dia merah (dulu sebutan berani memang begitu). Jadi, laki-laki yang sudah meneguk tuak maka di dalam matanya akan terlihat seperti naga yang menyemburkan api dari mulutnya. Laki-laki siapa saja, mereka lebih percaya pada merahnya mata.

Sampai cerita ini turun ke masa berikut, kota ini akhirnya drastis menjadi merah atas sejarah yang menurut Raja—harus dipercaya.

***

Begini ceritanya. Sebelumnya, kota ini biasa-biasa saja. Sebagaimana kota-kota pada umumnya, jika jauh ditarik ke belakang, semuanya hanyalah hutan belantara, pepohonan yang lebat, binatang-binatang berkeliaran, serta orang-orang yang berkebun secara komunal. Kota itu berangkat dari alam raya. Ketika manusia menemukan mesin dan lebih percaya pada cahaya lampu, hutan menjadi tempat terasing yang paling asing. Hutan berubah menjadi kota dan didirikanlah gedung-gedung, sekolah, pasar, halte, pelabuhan, dan lainnya.

Pada mulanya, di dusun ini hanya terdapat beberapa orang. Mereka terdiri dari kepala suku, istri kepala suku, anak kepala suku, istri anak kepala suku, dan cucu-cucu dari kepala suku. Mereka hanya kerja berburu babi dan menombak ikan di sekitar pulau. Setiap senja tiba, mereka berbarengan duduk di bawah pohon beringin seraya membakar ranting-ranting kering untuk memasak ikan dan babi buruannya.

Lalu, cucu-cucu kepala suku yang lain akan ke hutan dan setelah kembali mereka sudah mabuk sempoyongan. Di dalam mata mereka akan merah dan sangat merah, seolah-olah tak ada mata yang lebih merah daripada merahnya mata mereka.

Tidak begitu jelas kenapa mereka sekonyong-konyong menjadi mabuk dan kemudian membuat matanya merah. Hanya saja menurut beberapa penuturan tetua, mereka biasanya mengunyah dan mencecap salah satu buah yang sampai sekarang belum bisa ditemukan di hutan manapun. Buah-buah itu berbuah begitu saja. Pohon-pohonnya pun bertumbuh begitu saja.

Buah itu kalau tidak salah namanya: buah merah atau buah memabukan, pikir salah satu cucu kepala suku. Karena setiap kali mereka akan memanggang babi dan ikan, mereka terlebih dahulu mencari buah itu untuk bersenang-senang menjemput masakannya.

“Makan ikan dan babi paling sedap kalau mata sudah merah,” kata cucu kepala suku yang lainnya. “Sedap, eh!”

Mereka akan tertidur sangat lama ketika usai memakan babi dan ikan. Ketika mereka bangun, mata mereka akan kembali seperti biasa. Mereka akan tiba-tiba menjadi laki-laki yang paling penakut. Dari sinilah, para pemuka adat menyutujui; bahwa sesuatu yang merah itu hendak membuat mereka berani, dan paling berani. Lalu, mereka terbiasa dengan sesuatu yang merah. Perahu-perahu kemudian dimerahkan, kuku-kuku dimerahkan, sapi-sapi peliharaan juga mereka merahkan. Semua merah, serba merah.

Suatu malam, sang pimpinan adat di semenanjung terpengkur. Ia duduk bergulung seraya menghadap laut yang biru. Ia menyendiri di sana semacam berbicara dengan diri sendiri. Tiga hari berlalu, ia kembali dalam keadaan biasa-biasa saja. Ketika orang-orang bertanya apa maksud ia menepi di sana, ia hanya menjawab: “Saya ingin mencari kebenaran tentang warna merah.”

Orang-orang takjub, tapi tak bisa berbicara. Diam, hanya diam. Sampai sang tetua kembali berbicara, “Merahkan semua kampung ini!” Orang-orang pun melampiaskan kegembiraannya, memukul pohon-pohon, dan memukul kayu-kayu kering di atas tanah, . Semacam gembira telah menemukan Tuhan barunya. Apapun namanya, mungkin mereka akan berkata Tuhan kita adalah merah, ya warna merah.

Musik Yanger bertalu-talu, juga hujan yang mulai turun satu-satu. Mereka berpesta, merayakan sesuatu yang telah mereka nantikan beberapa bulan yang lalu. Dan saat-saat yang paling dinantikan, tak hanya perahu yang berwarna merah, kini rumah-rumah pun dimerahkan. Di dusun ini, merah kemudian disakralkan.

***

Ketika dusun ini telah menjadi kota, sesuatu yang bernama merah masih tetap tertinggal. Beberapa peninggalan semacam perahu merah masih dirawat oleh seorang pemuda yang konon keturunan asli pimpinan adat. Ia percaya pada perkataan moyangnya, bahwa merah akan membuat ia dan anak-anaknya selalu merasa berani. Ia pun merawat merah, merawat berani.

Hingga suatu ketika, sang pemuda terpilih menjadi pimpinan di kota ini, ia lalu mengganti arah pemerintahan. Ia tiba-tiba membikin sebuah aturan. Lalu tibalah saatnya, ia mengukuhkan dirinya sebagai raja.

“Panggil saya Raja!”

Perintah pun turun bagai anak panah yang menikam hati rakyatnya. “Merahkan semua sudut kota ini!” Orang-orang bergembira tapi hati mereka tak bergembira. Kemudian rumah-rumah dimerahkan, juga gereja, masjid, tangga-tangga, panggung, halte, terminal, dan istananya sendiri juga dimerahkan.

Sebulan kemudian ia menyuruh para suruannya untuk membuat sebuah agenda besar. Ia menyebutnya: Festival Merah.

“Hmm… kalau nanti orang-orang bertanya, apa maksud kegiatan ini, katakan saja, ini untuk mengabadikan sejarah merah.”

Maka jadilah, setiap tahun, Festival Merah selalu dirayakan. Sebagai simbol perayaan, seorang pemuka adat menyarankan agar kepala sapi dijadikan sebagai maskot pagelaran. Lalu, tanpa menunggu kesepakatan, kepala sapi pun ikut dimerahkan.

Kota yang berwarna merah pun dieluk-elukan sampai ke kota-kota lainnya. Entah karena apa, kota-kota tetangga juga ikut membuat kotanya menjadi berwarna. Mendadak, sejumlah koran hanya menyebutkan: beberapa kota menggelar Festival Kuning dan Festival Kuning-Hitam.

Namun, datang juga suatu hari yang menyayat hati. Sang Raja ini akhirnya tiba-tiba mengerti.

Maksud saya, bukan merah. Maksud saya, warna biru. Laut kita luas, jadi pakailah warna biru. Saat-saat itu, banyak yang keliru dan saya menyebutnya salah….

Ini mungkin kesalahan sang Raja yang baru membaca secarik surat yang ditulis oleh moyangnya berabad-abad lalu. “Akhh… Ganti-ganti, birukan semua sudut kota ini!”

____

Cerpen Rajif Duchlun | cerpen ini sudah pernah terbit pada tahun 2015.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *