

Dahulu, Kampung Ibah hanyalah sebuah titik kecil di antara bentangan laut dan rimbunnya hutan. Namanya jarang disebut orang dari kampung seberang, apalagi dikenal oleh mereka yang tinggal jauh di kota. Untuk mencapainya, seseorang harus menempuh perjalanan laut berjam-jam, menunggu cuaca bersahabat, lalu melanjutkan perjalanan melalui jalan tanah yang licin ketika hujan turun.
Namun, bagi orang-orang yang lahir dan tumbuh di sana, Kampung Ibah adalah dunia yang utuh. Mereka tidak merasa tertinggal. Tidak pula menganggap hidup mereka kurang berharga hanya karena jalan-jalan belum beraspal, rumah-rumah belum bertingkat, atau cahaya malam masih bersahaja.
Di kampung itu, kesejahteraan tidak diukur dari banyaknya uang yang tersimpan di dalam peti, melainkan dari seberapa luas pintu rumah terbuka bagi orang lain.
Hutan tumbuh rapat di belakang permukiman. Pohon kelapa berjajar mengikuti arah angin, sementara pohon pala tumbuh di sela-sela pepohonan lain. Di musim buah, mangga dan rambutan bergelantungan seperti kemurahan hati alam yang tak pernah mengenal hitungan. Siapa pun boleh datang, memetik secukupnya, lalu pulang dengan tangan penuh.
Tak ada yang bertanya berapa harga buah yang dibawa. Tak ada pula yang memasang papan bertuliskan Dilarang Mengambil. Orang-orang tahu, hutan itu adalah pemberian yang harus dijaga bersama.
Jika seseorang membutuhkan ikan, ia cukup mendatangi tetangga yang baru pulang melaut. Jika seorang ibu kehabisan beras, ia bisa mengetuk pintu rumah sebelah. Jika ada keluarga yang mengadakan hajatan, orang-orang datang tanpa menunggu undangan. Mereka membawa apa yang bisa dibawa, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, lalu pulang setelah semua urusan selesai.
Bagi mereka, memberi bukanlah kehilangan. Justru dari situlah kebahagiaan menemukan rumahnya.
Di antara kehidupan yang sederhana itu, hidup seorang lelaki tua bernama Tete Udin.
Usianya telah menginjak delapan puluh tahun. Punggungnya mulai membungkuk, rambutnya memutih, dan langkahnya tak lagi sekuat dahulu. Namun, setiap pagi, selama tubuhnya masih sanggup berdiri, ia tetap berjalan ke kebun. Ada kalanya ia pulang membawa beberapa buah pala, ada kalanya hanya membawa parang dan cerita tentang pohon-pohon yang pernah ia tanam puluhan tahun silam.
Orang-orang menghormatinya bukan semata-mata karena usianya. Tete Udin adalah salah seorang saksi hidup tentang bagaimana kampung itu tumbuh, bagaimana keluarga-keluarga pertama membuka lahan, dan bagaimana para leluhur membangun rumah di antara hutan dan laut.
Ia hanya tamat sekolah dasar. Tetapi, jika berbicara tentang tanah, musim, pohon, atau tabiat manusia, orang-orang sering kali memilih diam untuk mendengarkannya.
Baginya, sekolah tidak selalu memiliki dinding dan papan tulis. Ada banyak hal yang hanya bisa dipelajari dari tanah yang digarap, laut yang diseberangi, dan kehidupan yang dijalani dengan kesabaran.
Rumah Tete Udin cukup besar untuk ukuran Kampung Ibah. Rumah itu dihuni bersama istrinya dan seorang anak laki-laki. Beberapa kamar dibiarkan kosong, sengaja disiapkan untuk keluarga jauh yang datang bersilaturahmi. Ia tidak pernah menganggap kamar kosong sebagai ruang yang sia-sia. Suatu hari, katanya, kamar itu akan dibutuhkan seseorang.
Di halaman rumahnya tumbuh pohon mangga yang usianya hampir menyamai usia anaknya. Ketika musim berbuah tiba, anak-anak berlarian di bawahnya, berebut buah yang jatuh. Tete Udin hanya tertawa melihat mereka. Baginya, pohon yang baik bukan pohon yang paling banyak menghasilkan uang, melainkan pohon yang mampu membuat banyak orang bahagia.
Kampung itu dihuni sekitar seratus kepala keluarga. Para pemudanya sibuk bersekolah, sebagian melanjutkan pendidikan ke luar daerah, sementara yang lain membantu orang tua di kebun dan melaut. Mereka mengenal satu sama lain, mengetahui siapa yang sedang sakit, siapa yang membutuhkan pertolongan, dan rumah mana yang harus didatangi ketika kabar duka menyebar.
Kriminalitas hampir tak pernah menjadi bahan percakapan. Pintu rumah terkadang dibiarkan terbuka. Anak-anak bermain hingga senja tanpa kecemasan yang berlebihan. Pada malam hari, suara percakapan dari beranda rumah bersahutan dengan debur ombak.
Kampung Ibah tidak memiliki banyak hal yang bisa dipamerkan kepada dunia. Namun, ia memiliki sesuatu yang perlahan mulai menghilang dari tempat-tempat lain: rasa cukup.
Tahun-tahun berganti. Anak-anak tumbuh dewasa, sebagian kembali ke kampung dengan gelar sarjana, sebagian lagi menetap di kota untuk mencari pekerjaan. Jalan tanah masih menjadi penghubung utama, sementara perjalanan menuju kota tetap bergantung pada laut dan cuaca.
Sesekali, keluarga Tete Udin dari luar daerah datang berkunjung. Mereka harus menghadapi jalan becek, kendaraan yang sulit melintas, dan perjalanan panjang yang menguras tenaga. Setiap kali mendengar keluhan tentang akses jalan, Tete Udin hanya tersenyum tipis.
“Jalan memang penting,” kata Tete Udin, suatu sore kepada keponakan.
“Tapi jangan sampai kita terlalu sibuk mencari jalan keluar, lalu lupa jalan pulang.”
Keponakannya tertawa kecil. Ia mengira kalimat itu hanya nasihat seorang lelaki tua yang gemar berbicara dengan perumpamaan.
Tak seorang pun menyangka, bertahun-tahun kemudian, kalimat itu akan kembali terngiang dengan makna yang berbeda.
Suatu hari, kabar besar tiba di Kampung Ibah. Di bawah tanah yang selama ini mereka pijak, tersimpan cadangan bijih emas dalam jumlah yang sangat besar. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut, menyeberangi laut, lalu sampai ke telinga orang-orang yang selama ini tidak pernah mengetahui keberadaan kampung tersebut.
Orang-orang asing mulai berdatangan. Mereka mengenakan pakaian rapi, membawa peta, dokumen, dan perhitungan yang tak dipahami sebagian besar warga. Mereka berbicara tentang potensi, investasi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, serta masa depan yang lebih baik.
Bagi mereka, Kampung Ibah adalah kawasan yang menjanjikan keuntungan. Bagi sebagian warga, kabar itu seperti pintu yang akhirnya terbuka setelah sekian lama tertutup.
Pembangunan jalan menjadi pembicaraan pertama. Pemerintah dan pihak investor mulai berkoordinasi. Jalan yang selama puluhan tahun dikeluhkan akan dibangun agar kendaraan dapat masuk, hasil kebun mudah diangkut, dan perjalanan menuju kota tidak lagi menyulitkan.
Siapa yang berani menolak jalan?
Pertanyaan itu beredar dalam pertemuan-pertemuan warga, seolah-olah hanya ada satu jawaban yang masuk akal.
Namun, Tete Udin memilih mengangkat tangannya.
“Kalau jalan ini dibangun, apa yang akan kita bayar sebagai gantinya?” tanyanya.
Ruangan mendadak hening.
Seorang perwakilan investor menjelaskan bahwa pembangunan akan membuka kesempatan baru. Akan ada pekerjaan, usaha, fasilitas, dan kemudahan transportasi. Warga tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencapai kota. Anak-anak akan lebih mudah bersekolah. Hasil bumi dapat dijual dengan harga lebih baik.
Semua terdengar masuk akal. Tete Udin mendengarkan tanpa menyela. Setelah penjelasan selesai, ia kembali bertanya.
“Kalau suatu hari tanah kami habis dijual, pohon-pohon ditebang, dan kebun tak lagi ada, apa yang akan kami kerjakan?”
Tak ada jawaban yang benar-benar menenangkan hatinya. Ia tahu, jalan bukan sekadar jalan. Jalan akan membawa kendaraan, orang-orang baru, kebiasaan baru, dan kebutuhan yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal. Jalan akan mendekatkan kampung dengan dunia luar, tetapi ia juga bisa membuka pintu bagi sesuatu yang tak mudah dikembalikan.
Ia tidak menolak kemajuan karena membenci perubahan. Ia hanya takut masyarakatnya terlalu cepat menyambut sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Di matanya, tanah bukan sebidang ruang yang bisa diberi harga, lalu dilepaskan begitu saja. Tanah adalah tempat ayah dan ibunya pernah menanam, tempat anak-anak mereka tumbuh, dan tempat para leluhur beristirahat setelah perjalanan panjang kehidupan.
Ia teringat kuburan-kuburan tua di sekitar rumah penduduk. Gundukan tanah sederhana yang ditumbuhi rumput itu tidak pernah meminta apa-apa. Setiap kali melewatinya, orang-orang tahu bahwa kehidupan hari ini bertumpu pada mereka yang telah pergi.
“Kalau kita menjual semuanya, nanti kita pulang ke mana?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Namun, bagi sebagian besar warga, masa depan tidak bisa terus menunggu. Mereka membutuhkan jalan, pekerjaan, sekolah yang lebih baik, dan penghidupan yang menjanjikan. Mereka lelah menghadapi kesulitan yang sama dari generasi ke generasi.
Orang-orang terdekat mendatangi Tete Udin. Mereka membujuknya agar memahami keadaan. Mereka menjelaskan bahwa perubahan tak mungkin dihindari, bahwa masyarakat membutuhkan kesempatan, dan bahwa pembangunan dapat memberi kehidupan yang lebih layak bagi anak cucu.
Tete Udin tidak lagi banyak membantah. Di hadapan orang-orang yang dicintainya, ia akhirnya memilih diam.Bukan karena keyakinannya telah berubah. Bukan pula karena seluruh kekhawatirannya terjawab. Ia hanya menyadari bahwa suara seorang lelaki tua tak selalu mampu menghentikan langkah zaman.
Maka, jalan itu pun dibangun. Mula-mula, suara mesin terdengar jauh di pinggir kampung. Pohon-pohon tumbang, tanah digali, bukit dipotong, dan jalur yang dahulu hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki mulai terbuka untuk kendaraan.
Beberapa lahan warga harus dilepaskan. Ada yang menjualnya dengan berat hati, ada pula yang menerima uang ganti rugi dengan senyum lebar. Untuk pertama kalinya, sejumlah keluarga memegang uang dalam jumlah yang belum pernah mereka bayangkan.
Uang itu digunakan untuk membeli sepeda motor, memperbaiki rumah, membiayai pendidikan anak, dan memenuhi berbagai kebutuhan yang selama ini tertunda. Tak seorang pun bisa menyalahkan mereka karena merasa bahagia.
Jalan yang dulu becek kini menjadi jalur kendaraan. Perjalanan ke kota semakin mudah. Keluarga yang dahulu jarang berkunjung mulai datang lebih sering. Barang-barang yang sebelumnya sulit diperoleh kini tersedia di warung-warung kecil.
Kampung Ibah mulai dikenal.
Rumah-rumah baru bermunculan. Beberapa bangunan lama diganti dengan tembok dan atap seng. Anak-anak muda yang dahulu membantu orang tua di kebun mulai bekerja sebagai pegawai perusahaan. Mereka mengenakan seragam, menerima gaji bulanan, dan pulang dengan telepon genggam yang lebih canggih daripada milik orang tua mereka.
Pernikahan antara pendatang dan warga setempat semakin sering terjadi. Orang-orang dari luar daerah datang membawa harapan masing-masing. Ada yang ingin bekerja, ada yang membuka usaha, dan ada pula yang sekadar ingin mencoba peruntungan.
Kampung yang dahulu sunyi mulai ramai oleh suara kendaraan, percakapan orang-orang asing, serta deru mesin dari kejauhan.
Tete Udin menyaksikan semuanya dari beranda rumahnya. Tubuhnya semakin lemah. Ia tak lagi sanggup pergi ke kebun setiap pagi. Sesekali, ia meminta anaknya membawakan buah pala dari kebun yang masih tersisa. Ia akan memegangnya lama-lama, mengusap permukaannya dengan ibu jari, seolah-olah sedang menyentuh bagian dari hidupnya yang perlahan menjauh.
Pembangunan tidak berhenti pada jalan.Perusahaan tambang mulai memperluas kegiatannya. Dibutuhkan lahan untuk berbagai fasilitas penunjang. Pertemuan demi pertemuan kembali digelar. Warga dihadapkan pada penawaran yang sulit diabaikan.
Kebun pala dan kelapa yang selama ini menjadi sumber penghidupan perlahan berpindah tangan. Tanah yang dahulu dibiarkan diwariskan dari orang tua kepada anak kini memiliki harga yang terus dibicarakan.
Bagi sebagian warga, menjual kebun terasa lebih menguntungkan daripada menunggu hasil panen. Menjadi petani berarti menunggu musim, menghadapi cuaca, merawat tanaman, dan menerima hasil yang tidak selalu pasti. Sementara itu, uang dari penjualan lahan bisa diperoleh dalam waktu relatif singkat.
Mereka mulai menghitung masa depan dengan cara yang berbeda.
Pohon pala yang dahulu dianggap sebagai warisan kini dipandang sebagai sesuatu yang bisa diuangkan. Kebun yang dahulu menjadi tempat bekerja bersama mulai menjadi lembaran dalam dokumen transaksi.
Tanah dijual sedikit demi sedikit. Lalu semakin banyak. Hingga suatu ketika, beberapa warga menyadari bahwa mereka masih memiliki rumah, tetapi tak lagi memiliki kebun untuk dikerjakan.
Sebagian memperoleh pekerjaan di perusahaan tambang. Warga yang memiliki pendidikan SMA hingga sarjana direkrut, bahkan beberapa mendapat posisi penting. Kehadiran perusahaan memang membuka peluang yang sebelumnya tak tersedia. Namun, tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama.
Ada yang bekerja sebagai tenaga harian, ada yang menjalankan usaha kecil di sekitar kawasan industri, dan ada pula yang hanya bisa menyaksikan perubahan dari luar pagar perusahaan. Di antara mereka, masih ada orang-orang tua yang tak lagi sanggup bekerja, sementara tanah yang dahulu menopang kehidupan keluarga telah berpindah kepemilikan.
Kampung Ibah semakin ramai, tetapi percakapan tentang kebun semakin jarang terdengar. Anak-anak yang dahulu bermain di bawah pohon mangga kini lebih akrab dengan deru kendaraan. Buah-buahan yang dahulu dipetik dari hutan mulai dibeli di pasar. Ikan masih ada, tetapi laut yang dulu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari perlahan harus berbagi ruang dengan kegiatan ekonomi yang semakin besar.
Pada awalnya, dampak lingkungan tidak begitu terasa. Orang-orang masih dapat beraktivitas seperti biasa. Air masih mengalir, kebun yang tersisa masih menghasilkan, dan laut masih memberi ikan.
Namun, seiring meluasnya kegiatan tambang, perubahan mulai terlihat.
Debu kadang menempel di dedaunan. Air hujan mengalir membawa lumpur dari kawasan yang dibuka. Beberapa warga mulai membicarakan keadaan sungai dan kebun mereka. Ada yang mengeluh, ada yang khawatir, tetapi banyak pula yang memilih menganggap semuanya sebagai bagian dari perubahan.
Sebab, di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada pekerjaan dan uang, mengajukan pertanyaan sering kali terasa lebih sulit daripada menerima keadaan.
Tete Udin tak lagi mampu berjalan jauh. Ia hanya mendengar cerita dari orang-orang yang datang menjenguknya. Sesekali, ia memandang ke arah hutan yang semakin jauh dari pandangan, lalu menoleh ke pohon mangga di halaman rumahnya.
Pohon itu masih berdiri. Tetapi, di sekelilingnya, tanah mulai berubah menjadi sesuatu yang asing. Pada suatu malam, ketika suara mesin dari kejauhan terdengar seperti dengung yang tak kunjung selesai, Tete Udin memanggil anak laki-lakinya.
Napasnya pendek. Wajahnya tampak lebih pucat daripada hari-hari sebelumnya.
“Kalau suatu saat saya meninggal, kuburkan di depan rumah ini.”
Anaknya terdiam.
“Di depan rumah?”
Tete Udin mengangguk.
“Jangan bawa saya jauh-jauh.”
Anaknya tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menggenggam tangan ayahnya yang mulai dingin.
Tete Udin memandang ke luar jendela. Di sana, pohon mangga berdiri di bawah cahaya lampu. Beberapa meter dari halaman, batas tanah yang dahulu tidak pernah dipikirkan kini menjadi garis penting dalam kehidupan warga.
Ia tidak menjelaskan alasan wasiatnya.Mungkin karena ia tak lagi memiliki tenaga untuk menguraikan apa yang selama ini disimpannya. Mungkin pula karena ia tahu, ada hal-hal yang baru akan dipahami manusia setelah semuanya terlambat.
Sejak malam itu, ia lebih banyak diam.
Kesehatannya terus menurun. Kebun yang dahulu menjadi bagian dari hidupnya kini hanya bisa dikenang melalui cerita. Orang-orang yang datang menjenguk membawa buah tangan, membicarakan perkembangan kampung, atau sekadar bertanya tentang kabarnya.
Beberapa orang penting juga pernah berkunjung. Mereka menyalaminya, menyampaikan penghormatan, dan berbicara tentang perubahan yang membawa Kampung Ibah menjadi kawasan yang semakin dikenal.
Tete Udin menerima mereka dengan sopan.Ia tidak memusuhi siapa pun. Ia hanya menyimpan kesedihan yang tak mudah dijelaskan.
Sebab, setiap kali seseorang memujinya sebagai sesepuh Kampung Ibah, ia teringat pada sesuatu yang perlahan hilang dari kampung itu: tanah yang dahulu membuat semua orang merasa memiliki tempat.
***
Kabar kematian Tete Udin terdengar dari pengeras suara masjid pada suatu pagi.
Suara pengumuman itu menyebar ke seluruh penjuru kampung, melewati jalan-jalan baru, bangunan-bangunan yang mulai menjulang, dan rumah-rumah yang berdiri di atas lahan yang telah berpindah tangan.
Orang-orang berhenti beraktivitas. Sebagian segera meninggalkan tempat kerja. Yang lain bergegas menuju rumah Tete Udin.
Kampung Ibah berduka. Orang-orang datang silih berganti. Mereka yang dahulu sering menerima nasihatnya berdiri dengan wajah murung. Para tetangga yang pernah berbagi hasil kebun dengannya duduk di beranda, mengenang kebaikan lelaki tua itu. Bahkan sejumlah pekerja dan pejabat yang tidak terlalu mengenalnya turut hadir, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga.
Di ruang tengah, tubuh Tete Udin telah terbujur kaku. Wajahnya tenang, seolah-olah ia akhirnya menemukan jalan pulang yang selama ini dicari-carinya.
Istrinya duduk dengan mata sembap. Anak laki-lakinya menerima para pelayat, sesekali menunduk ketika seseorang menceritakan kebaikan ayahnya.
Persiapan pemakaman dilakukan sebagaimana yang diwariskan dari generasi ke generasi. Jenazah dimandikan, dikafani, lalu disalatkan.
Namun, ketika semua persiapan hampir selesai, sebuah pertanyaan muncul di antara keluarga.
Di mana Tete Udin akan dimakamkan?
Dahulu, pertanyaan itu tak pernah menjadi persoalan di Kampung Ibah. Setiap kali seseorang meninggal, keluarga cukup menentukan tempat di sekitar rumah atau kebun mereka. Tanah masih luas. Tak ada yang perlu meminta izin kepada orang lain untuk menguburkan anggota keluarga di tempat yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Tetapi, hari itu berbeda.
Keluarga berkumpul dan membicarakan wasiat Tete Udin. Mereka mengingat kembali permintaannya: ia ingin dikuburkan di depan rumah.
“Papa sudah berpesan begitu,” kata anaknya. Kita harus memenuhi permintaan terakhirnya.”
Seorang kerabat mengangguk, tetapi wajahnya menyimpan kegelisahan.
“Tanah di sebelah rumah sudah dijual. Bagian belakang juga bukan lagi milik keluarga. Kita tak bisa menguburkannya di sana.”
Percakapan terhenti. Mereka menoleh ke arah halaman. Sebidang tanah kecil masih tersisa di depan rumah Tete Udin. Itulah satu-satunya ruang yang belum berpindah tangan, ruang terakhir yang masih menjadi milik keluarga.
Namun, tanah itu pun tidak luas. Jika Tete Udin dimakamkan di sana, tak akan ada tempat lain di sekitar rumah untuk pemakaman keluarga berikutnya. Mereka saling berpandangan.
Di luar, orang-orang terus berdatangan. Sebagian duduk di bawah pohon mangga. Sebagian lainnya berdiri di tepi jalan, berbicara pelan sambil menunggu keputusan keluarga.
Akhirnya, anak Tete Udin menarik napas panjang.
“Papa harus dikuburkan di sini.”
Tak ada lagi yang membantah. Tanah di depan rumah digali. Sekop-sekop menghujam bumi yang selama puluhan tahun menjadi tempat Tete Udin menapakkan kaki. Orang-orang bekerja dalam diam. Beberapa di antaranya sesekali mengusap mata.
Ketika liang lahat selesai disiapkan, langit mulai mendung. Jenazah Tete Udin diangkat menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Doa-doa dilantunkan. Tanah perlahan menutupi tubuh lelaki tua yang semasa hidupnya begitu mencintai kampung itu. Segenggam demi segenggam. Hingga akhirnya, gundukan tanah terbentuk di depan rumahnya.
Di bawah pohon mangga yang masih berdiri, Tete Udin beristirahat. Tak ada pidato panjang yang mampu menjelaskan arti pemakamannya. Namun, beberapa orang tua yang hadir memahami sesuatu yang tidak diucapkan.
Tete Udin bukan sekadar meninggalkan dunia. Ia meninggalkan sebuah pertanyaan tentang apa yang telah dilakukan kampung itu terhadap dirinya sendiri. Beberapa hari setelah pemakaman, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Kendaraan melintas di jalan baru. Para pekerja berangkat menuju kawasan tambang. Warung-warung membuka pintu, sementara bangunan-bangunan terus tumbuh di antara rumah warga.
Kampung Ibah semakin dikenal. Namanya disebut dalam percakapan orang-orang dari berbagai daerah. Banyak yang datang untuk mencari pekerjaan, membuka usaha, atau mengadu nasib di tanah yang menyimpan emas.
Tetapi, di depan rumah Tete Udin, sebuah gundukan tanah tetap berada di tempatnya. Orang-orang yang melintas terkadang berhenti sejenak. Sebagian mengenang kebaikannya, sebagian lagi hanya memandang tanpa mengetahui mengapa kuburan itu berada di sana, begitu dekat dengan jalan.
Anak Tete Udin sesekali duduk di beranda, menatap makam papanya. Ia mulai memahami mengapa lelaki tua itu bersikeras ingin dimakamkan di depan rumah.
Barangkali papa ingin tetap berada di tempat yang paling dikenalnya. Barangkali ia tak ingin meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat keluarga berkumpul. Atau mungkin, jauh di dalam hatinya, Tete Udin ingin menyisakan sebuah tanda.
Sebuah tanda bahwa tanah bukan hanya sesuatu yang bisa dijual dan dibeli. Bahwa ada nilai yang tak tercantum dalam surat perjanjian, tak terhitung dalam lembaran uang, dan tak bisa digantikan oleh gedung-gedung megah.
Di sekitar makam itu, tanah-tanah yang dahulu luas telah berubah menjadi milik orang lain. Kebun-kebun semakin jauh dari rumah warga. Sebagian orang masih bekerja sebagai petani, tetapi jumlahnya terus berkurang. Anak-anak muda lebih banyak mengenal kehidupan dari dalam kawasan industri daripada dari kebun yang pernah menjadi tempat orang tua mereka mencari nafkah.
Dan di antara semua perubahan itu, ada satu kenyataan yang pelan-pelan disadari penduduk Kampung Ibah.
Mereka masih memiliki rumah. Mereka masih memiliki keluarga. Sebagian memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik daripada masa lalu.
Namun, ketika seseorang meninggal dunia, mereka tak lagi leluasa menentukan di mana orang yang dicintai akan dimakamkan. Tanah untuk beristirahat pun telah menjadi sesuatu yang harus dicari.
Suatu sore, seorang anak kecil berlari melewati makam Tete Udin. Ia berhenti di bawah pohon mangga, memungut buah yang jatuh, lalu bertanya kepada ibunya tentang kuburan di depan rumah itu.
“Itu makam siapa, Mama?”
Ibunya memandang gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rumput.
“Itu makam Tete Udin. Orang tua yang dahulu tinggal di sini.”
“Kenapa dikubur di depan rumah?”
Sang ibu terdiam cukup lama. Ia bisa saja menjawab bahwa Tete Udin memang menginginkannya demikian. Ia bisa pula bercerita tentang kebiasaan lama masyarakat Kampung Ibah. Namun, entah mengapa, ia merasa jawaban itu belum cukup.
Akhirnya, ia berlutut, menyeka debu di pipi anaknya, lalu berkata pelan,
“Karena dahulu, Nak, tanah di kampung ini begitu luas. Orang-orang tidak pernah takut kehilangan tempat untuk pulang. Sampai suatu hari, mereka mulai menjual tanahnya sedikit demi sedikit, tanpa menyadari bahwa suatu saat mereka mungkin tak lagi memiliki tempat untuk orang-orang yang mereka cintai.”
Anak itu mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti. Ia kembali berlari setelah melihat teman-temannya memanggil dari seberang jalan. Sementara itu, ibunya masih berdiri di depan makam.
Angin bertiup dari arah laut. Daun-daun mangga bergerak perlahan, menjatuhkan bayang-bayang di atas tanah yang tersisa. Dari kejauhan, suara mesin kembali terdengar, memecah kesunyian yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan Kampung Ibah.
Perempuan itu memandang jalan yang membentang menuju kawasan tambang.
Jalan yang dulu mereka dambakan.
Jalan yang kini membawa banyak orang datang, tetapi juga menyisakan pertanyaan tentang apa yang telah mereka tinggalkan. Di depan rumah itu, makam Tete Udin tetap diam.
Ia tak dapat lagi menasihati siapa pun. Tak bisa mengingatkan warga tentang pohon-pohon yang ditebang atau kebun-kebun yang berpindah tangan. Ia tak lagi dapat mengulang pertanyaannya tentang harga sebuah kemajuan.
Tetapi, mungkin justru karena itulah makamnya menjadi begitu penting.
Sebab, ketika suara mesin semakin keras dan janji kesejahteraan terus bergema, gundukan tanah di depan rumah itu menjadi saksi yang tak dapat dibungkam.
Ia mengingatkan bahwa emas bisa digali dari perut bumi, jalan bisa dibangun melintasi hutan, dan gedung-gedung bisa didirikan dalam waktu singkat. Namun, tanah yang telah kehilangan maknanya sebagai ruang hidup tidak selalu bisa dikembalikan hanya dengan uang.
Dan ketika kelak ada warga Kampung Ibah yang meninggal dunia, keluarga mereka harus membawa jenazah menyeberangi jalan, melewati bangunan-bangunan baru, lalu mencari tempat pemakaman di kampung tetangga.
Jauh dari rumah yang pernah mereka bangun. Jauh dari pohon yang mereka tanam. Jauh dari tanah yang dahulu mereka sebut milik sendiri. Di sanalah, barangkali, orang-orang Kampung Ibah akan mengingat kembali Tete Udin lelaki tua yang pernah bertanya apa yang harus mereka bayar untuk sebuah jalan.
Kini, setelah semuanya berubah, jawaban itu mulai terasa. Mereka membayarnya dengan kebun yang hilang, hutan yang menyusut, dan tanah yang semakin sempit untuk menampung kenangan. Sementara itu, di depan sebuah rumah tua, makam Tete Udin tetap menjadi kuburan terakhir.
Setelahnya, tak ada lagi tanah yang tersisa. Dan masyarakat Kampung Ibah pun perlahan belajar bahwa sebuah tempat bisa menjadi kaya oleh apa yang tersimpan di bawah buminya, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga di atasnya: hak untuk menentukan ke mana orang-orang yang dicintai akan pulang. (*)
_____
Cerpen Sofyan Togubu
close