Halmaheranesia – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate mengambil posisi aktif dalam forum Ternate Youth Planner (TYP) #4, sebuah wadah strategis yang mempertemukan gagasan generasi muda dengan agenda pembangunan daerah.
Rizky Ramli selaku Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah (Kabid PPD) HMI Cabang Ternate menyebutkan, keikutsertaan HMI dalam forum tersebut mencerminkan orientasi organisasi yang tidak hanya bergerak pada ruang-ruang advokasi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses perencanaan yang konstruktif.
“HMI memandang TYP sebagai ruang dialektika gagasan yang harus dimanfaatkan untuk memastikan kebijakan daerah lahir dari partisipasi yang inklusif dan berbasis kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Rizky menegaskan bahwa Kota Ternate memiliki fondasi pembangunan yang relatif kuat apabila dikelola dengan pendekatan berbasis potensi wilayah.
Ia mencontohkan keberhasilan program Kalaju (Kampung Nelayan Maju) di kawasan Jambula sebagai model pemberdayaan masyarakat pesisir yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan warga.
Rizky juga menyoroti pentingnya membangun narasi sejarah Ternate secara lebih sistematis dan ilmiah.
“Ternate memiliki posisi strategis dalam sejarah rempah dunia yang belum sepenuhnya dikembangkan secara akademik maupun populer. Karena itu, penguatan dokumentasi, riset, serta publikasi sejarah perlu menjadi agenda bersama agar Ternate dapat diproyeksikan sebagai laboratorium penelitian sejarah yang terbuka bagi akademisi nasional dan internasional,” jelasnya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Siti Sakinah Kasturian selaku Ketua Kohati Cabang Ternate, ex officio Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan HMI Cabang Ternate menyoroti pentingnya pemerataan ruang-ruang kebudayaan dan festival sebagai bagian dari strategi pembangunan berbasis identitas.
Ia menilai penyelenggaraan festival yang selama ini terpusat di kawasan pusat kota perlu diperluas ke wilayah selatan, seperti Benteng Kastela dan wilayah utara seperti situs wisata Batu Angus, agar penguatan sejarah dan potensi wisata tidak terfragmentasi.
“Di selatan kita memiliki Benteng Kastela yang kondisinya semakin memprihatinkan, padahal situs ini merupakan saksi bisu sejarah Sultan Khairun dan Sultan Babullah. Sementara di utara, Batu Angus memiliki nilai geo-wisata yang relevan dengan agenda UNESCO Global Geopark bertajuk Volcano and Spice Island. Integrasi kawasan selatan dan utara dalam agenda festival akan memperkaya narasi kota sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujar Sakinah.
Ia menegaskan, bahwa festival harus dipahami sebagai instrumen penggerak ekonomi rakyat, khususnya bagi pelaku UMKM, pedagang lokal, perajin, dan pelaku kuliner tradisional. Distribusi lokasi festival yang lebih merata dinilai dapat memperluas perputaran ekonomi dan membuka ruang partisipasi yang lebih inklusif bagi masyarakat.
“Festival perlu dirancang sebagai ruang promosi produk lokal, penguatan ekonomi kreatif, serta pemberdayaan perempuan dan pelaku UMKM. Event daerah harus menjadi economic driver yang memberikan multiplier effect bagi pelaku usaha kecil, terutama produk olahan rempah, kuliner tradisional, dan kriya berbasis identitas sejarah Ternate sebagai kota rempah dan simpul perdagangan maritim global,” ucap Sakinah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi kreatif dan pelestarian tradisi. Festival, menurutnya, tidak boleh dimaknai semata sebagai agenda seremonial, melainkan juga sebagai ruang edukasi sejarah dan penguatan identitas budaya.
“Inovasi dan kreativitas memang penting, tetapi jangan sampai kita terlalu sibuk membuat festival yang modern dan kreatif, tapi justru melupakan tradisi yang autentik dan khas.”
Ia mencontohkan prosesi Kololi Gam dan serangkaian prosesi adat lainnya yang biasanya dilakukan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Ternate masih belum mendapat dukungan publikasi optimal, padahal tradisi tersebut memiliki daya tarik budaya yang tinggi dan berpotensi besar menjadi magnet wisata.
Melalui TYP ke-4 ini, HMI Cabang Ternate berharap tercipta tata kelola kolaboratif yang melibatkan pemerintah, organisasi kepemudaan, komunitas, akademisi, dan pelaku UMKM secara sinergis.
Integrasi antara potensi rempah, industri kreatif, dan jalur wisata dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Ternate di tingkat nasional maupun internasional. Dengan pengelolaan yang tepat, kekayaan lokal tidak hanya menjadi simbol identitas, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan masyarakat dan daya saing kota secara berkelanjutan.





