Halmaheranesia – Indonesia memiliki keragaman budaya yang tinggi, hal tersebut terlihat dari penggunaan bahasa pada setiap daerah yang berbeda-beda. Jumlah bahasa daerah di Indonesia yang telah terindentifikasi dan divalidasi sebanyak 718 bahasa dari total 2.560 daerah.

Jumlah tersebut ditentukan melalui pemetaan Penelitian Kekerabatan dan Pemetaan Bahasa-bahasa Daerah di Seluruh Indonesia dengan pendekatan linguistik historis komparatif dan dialektologi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dari tahun 1991 hingga 2019.

Dalam pemetaan tersebut, Maluku Utara berada di urutan 7 sebagai provinsi dengan jumlah bahasa daerah (tidak termasuk dialek dan subdialek) terbanyak se Indonesia. Terdapat 19 bahasa di Maluku Utara yang telah ditetapkan sebagai bahasa daerah. Namun, penelusuran Tim koncodata (divisi  data halmaheranesia), terdapat 20 bahasa di Maluku Utara.

Berdasarkan kajian vitalitas bahasa dari Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara pada tahun 2026, terdapat 9 bahasa dari total 19 bahasa daerah yang mengalami kemunduran yaitu, bahasa Buli, Gane, Galela, Makian Luar, Modole, Patani, Sahu, Sula, dan Taliabu.

Sementara bahasa Bacan, Kadai, Makean Dalam, Sawai, dan Ibu (Ibo) masuk kategori terancam punah. Bahkan, bahasa Ibu (Ibo) disinyalir telah kehilangan penuturnya dan berpotensi akan punah.

Tim koncodata merangkul informasi tentang bahasa daerah dari Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara:

Bahasa Ternate

Penutur bahasa Ternate terdapat di beberapa wilayah di Pulau Ternate dan sekitarnya. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri (metode linguistik untuk mengukur perbedaan dan persamaan variasi bahasa atau dialek), isolek Ternate merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa Sahu, Buli, dan Sawai, berkisar 81%—100%.

Bahasa Tidore

Kendati pihak Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara memasukkan bahasa Tidore dalam dialek bahasa Ternate, tapi kami menemukan pengakuan lain dari tokoh-tokoh adat maupun para penutur di Tidore yang tak menerima bahasa Tidore adalah “sama” dengan bahasa Ternate. Kami juga menemukan secara langsung, pengucapan maupun arti dari kedua bahasa yang berbeda. Sehingga kesimpulan tim koncodata, Bahasa Tidore dan Ternate adalah dua hal yang berbeda.

Bahasa Galela

Bahasa Galela merupakan bahasa daerah dengan penyebaran dialek paling banyak di Maluku Utara. Terdapat enam dialek dari Bahasa Galela yang dituturkan oleh masyarakat. Enam dialek tersebut meliputi dialek Pagu, dialek Kao, dialek Kira, dialek Loloda, dialek Laba, dan dialek Tobaru. Persentase perbedaan masing-masing dialek diangka 63%—79,75%.

Dialek-dialek itu tersebar di 2 Kabupaten yang ada di Maluku Utara, meliputi Kabupaten Halmahera Utara yang terdiri atas dialek Pagu di Desa Wangeotek, Kecamatan Malifut; dialek Kao di Desa Kao, Kecamatan Kao; dan dialek Kira di Desa Kira, Kecamatan Galela Barat.

Kemudian di Halmahera Barat terdapat dialek Loloda yang dituturkan oleh masyarakat Desa Kedi, Kecamatan Loloda;  dialek Laba di Desa Laba Besar, Kecamatan Loloda; dan dialek Tobaru di Desa Goal, Kecamatan Sahu Timur.

Hasil penghitungan dialektometri, isolek Galela dikategorikan sebagai sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%.

Bahasa Tobelo

Bahasa Tobelo dituturkan oleh masyarakat di Desa Pale, Kecamatan Tobelo Selatan, Kabupaten Halmahera Utara dan Desa Tayawi, Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan. Bahasa ini terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Tobelo Pale dan Tugutil. Persentase perbedaan antarkedua dialek tersebut sebesar 63,5%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tobelo merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya dengan bahasa Galela, Ibu (Ibo), dan Buli.

Bahasa Bacan

Bahasa Bacan adalah salah satu bahasa daerah di Maluku Utara yang masih dituturkan oleh masyarakat. Penutur bahasa Bacan terdapat di Desa Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan. Selain di Desa Amasing Kota, bahasa Bacan juga dituturkan di sebelah timur, barat, dan utara Desa Amasing Kota.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar, isolek Bacan dikategorikan sebagai sebuah bahasa daerah karena persentase perbedaannya dengan bahasa Gane, sebesar 81% sampai 100%.

Bahasa Bajo

Bahasa Bajo merupakan bahasa daerah yang dituturkan oleh masyarakat di Desa Bajo, Kabupaten Kepulauan Sula. Hasil hitungan dialektometri, isolek Bajo dikatakan sebagai sebuah bahasa daerah di Maluku Utara, karena memiliki persentase perbedaan yang tinggi dengan bahasa lainnya, seperti bahasa Galela, Sula, Buli, dan Tobelo, diangka 81% hingga 100%.

Walaupun hampir memiliki kesamaan isolek dengan bahasa Bajo di Provinsi Sulawesi Selatan, namum presentase perbedaan Isolek Bajo yang ada di Provinsi Maluku Utara sebesar 27,06%. Perbedaan tersebut terletak pada subdialek (perbedaan wicara) diantara keduanya.

Bahasa Buli

Penutur bahasa Buli merupakan masyarakat yang berada di Desa Buli Asal, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur. Melalui hasil penghitungan dialektometri, isolek Buli ditetapkan sebagai sebuah bahasa daerah karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain misalnya bahasa Modole dan Makian Dalam, berkisar diangka 81% sampai 100%.

Bahasa Gane

Bahasa Gane merupakan bahasa daerah yang dituturkan masyarakat di Desa Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan. Selain itu penyebaran bahasa Gane juga dituturkan di sebelah barat Desa Gane Luar.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Gane memiliki persentase perbedaan dengan bahasa Makian dan Tobelo berkisar sebesar 81% hingga 100%.

Bahasa Gorap

Penutur Bahasa Gorap terdapat di Desa Bobaneigo, Kecamatan Kao Teluk, Kabupaten Halmahera Utara dan Desa Bobaneigo, Kecamatan Jailolo Timur, Kabupaten Halmahera Barat. Bahasa Gorap berasal dari bahasa kreol atau pijin yang merupakan campuran antara bahasa Melayu setempat dan bahasa pendatang dari Sulawesi Tenggara.

Hasil penghitungan dialektometri, isolek Gorap dikategorikan sebagai bahasa karena persentase perbedaan dengan bahasa Buli, bahasa Ibu, bahasa Tobelo, dan Bahasa Melayu (Melayu Ternate) berkisar 81%—100%.

Bahasa Ibu

Bahasa Ibu atau disebut dengan Ibo dituturkan oleh masyarakat di Desa Gamlamo, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat. Wilayah tutur bahasa Ibu (Ibo) berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Ternate di sebelah timur dan selatan Desa Gamlamo. Serta wilayah tutur bahasa Galela dialek Tobaru di sebelah barat dan utara.

Isolek Ibu (Ibo) disebut sebagai sebuah bahasa daerah karena memiliki perbedaan dengan bahasa Galela dan Sahu. Persentase perbedaannya berkisar diangka 81% hingga 100%.

Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara menetapkan bahasa Ibu sebagai bahasa daerah yang terancam punah, karena semakin berkurangnya jumlah penutur.

Bahasa Kadai

Bahasa Kadai merupakan bahasa daerah yang digunakan masyarakat di Desa Kawadang, Kecamatan Taliabu Timur Selatan, Kabupaten Pulau Taliabu. Wilayah pengguna tutur bahasa Kadai berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Sula Buton di sebelah timur, wilayah tutur bahasa Taliabu Buton di sebelah barat, dan wilayah tutur bahasa Taliabu Bajo di sebelah utara Desa Kadawang.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kadai merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya bahasa Buru, Bacan, dan Sula.

Bahasa Makean Dalam

Menurut pengakuan penduduk, bahasa Makean Dalam disebut juga sebagai bahasa Makean Timur atau Taba.

Hasil penghitungan dialektometri, menunjukkan bahawa isolek Makean Dalam memiliki persentase perbedaan dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 90%—100%, seperti bahasa Buli presentasenya sebanyak 90,75%; bahasa Maba 91,25%; dan bahasa Bacan 95%.

Bahasa Makean Luar

Wilayah tutur bahasa Makean Luar berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Makean Dalam di sebelah timur dan dengan wilayah tutur bahasa Makean di sebelah barat Desa Sebelei.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Makean Luar merupakan sebuah bahasa daerah karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 94% sampai 98%, seperti dengan bahasa Makean Dalam 94%; bahasa Buli 97,5%; dan bahasa Bacan 95%.

Bahasa Melayu

Penutur Bahasa Melayu terdapat di Kelurahan Togafo, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate dan Desa Bobaneigo, Kecamatan Kao Teluk, Halmahera Utara. Terdapat dua dialek bahasa Melayu di Provinsi Maluku Utara, yaitu dialek Melayu Ternate dan dialek Gorap. Persentase perbedaan dialek atara keduanya sebesar 70%.

Dialek Melayu Ternate dan Gorap memiliki persentase perbedaan dengan dialek bahasa Melayu Riau berkisar 63,52—70%. Dialek Gorap berasal dari bahasa kreol atau pijin yang merupakan campuran antara bahasa Melayu masyarakat setempat dan bahasa pendatang dari Sulawesi Tenggara.

Hasil penghitungan dialektometri menyebutkan bahwa isolek Melayu di Provinsi Maluku, isolek Melayu di Provinsi Maluku Utara dan isolek Melayu Riau, termasuk satu rumpun bahasa dengan persentase perbedaan di bawah 80%.

Bahasa Modole

Bahasa Modole merupakan bahasa daerah di Maluku Utara yang dituturkan oleh masyarakat Desa Pitago, Kecamatan Kao Barat, Halmahera Utara. Wilayah tutur bahasa Modole berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo di sebelah timur dan selatan, serta wilayah tutur bahasa Galela dialek Kao dan bahasa Tobelo di sebelah utara Desa Pitago.

Berdasarkan hasil penghitungan, isolek Modole dikategorikan sebagai bahasa daerah karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara sebesar 98%, seperti bahasa Maba (98%); bahasa Patani (98,25%); bahasa Bacan (98,75%); dan bahasa Gane (98,5%).

Bahasa Patani

Bahasa Patani dituturkan oleh masyarakat di Desa Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah dan Desa Soa Sangaji, Kecamatan Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur. Bahasa ini terdiri atas dua dialek, yakni dialek Patani Tepeleo dan dialek Maba. Persentase perbedaan antardua dialek tersebut sebesar 75,25%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan bahasa Patani dengan bahasa bahasa Buli, Sawai, dan Gane berkisar 81%—100%.

Bahasa Sahu

Penutur bahasa Sahu terdapat di Desa Tosoa, Kecamatan Ibu Selatan dan Desa Taraudu, Kecamatan Sahu, Halmahera Barat. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Wayoli dan dialek Sahu Taraudu. Persentase perbedaan antara kedua dialek tersebut sebesar 69,5%.

Isolek Sahu ditetapkan sebagai sebuah bahasa daerah karena memiliki persentase perbedaan dengan bahasa lain di Maluku Utara seperti bahasa Ibu (Ibo), Galela, dan Ternate, sebesar 81%—100%.

Bahasa Sawai

Bahasa Sawai merupakan bahawa daerah yang dituturkan oleh masyarakat di Desa Lililef Sawai, Kecamatan Weda Tengah, Halmahera Tengah. Menurut pengakuan penduduk, penutur bahasa Sawai tersebar di wilayah barat dan selatan Desa Lililef Sawai.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sawai memiliki persentase perbedaan dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 84%—98%. Perbedaan bahasa Sawai dengan bahasa Maba sebesar 84,75%; dengan bahasa Patani 86,75%; bahasa Bacan 98%; dan bahasa Gane 90,25%.

Bahasa Sula

Bahasa Sula dituturkan oleh masyarakat di Desa Fatcei, Kecamatan Sanana dan Desa Malbufa, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula. Bahasa ini terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Sula Fatce dan dialek Mangole. Persentase perbedaan antara dialek Sula Fatcei dan dialek Mangole sebesar 70,5%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sula merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara sebesar 81%—100%, misalnya dengan bahasa Tobelo, Galela, dan Buru.

Bahasa Taliabu

Bahasa Taliabu dituturkan oleh masyarakat di Desa Kawadang, Kecamatan Taliabu Timur Selatan, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Taliabu merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 86,75%—97,75%, seperti dengan bahasa Sula 97%; bahasa Gane 97,75%; dan bahasa Mangole 86,75%.

_____

Penyusun Tim koncodata: Rifal Hi Abdullah

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *