Halmaheranesia – Di dunia sepak bola, suporter seringkali menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sebuah klub. Mereka membawa semangat, warna, dan nyanyian yang membangkitkan semangat tim di lapangan.

Salah satu contoh menarik adalah Ultras Kie Raha, yang merupakan bagian dari komunitas suporter Malut United, sebuah klub sepak bola yang berbasis di Maluku Utara.

Dari banyaknya faksi-faksi suporter Malut United, Ultras Kie Raha merupakan salah satu komunitas yang baru muncul saat klub asal Maluku Utara itu berlaga di Liga 2 Indonesia.

Jika ultras di Italia dikenal dengan perkumpulan para pebisnis, Ultras Kie Raha justru menjadi sebuah komunitas suporter yang menghimpun semua kalangan. Dari anak-anak muda yang begitu mencintai sepak bola, dengan visi yang sama, Ultras Kie Raha tumbuh di ruang-ruang paling sunyi.

Beberapa suporter tarkam seperti Super Poram, Malutans, Kartel, Casual Kie Raha, dan TMPR, juga tergabung di dalamnya.

Mereka bahkan membuat kegiatan diskusi terkait sepak bola, musik dan budaya, dengan melibatkan sejumlah komunitas suporter Malut United pada Minggu malam, 10 Agustus 2025, yang bertujuan mengajak semua masyarakat agar lebih banyak memberikan dukungan di Stadion Gelora Kie Raha.

Dengan usia yang terbilang masih belia, mereka mampu membuktikan bahwa euforia dan dukungan mestinya tumbuh bersama rasa kecintaan terhadap tim. Dan itu merupakan bagian paling vital dalam sepak bola.

“Semenjak Malut United tampil dalam kancah sepak bola nasional, mereka kemudian mengasosiasikan diri, dari nonton bareng (nobar) kecil-kecilan, ahirnya mampu menjahit solidaritas yang makin besar, lalu diberi nama Ultras Kie Raha,” ucap Rio, perwakilan suporter Ultras Kie Raha, Senin, 11 Agustus 2025.

“Nomenklatur ultras terinspirasi dari klub-klub di Eropa, yang dikenal kreatif, loyal maupun setia kepada tim favorit mereka. Sementara Kie Raha merupakan sebuah penyebutan pulau di Maluku Utara yang menjadi identitas kedaerahan,” ucap Rio.

Sementara itu, Miraz yang juga mewakili ultras menyampaikan, keberadaan Ultras Kie Raha awalnya hanya sekadar hiburan, tapi dalam perjalanan hingga musim kedua Malut United di BRI Super League, mereka seperti menemukan jati diri, perasaan, dan cinta seolah-olah memaksa mereka untuk meneguhkan prinsip.

Miraz mengaku, di dalam Ultras Kie Raha, tidak ada kepemimpinan yang paling menonjol. Meski begitu, semuanya bisa tetap bersatu, mereka menginginkan semua bergerak secara kolektif.

Becks, perwakilan suporter Ultras Kie Raha lainnya mengatakan, Kehadiran Ultras Kie Raha di Tribun Utara, tidak hanya menyaksikan Malut United bermain, tapi mereka sepenuhnya memberikan dukungan dengan yel-yel, chants yang diciptakan sendiri, lalu koreografi.

Menurut Becks, Ultras Kie Raha berinisiatif menerapkan aturan sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian suporter PSS Sleman, terkait larangan penggunaan handphone saat laga berlangsung. Hanya fotografer yang diizinkan mengambil gambar sebagai arsip komunitas dengan berkolaborasi dengan Visualjunkies.

“Hal itu agar semua Suporter Ultras Kie Raha benar-benar fokus pada tujuan memberikan dukungan kepada tim favorit mereka. Meski penerapannya belum secara keseluruhan, mereka perlahan-lahan terus berupaya menerapkan hal tersebut,” pungkas Becks.

Suporter Malut United, termasuk Ultras Kie Raha, dikenal karena nyanyian dan koreografi yang mereka tampilkan di stadion.

Nyanyian suporter seringkali menjadi bagian penting dari atmosfer pertandingan, membangkitkan semangat tidak hanya bagi pemain di lapangan tetapi juga bagi suporter lainnya.

Nyanyian ini bisa berupa lagu-lagu khas yang mencerminkan identitas klub, semangat perjuangan, atau sekadar ekspresi kegembiraan dan dukungan bagi tim.

Di antara nyanyian suporter yang menggema di stadion, Ultras Kie Raha menunjukkan dedikasi dan kebanggaan mereka terhadap klub. Dalam sepak bola, elemen seperti ini tidak hanya menambah warna pada pertandingan tetapi juga memperkuat ikatan antara klub dan komunitas suporternya.

Ultras Kie Raha bukan sekadar suporter, tapi lebih dari itu adalah rasa bangga, dan kerinduan akan dahaga sepak bola, setelah bertahun-tahun kehilangan euforia.

_______

Reporter: Andri R Mansur 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *