Halmaheranesia – Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara (Malut) menyebut hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan sekitar 7 dari 100 penduduk Provinsi Maluku Utara merupakan migran seumur hidup, yakni penduduk yang kabupaten/kota tempat tinggal saat survei berbeda dengan kabupaten/kota tempat lahirnya.

Kepala BPS Maluku Utara, Simon Sapary, mengatakan berdasarkan data SUPAS 2025 terdapat perbedaan yang cukup jelas antara daerah tujuan dan daerah asal migran seumur hidup di Maluku Utara.

“Kabupaten Halmahera Tengah menjadi wilayah dengan tingkat migrasi masuk tertinggi sebesar 24,62 persen. Posisi berikutnya ditempati Kota Ternate dengan migrasi masuk 22,50 persen, disusul Kabupaten Halmahera Timur sebesar 21,78 persen,” ujar Simon dalam rilis resminya, Selasa, 2 Juni 2026.

Simon menyatakan Kota Ternate menunjukkan karakteristik yang berbeda dibandingkan wilayah lain. Selain memiliki migrasi masuk yang tinggi, kota ini juga mencatat migrasi keluar sebesar 18,48 persen.

Menurutnya, wilayah dengan tingkat migrasi masuk relatif rendah antara lain Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Kabupaten Halmahera Barat.

Selain migrasi seumur hidup, lanjut Simon, SUPAS 2025 juga mengukur migrasi risen, yaitu perpindahan penduduk yang dihitung dengan membandingkan tempat tinggal saat ini dengan tempat tinggal lima tahun sebelumnya.

“Indikator ini mengacu pada jumlah penduduk berusia lima tahun ke atas yang pernah berpindah dalam kurun waktu tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan hasil SUPAS 2025 menunjukkan bahwa 10 dari 1.000 penduduk Provinsi Maluku Utara merupakan migran risen antarprovinsi. Data migrasi risen memperlihatkan dinamika perpindahan penduduk antarwilayah dalam lima tahun terakhir.

“Kabupaten Halmahera Tengah tercatat sebagai daerah dengan migrasi masuk tertinggi sebesar 7,65 persen. Sebaliknya, Kota Ternate menjadi wilayah dengan migrasi keluar tertinggi sebesar 5,39 persen,” jelasnya.

Simon menambahkan beberapa daerah menunjukkan selisih positif yang cukup besar antara migrasi masuk dan migrasi keluar. Di antaranya Kota Tidore Kepulauan dengan migrasi masuk 2,33 persen dan migrasi keluar 1,58 persen.

Sementara itu, Kabupaten Kepulauan Sula mencatat migrasi masuk 2,22 persen dan migrasi keluar 1,56 persen, serta Kabupaten Halmahera Timur dengan migrasi masuk 1,45 persen dan migrasi keluar 0,74 persen.

“Kondisi tersebut mengindikasikan meningkatnya daya tarik wilayah-wilayah tersebut sebagai tujuan migrasi risen,” ungkapnya.

Jika dihitung berdasarkan wilayah, kata dia, Kota Ternate mencatat migrasi risen neto terendah sebesar minus 2,12 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir jumlah penduduk yang keluar lebih besar dibandingkan jumlah penduduk yang masuk.

“Sebaliknya, Kabupaten Halmahera Tengah mencatat migrasi risen neto tertinggi sebesar 4,92 persen. Capaian ini menunjukkan peran baru Halmahera Tengah sebagai daerah tujuan migrasi dalam periode lima tahun terakhir,” pungkasnya.

Bagikan:

Andri R. Mansur

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *