Halmaheranesia – Seorang putra asal Ternate, Maluku Utara, Aqiel Fardhan Irsyadi, berhasil lolos seleksi Gita Bahana Nusantara (GBN) untuk tim paduan suara dan orkestra, yang merupakan agenda tahunan berskala nasional sejak dimulai pada 2003.

Gita Bahana Nusantara merupakan tim paduan suara dan orkestra gabungan dari seluruh Indonesia yang beranggotakan peserta berusia 16–23 tahun. Seluruh peserta harus melewati proses audisi berjenjang yang ketat, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.

Ajang ini juga menjadi wadah ekspresi seni bagi generasi muda dari seluruh Indonesia untuk tampil sebagai tim paduan suara dan orkestra dalam upacara pengibaran Bendera Merah Putih serta membawakan lagu-lagu Nusantara.

Berawal dari ketertarikannya pada seni musik, Aqiel, yang saat ini menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta, memutuskan mengikuti seleksi di daerah tersebut, yang menjadi salah satu dari dua lokasi pelaksanaan seleksi GBN di Indonesia.

Hal itu menunjukkan kecintaannya terhadap musik yang telah tumbuh sejak kecil. Ia mempelajari berbagai instrumen musik sebelum akhirnya bergabung dengan komunitas musik.

Aqiel, sapaan akrabnya, merupakan anak sulung pasangan Fadriah Syuaib dan Hudan Irsyadi. Ia menjadi putra pertama asal Maluku Utara yang lolos seleksi tim orkestra sejak audisi Gita Bahana Nusantara diselenggarakan. Dalam ajang tersebut, ia juga mewakili sekolahnya di Yogyakarta.

Lahir di Ternate pada 12 Desember 2009, Aqiel telah tertarik pada musik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia mulai belajar secara serius ketika memasuki sekolah menengah pertama. Instrumen pertama yang menjadi jembatan perjalanannya di dunia musik adalah fiol.

Orang tua Aqiel, Fadriah Syuaib, menceritakan bahwa anaknya mulai tertarik pada musik sejak kecil. Instrumen pertama yang dikenalnya adalah tifa, kemudian piano saat duduk di bangku kelas II hingga III sekolah dasar. Menurutnya, Aqiel mampu menangkap irama dan menentukan tempo dengan baik.

Selain itu, Fadriah mengatakan Aqiel belajar memainkan piano menggunakan notasi dari buku serta pianika yang dibelikan orang tuanya. Memasuki jenjang SMP, ketertarikannya mulai beralih ke biola dan arababu, alat musik gesek tradisional Maluku Utara, setelah melihat instrumen tersebut di rumah.

Ketertarikannya terhadap biola semakin serius setelah menonton konser musik tradisi dan mendapat bimbingan dari Fauzi Heuvelmant atau Oji. Selama tiga bulan, Oji mengajarinya secara intensif hingga Aqiel mampu memainkan biola dengan cepat.

“Aqiel kemudian menguatkan keseriusannya saat mulai menimba ilmu musik pada tahun 2024. Ia mantap memilih belajar alat musik cello di Sekolah Menengah Musik (SMM) di Bantul,” ujar Fadriah, Kamis, 6 Agustus 2026.

Fadriah menjelaskan, anaknya memilih cello karena merupakan pengembangan dari biola dengan ukuran yang lebih besar. Di sekolah musik di Yogyakarta, Aqiel kembali mempelajari cello dari nol dan menunjukkan kegigihan dalam berlatih.

“Berkat keseriusannya, pada tahun 2026 ini Aqiel terpilih sebagai anggota tim orkestra pada perhelatan nasional bergengsi Gita Bahana Nusantara setelah namanya diumumkan lolos seleksi pada 14 Juli 2026,” jelas Fadriah.

Menurut Fadriah, selama bersekolah di Yogyakarta, Aqiel tidak hanya menekuni musik klasik. Ia telah tampil dalam berbagai konser yang membawakan karya para komposer dari dalam maupun luar negeri, seperti Italia, Australia, dan Korea.

Fadriah juga menyebutkan bahwa di Ternate, seleksi GBN selama ini hanya membuka kategori paduan suara dan belum untuk tim orkestra. Sementara itu, seleksi GBN tahun ini dilaksanakan di dua lokasi, yakni Jakarta dan Yogyakarta. Aqiel berhasil lolos setelah melewati dua tahapan seleksi, yaitu seleksi administrasi dan seleksi langsung.

Fadriah menilai keberhasilan anaknya tidak terlepas dari pola asuh keluarga yang memberikan kebebasan kepada anak untuk menemukan minat dan potensinya sendiri tanpa paksaan.

“Peran kami sebagai orang tua hanya memperkenalkan berbagai pengalaman yang bersifat edukatif sejak kecil. Saya bukan tipe orang tua yang memaksakan anak, karena setiap anak memiliki kecerdasan dan kemampuan yang berbeda. Saya juga tidak pernah memaksakan mereka untuk mengikuti jalur tertentu,” tuturnya.

Sebagai orang tua, Fadriah mengaku sangat bangga atas pencapaian anaknya. Ia berharap Aqiel terus mengembangkan bakatnya sesuai potensi dan bidang yang dicintainya.

“Sangat bangga. Saya mengikuti prosesnya sejak kecil. Dia tidak pernah diikutkan kursus secara intensif. Saya hanya memperkenalkan berbagai hal, lalu dia yang mengembangkan semuanya sendiri,” pungkasnya.

Bagikan:

Andri R. Mansur

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *