Dadaru adalah istilah untuk menyebut rumah kebun dalam bahasa Galela. Di Galela terdapat beberapa jenis rumah tradisional, baik yang dibuat di pedalaman hutan maupun di pesisir pantai.
Orang Galela mempercayai bahwa rumah adalah milik perempuan (ngopedeka manga tahu), di mana rumah dikelola dan menjadi ranah kegiatan perempuan.
Dadaru terbuat dari kayu maupun bambu, dengan atap dari katu (daun sagu). Umumnya dadaru tidak berdinding, dan lantainya terbuat dari papan.
Ukuran rumah dadaru ini sekitar 1,5 × 2 meter. Bagian sisi kanan dan kirinya terbuka, sedangkan bagian belakang tertutup dengan bambu yang sudah dipotong-potong, yang disebut tata.
Di dalam dadaru terdapat balai-balai, berfungsi sebagai tempat menerima tamu sekaligus tempat tidur. Tungku api dibuat sebagai dapur sederhana; pada malam hari, tungku ini juga berfungsi sebagai perapian untuk menghangatkan badan dan mengusir nyamuk.
Pada dadaru yang berada di pedalaman hutan, tiang-tiang rumahnya digantungi alat-alat berburu serta hasil-hasil buruan. Demikian pula halnya dengan dadaru yang berada di pesisir pantai, digantungi alat-alat melaut serta tulang-tulang hewan laut.
Nama-nama rumah tradisional di Galela adalah sebagai berikut:
1. Dadaru — rumah kebun
2. Folagaku / Falagaku — rumah panjang / rumah tingkat
3. Saba — rumah untuk satu kepala rumah tangga
4. Popona / Sibua — rumah berteras
5. Seri — rumah roh
6. Salabe — rumah pemujaan
7. Bangsaha — rumah adat
8. Pola — rumah tempat menyimpan padi
9. Suwai — rumah tempat menyimpan kayu bakar
Syukuru, idala-dala. Mungkin itu saja ulasan saya mengenai rumah kebun di Galela yang disebut Dadaru. Semoga dapat menambah pengetahuan kita tentang rumah tradisional di Galela.
____
Narasi: Muhammad Diadi






