13
Oktober
2026
Selasa - : WIB

Pesta Hilirisasi, Karhutla, dan Tangis Petani Maluku Utara

koncodata
Oktober 12, 2026 pada Ekologi, Kabar Daerah
Pesta Hilirisasi, Karhutla, dan Tangis Petani Maluku Utara. Penyusun Rifal Hi. Abdullah, infografis Ajie, foto Iksan Muhammad.

Halmaheranesia – Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Maluku Utara sudah dalam keadaan kritis, membuat hampir sejumlah wilayah mengalami perubahan kualitas udara hingga hancurnya lahan produktif warga.

Namun, dalam suasana yang prihatin itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama sejumlah pejabat, pada 8 Oktober 2026, merayakan proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar atau setara Rp180 triliun di Halmahera Tengah, Maluku Utara, sekaligus melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).

Nilai investasi tersebut mencakup peluncuran 11 proyek program hilirisasi, yang terdiri atas komersialisasi empat proyek industri yang telah rampung serta peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk tujuh proyek industri baru di kawasan terpadu tersebut.

Dari total 11 proyek tersebut, empat proyek telah selesai dan memasuki tahap komersial serta melakukan ekspor dengan nilai investasi mencapai US$3,4 miliar atau sekitar Rp60 triliun. Sementara tujuh proyek lainnya dengan nilai investasi US$6,8 miliar atau sekitar Rp120 triliun akan memasuki tahap pembangunan dan peletakan batu pertama.

Di lokasi yang berbeda, di pulau yang sama, seorang petani justru sedang menangisi pohon pala yang hangus terbakar. Pohon yang ia tanam sudah belasan tahun itu kini tak lagi bisa dimanfaatkan.

Tangisan itu terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial. Video berdurasi 1.30 menit itu direkam seorang petani dengan nyanyian togal, bernada sedih, ia menangisi kebunnya yang hangus terbakar. Hasil penelurusan, lokasi video ini berada di wilayah Gane, Halmahera Selatan.

Nasib tragis petani tersebut sebagian besar dialami juga petani lainnya di Maluku Utara. Kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan hingga kebakaran, membuat hati mereka benar-benar hancur.

Sebaran Titik Kebakaran

Tim koncodata (divisi data halmaheranesia) merangkul data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara dan Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK), tentang jumlah kejadian dan luas area karhutla di Maluku Utara tahun 2026.

BPBD Malut mencatat jumlah kejadian karhutla pada periode Juli hingga September 2026 di Maluku Utara, tercatat sebanyak 178 kali kejadian. Rinciannya, bulan Juli terdapat 10 kejadian, Agustus 75 kejadian, dan September 93 kejadian kebakaran.

Luas area terkena dampak langsung dalam periode tersebut sebesar 617,69 hektar. Meliputi kebakaran kebun/perkebunan 537,15 hektar (86,9 %), hutan dan lahan 64,04 hektar (10,4 %), dan kebakaran lahan kering/jurami 16,50 hektar (2,7 %).

Sementara itu, JPIK Maluku Utara mencatat, peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama periode Januari hingga awal Oktober tahun 2026, menembus 4.000 hektar.

Temuan JPIK ini merupakan akumulasi seluruh kejadian kebakaran dari awal tahun hingga periode yang dipilih pada dasbor pemantauan di awal bulan Oktober.

Luas Wilayah Terdampak

BPBD mencatat wilayah terdampak karhutla sepanjang Juli – September di Maluku Utara, menyasar 9 kabupaten/kota, 40 kecamatan, dan 121 desa/kelurahan yang terkena dampak langsung.

Sebaran kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di setiap kabupaten/kota, urutan pertama adalah Kabupaten Halmahera Utara dengan jumlah kejadian sebanyak 62 kali, yang mencakup 17 kecamatan dan 62 desa.

Kabupaten Halmahera Timur berada di urutan kedua sebanyak 17 kali. Wilayah yang terkena dampak meliputi 5 kecamatan dan 17 desa. Disusul Kota Tidore Kepulauan pada posisi ketiga, dengan jumlah 16 kali kejadian yang menyasar 5 kecamatan dan 16 kelurahan/desa.

Lalu Halmahera Barat sebanyak 10 kejadian yang tejadi di 6 kecamatan dan 10 desa. Pulau Taliabu sebanyak 8 kejadian di 3 kecamatan dan 8 desa, Pulau Morotai 3 kejadian di 1 Kecamatan dan 3 desa.

Kemudian Kota Ternate dan Halmahera Tengah masing-masing terdapat 2 kejadian yang tejadi pada 4 kecamatan dan 4 desa/kelurahan, serta Kabupaten Halmahera Selatan mengalami 1 kali kejadian kebakaran yang berlokasi di 1 desa.

Kondisi Terkini

Menurut data BPBD Maluku Utara, sebagian wilayah terkena dampak telah ditangani oleh tim BPBD, TNI/Polri, masyarakat dan instansi terkait lainnya. Namun beberapa kejadian belum dapat ditangani sepenuhnya.

Sebagian kejadian karhutla yang belum dapat ditangani karena lokasi kejadian berada di area pegunungan terjal. Faktor tersebut yang menjadi peghambat armada dan petugas tidak dapat menjangkau. Serta perlu penanganan kebakaran melalui jalur udara.

Selain itu, asap karhutla membuat sejumlah wilayah di Maluku Utara mengalami perubahan kualitas udara yang cukup buruk. Terpantau, hampir seluruh wilayah ditutupi kabut.

_____

Penyusun: Rifal Hi. Abdullah

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

by halmaheranesia
MENU
close