Halmaheranesia – Provinsi Maluku Utara masuk dalam kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire. Wilayah yang berada di kawasan ini terkenal dengan tingginya aktivitas seismik dan vulkanik, serta menjadi area yang rawan dilanda gempa bumi dan letusan gunung api.

Tercatat ada lima gunung api aktif di Maluku Utara. Dari jumlah tersebut, tiga gunung api berstatus Level II (Waspada), sementara dua lainnya berada pada Level I (Normal).

Tiga gunung dengan status waspada tersebut meliputi Gunung Gamalama di Ternate, Gunung Ibu di Halmahera Barat, dan Gunung Dukono di Halmahera Utara. Sementara Gunung Gamkonora di Halmahera Barat dan Kie Besi di Halmahera Selatan masuk kategori normal.

Tim koncodata (divisi data halmaheranesia) menghimpun informasi mengenai tiga gunung api aktif dengan status Level II (Waspada) di Maluku Utara. Salah satu di antaranya tercatat sebagai gunung dengan aktivitas erupsi paling tinggi di Indonesia.

1. Gunung Gamalama

Gunung Gamalama merupakan gunung api aktif yang berada di Kota Ternate, Maluku Utara. Gunung dengan ketinggian 1.715 mdpl ini, selain menawarkan lanskap alam yang memesona untuk didaki, juga memiliki sejarah letusan vulkanik yang tercatat sejak abad ke-16.

Laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mencatat sejarah letusan Gunung Gamalama dimulai sejak tahun 1538 dan tergolong sebagai gunung api yang sering meletus.

Laporan tersebut mencatat, letusan Gunung Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu bersifat magmatik. Kecuali letusan yang terjadi pada tahun 1907 yang berlangsung di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan aliran lava Batu Angus hingga ke pantai.

Kawasan yang kini dikenal sebagai destinasi wisata Batu Angus di Kelurahan Kulaba hingga wilayah Kelurahan Sulamadaha, Kota Ternate, merupakan titik letusan yang tidak mengikuti kawah utama.

Selain itu, letusan tahun 1980 juga menghasilkan Kawah Baru yang lokasinya sekitar 175 meter ke arah timur laut dari Kawah Utama. Secara umum terlihat adanya perpindahan titik pusat letusan ke bagian utara Kawah Utama.

Gamalama telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada status Level II (Waspada) sejak 10 Maret 2015.

PVMBG mencatat erupsi terakhir gunung ini terjadi pada 4 Oktober 2018. Erupsi tersebut diawali dengan terekamnya aktivitas gempa vulkanik sebanyak tujuh kali dalam satu jam. Tinggi kolom erupsi saat itu mencapai 250 meter dari puncak gunung.

Namun, pada Jumat, 23 Februari 2024, terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang terekam sebanyak 14 kali gempa vulkanik, serta mengeluarkan asap putih tebal dengan tinggi mencapai 100 hingga 400 meter.

2. Gunung Ibu

Gunung Ibu merupakan gunung api tipe strato dengan tinggi puncak 1.340 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berada pada koordinat 1.488° LU dan 127.63° BT. Secara administratif, gunung ini berada di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sejarah aktivitas vulkanik Gunung Ibu telah berlangsung sejak tahun 1911.

Letusan pada tahun 1998 memunculkan sumbat lava yang kemudian berkembang menjadi kubah lava. Seiring pertumbuhan kubah lava tersebut, erupsi dengan intensitas lemah hingga sedang terus terjadi hingga saat ini.

Pada tahun 2025, Badan Geologi menetapkan Gunung Ibu pada status Level IV (Awas), kemudian menurunkan statusnya menjadi Level III (Siaga) pada 18 Januari 2025. Setelah itu, status kembali diturunkan ke Level II (Waspada) hingga kini.

Gunung ini merupakan gunung dengan jumlah erupsi terbanyak kedua di Indonesia pada tahun ini. Dilansir dari Databoks Katadata, sejak Januari hingga Mei 2026, jumlah erupsi Gunung Ibu tercatat sebanyak 563 kali.

Erupsi terakhir terjadi pada Kamis, 7 Mei 2026 pukul 03.34 WIT. Dalam sepekan terakhir, gunung ini tercatat mengalami 18 kali erupsi.

Hal tersebut membuat pemerintah memperketat pengawasan terhadap Gunung Ibu karena tingginya aktivitas erupsi.

3. Gunung Dukono

Secara administratif, Gunung Dukono berada di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara. Puncaknya berada pada koordinat 1.693 Lintang Utara dan 127.894 Bujur Timur dengan ketinggian mencapai 1.229 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Berdasarkan catatan sejarah, erupsi Gunung Dukono telah tercatat sejak tahun 1550. Aktivitas vulkanik gunung ini berlangsung dalam waktu lama dan berulang, sehingga menjadikannya salah satu gunung api paling aktif di Maluku Utara.

Sejak 15 Juni 2008, status aktivitas Gunung Dukono ditetapkan berada pada Level II (Waspada). Rekomendasi yang diberikan berupa imbauan kepada masyarakat maupun wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, atau mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius dua kilometer dari kawah.

Kendati demikian, masyarakat dan wisatawan masih sering melakukan pendakian karena gunung ini memiliki panorama alam yang memesona.

Terbaru, erupsi yang terjadi pada Jumat, 8 Mei 2026, menewaskan dua warga negara asing dan satu orang lokal yang sedang mendaki. Selain itu, terdapat total 20 pendaki yang terdampak karena erupsi tersebut.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dihimpun dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pada pukul 07.41 WIT.

Gunung Dukono yang saat ini berstatus Level II (Waspada) mengalami peningkatan aktivitas visual dan kegempaan sejak 29 Maret 2026, dengan rata-rata tercatat sebanyak 95 kejadian erupsi.

Hasil pengamatan menunjukkan kolom erupsi berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan tinggi mencapai sekitar 10.000 meter.

Aktivitas kegempaan terekam pada sismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 967,56 detik. Dampaknya terpantau di wilayah Kecamatan Galela, tepatnya di Desa Mamuya dan sekitarnya.

___

Penyusun Rifal Hi. Abdullah

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *