
Halmaheranesia – Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, mengajak masyarakat menjadikan sejarah dan kekayaan rempah sebagai modal untuk memperkuat ekonomi daerah.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dikembangkan melalui sektor pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri kreatif, hingga ekonomi digital.
Hal itu disampaikan Tauhid saat menghadiri Festival Salawaku Road to Hari Jadi Ternate (HAJAT) ke-776 di Benteng Oranje, Jumat, 6 November 2026.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peluncuran HAJAT ke-776 yang mengusung tema “Berakar pada Sejarah Rempah, Bergerak Menuju Masa Depan”.
Tauhid mengatakan, tema tersebut menggambarkan perjalanan panjang Ternate sebagai salah satu pusat perdagangan rempah dunia. Cengkih dan pala, kata dia, bukan sekadar komoditas perdagangan, tetapi juga bagian penting dari identitas, kebudayaan, dan peradaban masyarakat.
“Sejarah harus menjadi sumber inspirasi dan kekuatan untuk melangkah menuju masa depan. Kita harus mampu menerjemahkan warisan sejarah rempah menjadi peluang ekonomi baru melalui pengembangan sektor pariwisata, UMKM, industri kreatif, ekonomi digital, serta berbagai inovasi pembangunan lainnya,” ujar Tauhid.
Ia menegaskan, HAJAT ke-776 bukan sekadar peringatan bertambahnya usia daerah, melainkan momentum untuk merefleksikan perjalanan sejarah, memperkuat identitas, sekaligus meneguhkan komitmen membangun Ternate.
Menurutnya, kebanggaan terhadap sejarah masa lalu harus diikuti keberanian berinovasi, meningkatkan daya saing, dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Tauhid juga mengapresiasi kontribusi Bank Indonesia dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah, terutama melalui penguatan UMKM, industri kreatif, digitalisasi sistem pembayaran, serta pengembangan sektor budaya dan pariwisata.
Ia menyebutkan, Ternate memiliki potensi besar untuk dikembangkan, mulai dari sejarah Kesultanan Ternate, tradisi masyarakat, kuliner, rempah-rempah, hingga produk UMKM.
Karena itu, pelaku UMKM, komunitas seni dan budaya, generasi muda, serta industri kreatif perlu mendapat ruang untuk berkembang dan berkolaborasi.
Sementara itu, Festival Salawaku 2026 mengangkat tema “Lestarikan Budaya, Kembangkan Karya: Ekosistem Kreatif untuk Ekonomi Inklusif”.
Tauhid menilai pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan kreativitas dan penguatan ekonomi masyarakat. Ekosistem kreatif, kata dia, perlu melibatkan UMKM, komunitas seni, generasi muda, dunia usaha, lembaga keuangan, dan pemerintah.
“Ketika budaya kita lestarikan, kreativitas kita kembangkan, dan ekonomi masyarakat kita kuatkan, maka Ternate akan memiliki fondasi pembangunan yang semakin kokoh dan berkelanjutan,” tandasnya.
“Kita berharap Festival Salawaku dan peluncuran HAJAT ke-776 memberikan dampak nyata bagi pengembangan ekonomi kreatif, peningkatan kapasitas UMKM, pelestarian budaya, serta kemajuan pariwisata Kota Ternate,” pungkasnya.