Halmaheranesia – Sama dengan suasana kota pada umumnya, lalu-lalang kendaraan, hamparan rumah-rumah, dan aktivitas yang padat memenuhi jalanan dan pusat ekonomi. Pemandangan ini terlihat di Ternate, Maluku Utara.

Di bawah kaki gunung Gamalama ini, Ternate begitu sibuk, bunyi kendaraan saling bersahutan, kendati di puncaknya, di ketinggian 1.715 meter di atas permukaan laut (mdpl), aktivitas vulkanik sewaktu-waktu bisa mengancam sekitar 204,92 ribu jiwa di atas pulau Ternate.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara, Deddy Arif, mengatakan Ternate atau Maluku Utara secara luas adalah daerah yang masuk dalam lingkaran Cincin Api Pasifik.

“Sistem cincin gunung api atau Ring of Fire itu bukan cuma di Ternate, tapi hampir di semua kepulauan gunung api yang ada di Indonesia, termasuk di Maluku Utara. Bahaya yang mengintai adalah dari sisi aktivitas vulkaniknya,” ucap Deddy, Kamis, 5 September 2024.

Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire adalah area di sekitar Samudra Pasifik yang sering dilanda gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Deddy menjelaskan, cincin api juga tidak hanya berbicara soal gunung apinya, tapi ada aktivitas tektonik lain yang akan terus berkembang dan intensif, lalu mempengaruhi yang lain, dan itu tergantung skala kebencanaannya.

Kendati bahaya bencana mengintai, tak ada alasan untuk tak bahagia menetap di Ternate atau Maluku Utara. Perasaan bahagia itu tersampaikan melalui laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 yang diperbaharui 11 Januari 2022.

Laporan BPS tersebut menyebutkan, indeks kebahagiaan Provinsi Maluku Utara berada di angka 76,34 dari skor 100. Artinya, tertinggi pertama dibandingkan perolehan provinsi lainnya.

Setelah Maluku Utara, Provinsi Kalimantan Utara dan Maluku masing-masing menduduki peringkat kedua dan ketiga pada indeks ini.

Menurut BPS, kebahagiaan terdiri dari tiga komponen utama, yakni kepuasan hidup, perasaan, serta makna hidup.

Indeks kebahagiaan mengukur 10 indikator, di antaranya kondisi tempat tinggal, pendapatan, profesi, komunitas, dan pendidikan. Indikator lain meliputi lingkungan hidup, kesehatan, kepuasan hidup, keamanan, serta keseimbangan antara kerja dan keseharian.

Indikator itu menunjukkan betapa Ternate, salah satu kota di Maluku Utara yang meski dalam bayang-bayang peristiwa geologi sangat mengancam, masih tetap menjadi tempat tinggal yang nyaman. Tahun ke tahun, kota ini makin ramai, dan bangunan-bangunan pun kian tumbuh di sana-sini.

Padahal, di punggung gunung pulau ini, jalur sungai yang terhubung langsung ke puncak Gamalama menjadi ancaman serius bagi penduduk kota.

“Sungai atau kali mati atau barangka yang terkoneksi lewat peta kawasan resiko bencana punyanya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kurang lebih ada 14 sungai besar yang terkoneksi lewat tipe sungai radial yang ada di gunung api,” ungkap Deddy.

Peta kawasan rawan bencana Gunung Gamalama.

Ia mengatakan, semua jalur sungai tersebut punya potensi terhadap bencana, baik itu banjir lahar atau banjir bandang.

“Kenapa begitu? Karena itulah karakter sungai yang radial dari pusat vulkanik tertinggi terkoneksi langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sub DAS yang terkecil sampai di daerah dekat pemukiman,” tuturnya.

Menurutnya, peristiwa banjir bandang yang terjadi di Rua, Ternate, pada Minggu, 25 Agustus 2024, salah satu penyebabnya adalah material letusan dari fasies Gamalama tua.

“Kapan letusannya? Itu tidak terdata dengan baik, dalam artian bahwa tidak ada catatan letusannya tahun berapa. Tapi fasies Gamalama tua itu bisa jadi antara jutaan tahun yang lalu,” ungkapnya.

Ia mengaku, aktivitas Gamalama itu dibagi atas tiga fasies, yakni fasies tua, dewasa, dan Gamalama muda.

“Nah yang menumpuk yang menjadi endapan dari salah satu material rombakan ketika banjir (Rua) kemarin adalah material Gamalama tua,” jelasnya.

Ia menyarankan, siapapun yang berada di kawasan rawan bencana, apakah pemerintahnya ataupun masyarakatnya sudah harus terbangun yang utama adalah soal kesadaran berada di ruang bencana.

“Kemudian kebudayaan ataupun budaya, ataupun karakter hidup yang berada di ruang kebencanaan tadi. Sudah harus menjadi bagian dari kesehariannya,” katanya.

Lalu yang utama adalah tugas pemerintah, harus terus mengedukasi masyarakat sehingga selalu siap sebelum bencana dan ketika ada bencana.

“Pemerintah harus bisa menyiapkan dokumen-dokumen kebencanaan yang tentu sangat bermanfaat dalam kita mendesain mitigasi yang berbasis karakter wilayah tersebut,” paparnya.

Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Bidang Pengelolaan DAS, Sarif Robo, menjelaskan jika jalur sungai di gunung aktif tak ditangani, maka akan sangat berbahaya.

“Apalagi jika jalur sungai ini tidak dilakukan pembersihan terhadap debris yang terhalang, dan akan mengalami penumpukan pada wilayah hulu atau tengah sehingga suatu saat terjadi intensitas hujan yang tinggi dan volumenya semakin besar dan tidak tertahan maka akan terjadi banjir bandang,” papar Sarif.

Ia menyebutkan, pentingnya melakukan identifikasi jalur sungai, apalagi kejadian banjir di Ternate bukan hanya sekali.

Jika melakukan identifikasi, maka bisa membuat pemetaan rencana jalur evakuasi, tempat evakuasi, dan rekomendasi untuk pembangunan infrastruktur nanti.

“Saya berharap pemerintah bisa belajar dari banyak kejadian bencana hidrologi di Kota Ternate, sehingga pengembangan tata ruang dan pemetaan rawan bencana bisa dilihat juga dari segi penataan jalur sungai,” ungkap Sarif.

Salah satunya, kata dia, penataan ruang secara keseluruhan oleh pemerintah kota, seperti membuat pemetaan atau zonasi pemukiman hingga sempadan sungai.

Belajar dari Masa Lalu

Sejarawan Unkhair, Irfan Ahmad, mengatakan topografi kota tua Ternate, wilayah seperti Rua dan Sampalo (saat ini Kastela) adalah daerah rawan bencana.

Irfan menjelaskan, Rua pada masa lalu, sekitar tahun 1960-an belum ada pemukiman, salah satu alasannya diduga karena pernah terjadi bencana.

Seperti pada akar kata penamaan kampung Rua, yakni marua atau yang berarti ‘tidak usah’, bisa bermakna tidak usah tinggal di tempat tersebut.

“Memang ada pemukiman di situ, di Akerica (tak jauh dari Rua), pemukiman tua,” kata Irfan.

Ia mengaku, dalam sejarahnya Ternate memang kerap mengalami letusan gunung Gamalama, baik yang kecil sampai dengan letusan yang luar biasa.

Menurutnya, berdasarkan sumber kolonial, gunung api Gamalama tercatat pernah meletus pada periode 1608, 1635, 1653, 1673, 1686, 1687, 1737, 1770, 1775, 1835, 1839, 1840, 1855, 1858, 1862, 1871, 1866, dan 1907.

Meski tidak tercatat dengan jelas, tetapi jauh sebelum periode-periode tersebut, gunung Gamalama dilaporkan telah mengalami letusan.

“Letusan gunung api Gamalama yang paling dahsyat terjadi pada tanggal 5–7 September 1775,” kata Irfan.

Akibat letusan ini, terbentuk sebuah maar di sekitar ‘Gam’ atau Kampung Soela Takomi, yang terletak 1,5 km di sebelah barat daya kampung Takomi sekarang. Lokasi itulah yang dikenal dengan Danau Tolire.

Letusan gunung api Gamalama pada 5–7 September 1775 itu juga membentuk lelehan lava atau lahar yang mengeras di beberapa titik di pulau Ternate. Lelehan lava ini dikenal sebagai ‘Batu Angus’ oleh masyarakat Ternate saat ini.

Namun, berbeda dengan Irfan, menurut Deddy, data IAGI menyebutkan, terbentuknya Batu Angus adalah hasil explosive pada tahun 1737 dan 1907.

Irfan menuturkan, sementara peristiwa banjir di Ternate sebenarnya pernah terjadi dalam skala besar, dan itu juga menimpa Sampalo, daerah yang juga tak jauh dari Rua, lokasi banjir bandang baru-baru ini.

Ia mengaku, informasi tersebut pertama kali ditulis oleh Antonio Galvao, Gubernur Portugis (1537-1540) yang ditugaskan di Ternate.

Saat tiba tahun 1537, ia mendapati kondisi kota Sampalo dan Benteng Nostra Senora del Rosario atau Kastela hangus dan porak-poranda, semua fasilitas kota hancur.

Harga kebutuhan pokok melambung sangat tinggi, dan banyak orang Portugis, budak, dan tawanan mati akibat terjadinya peperangan dan bencana alam.

“Meski tidak disebutkan bencana alam (banjir bandang), tapi beberapa fakta menunjukkan adanya banjir bandang dengan sebaran batu-batu besar di utara pemukiman kampung Portugis,” ungkapnya.

Foramadiahi, salah satu kampung di punggung gunung yang tak jauh dari Kastela pun pernah dikosongkan.

“Sekitar tahun 1600 pernah diungsikan ke bagian tempat yang aman. Tempat yang aman itu tidak tahu titiknya di mana. Tapi dulu pernah kosong,” jelasnya.

Baginya Ternate dari sisi sejarah, punya riwayat terkait kebencanaan. Sehingga dari situ, pemerintah seharusnya belajar dari masa lalu.

“Dari narasi sejarah, narasi geologi harusnya pemerintah sudah bisa setiap enam bulan satu kali memeriksa jalur-jalur sungai dan daerah rawan bencana lainnya,” pungkas Irfan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *