Halmaheranesia – Bulan terang di langit Ternate kala itu memayungi kapal Holly Mary berlayar menuju Pulau Morotai, Kamis, 14 November 2024. Kapal mulai bertolak dari Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate, sekitar pukul 21.00.
Saya duduk sebentar di kursi geladak, kapal mulai menjauh dari Ternate, terlihat kota yang gemerlap; cahaya lampu dari rumah-rumah dan bangunan memantul di laut, perahu serta kapal-kapal yang tertambat di pandara, juga penampakan Gunung Gamalama seolah sedang memeluk kota kecil itu.
Tak lama, laut makin gelap, kapal terus menjauh, dan saya putuskan untuk masuk ke kamar. Tertidur sebentar, dan rasanya sangat nikmat, apalagi bagi seorang yang jarang mendapatkan kesempatan tidur di waktu yang ideal.
Sekitar pukul 05.12, suara ibu-ibu mulai terdengar di luar. Mereka menjajakan beragam jualan, ada nasi kuning, telur rebus, teh hangat, dan lainnya. Saya mengira telah tiba di Morotai.
Ini memang kali kedua saya ke sana. Tahun 2016, saya pernah ke Morotai, tapi berlayar dari Ternate di waktu yang sama justru tiba sekitar pukul 08.00.
Ternyata kapal ini transit atau berlabuh dulu di Pelabuhan Dama, Loloda, Halmahera Utara, lalu menurunkan penumpang dan melakukan bongkar muat barang-barang.
Matahari pecah, perlahan naik, memancarkan cahayanya ke batas langit, membentuk siluet di antara laut dan pulau Halmahera.
06.08, kapal bertolak pelan, membelah laut teduh, dan satu dua lumba-lumba bermain, meloncat di sisi kapal seolah sedang mengajak bermain. Saya bergegas mengeluarkan gawai dan ingin merekam atraksi hebat itu, tapi sontak saja, ia tak muncul lagi.
Setelah berlayar pelan, barulah Holly Mary tiba di Pelabuhan Morotai sekitar pukul 07.55.
Air Kaca, Army Dock, dan Keanggunan Air Terjun Nakamura
Jumat sore, 15 November 2024, saya dan ketiga teman jurnalis, Yunita Kaunar, Irham, Risaldi, dan seorang teman kuliah dulu, Rasid Ridha, berkunjung ke destinasi Air Kaca, tepatnya di Desa Wawama.
Perjalanan ke sana dari pusat kota Morotai tak butuh waktu lama. Sekitar 10 menit kami tiba di Air Kaca.
Berbentuk gua kecil dan terdapat ceruk air, tak begitu lebar, dan ada anak tangga untuk turun ke tempat itu, lalu beton dibuat di atasnya mengelilingi lokasi tersebut. Tempat ini yang dikenal dengan Air Kaca.

Di papan informasi yang berada di lokasi ini dituliskan, situs Air Kaca menjadi tempat bagi pasukan sekutu saat Perang Dunia II untuk sekadar mandi atau memenuhi kebutuhan air bersih lainnya.
Tahun 1944-1945 Morotai memang menjadi kawasan yang sangat penting bagi pasukan tentara sekutu Amerika Serikat.
Dari aspek geografis, Morotai memiliki posisi strategis berada di bibir jalur perdagangan Asia Pasifik.
Dalam sebuah riset sejarah dari Deni Sutrisna, Balai Arkeologi Jawa Barat, yang diterbitkan Jurnal Panalungtik, menyebutkan di masa berkecamuknya Perang Dunia II, Pulau Morotai memegang peran penting yang menentukan jalannya peperangan.
Keberadaannya menjadi bagian dari upaya sekutu, seperti Amerika, Inggris, Belanda, Australia mengambil alih kembali gugusan pulau di kawasan Samudra Pasifik dari kekuasaan Jepang.
Jepang memang menguasai Pulau Morotai sejak awal 1942, dan pada awal 1944 kekuasaannya berkembang hingga Pulau Halmahera. Kedua pulau ini menjadi basis tentara Jepang untuk menguasai Mindanao, Filipina.
Di Air Kaca itulah, Jenderal Douglas MacArthur, panglima Perang Pasifik pernah merasakan dinginnya ceruk air tersebut dan menikmati sejuknya rimbun pohon-pohon di sekitarnya.
Sehari sebelumnya, kami juga menikmati Pantai Army Dock di Desa Pandanga, salah satu destinasi pasir putih yang juga sangat dekat dengan pusat kota Morotai.

Perjalanan ke sini hanya 3-5 menit saja. Di sini, pengunjung bisa memesan pisang goreng, kelapa muda, mie goreng atau rebus, ikan bakar, dan jajanan lainnya.
Pantai ini menjadi saksi pertama kalinya pasukan sekutu berlabuh. Seperti namanya, Army Dock yang berarti ‘dermaga tentara’, dijadikan sekutu untuk melakukan banyak hal, baik sebagai pusat militer, administrasi, hingga medis.
Saat hari makin sore, kendaraan kami melaju dari Air Kaca menuju destinasi Air Terjun Nakamura. Perjalanan ke sana lumayan jauh, sekitar 9 kilometer dari pusat kota. Kondisi jalannya pun sedikit kecil dan terlihat berlubang di beberapa titik.
Ketika sampai, meski belum terlihat penampakan air terjunnya, kami sudah mendengar deras air yang memantul di hutan Nakamura. Ya, air terjun ini berada tepat di kawasan Desa Nakamura.
Seperti sejarahnya, namanya diambil dari nama seorang prajurit jepang, Teruo Nakamura.
Kisahnya menarik, prajurit Jepang Perang Dunia II ini bersembunyi di belantara hutan Morotai, selama 30 tahun.
Dikutip dari laman resmi wonderfull Morotai dituliskan, pada waktu itu ada seorang warga Desa Pilowo bernama Luther Goge, memiliki seorang ayah yang bernama Baicoli, bersahabat dengan Nakamura selama puluhan tahun.
Ayahnya bertemu Nakamura saat sedang berburu babi hutan.
Baicoli kerap mengunjungi Nakamura di tempat persembunyiannya untuk membawakan bahan-bahan makanan.
Aktivitas Baicoli awalnya tak diketahui oleh Luther. Hingga akhirnya, menjelang ayahnya meninggal, Luther diberi wasiat untuk melanjutkan persahabatan dengan Nakamura dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkannya.
Luther kemudian melanjutkan persahabatan itu. Namun, pada 1974, ia akhirnya melaporkan tentang persahabatannya kepada Kapolsek Pulau Morotai.
Awalnya, Kapten Lawalata selaku kapolsek belum meyakini laporan dari Luther Goge itu. Sehingga, ia melaporkan hal tersebut kepada Komandan Pangkalan Udara TNI AU di Pulau Morotai, Kapten Supardi.
Kapten Supardi membentuk tim beranggotakan sebanyak 20 orang untuk menjemput Nakamura.
Singkat cerita, dalam proses penjemputan di hutan Morotai itu, ada seorang anggota bernama Sersan Mayor Hanz Anthony yang fasih berbahasa Jepang. Ia kemudian menyusun skenario penangkapan Nakamura.
Ia mengajarkan lagu Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang kepada seluruh tim. Tim penjemput pun mempelajarinya.
Tak hanya lagu yang disiapkan, tim juga membawa foto Presiden Soeharto beserta bendera merah putih dan Perdana Menteri Jepang pada waktu itu Kakuei Tanaka beserta bendera matahari Jepang.
Tujuannya, kalau nanti Nakamura muncul, maka tim penjemput menyanyikan lagu kebangsaan Jepang dan mengibarkan bendera serta menunjukkan yang mereka bawa.
Tim sempat menemukan gubuk persembunyian Nakamura. Hanya saja, ketika itu Nakamura sedang tidak ada di tempat. Mereka lalu kembali bersembunyi, sampai akhirnya tim berhasil mendapatkan Nakamura, meski sang prajurit setia Jepang itu tampak tegang dan sedikit terkejut.
Nama Nakamura itu kemudian melegenda, menjadi nama kampung hingga sebutan untuk air terjun yang berada di kawasan hutan Morotai. Tempat yang barangkali pernah dijelajahi Nakamura selama puluhan tahun; berburu makanan, mandi, tidur, dan sendirian meratapi perang yang ia lewati selama hidup.
Hari itu, kami menikmati keanggunan Air Terjun Nakamura, menyaksikan derasnya debit air yang mengalir, daun-daun basah setelah hujan, dan keteduhan hutan Morotai yang melegenda. Tapi sudah sangat sore, langit semakin jingga. Rasanya sudah cukup.
Saya ingin ke pesisir Daruba, memesan teh hangat di sana. (*)





