Halmaheranesia – Tak banyak yang mengira, pria itu telah tiba di usia sepuh. Kendati begitu, ia berlari seperti layaknya seorang anak muda, mengelilingi Pulau Ternate sepanjang 42 kilometer melawan kemustahilan.

Hamid Abdul Gani, namanya. Orang-orang terdekatnya biasa menyapanya dengan Tete Mid. Pada 2025 ini, ia sudah berusia 73 tahun.

Anaknya, Hasbullah, bercerita orang tuanya bukan seorang atlet. Tete Mid hanya seorang penyuka olahraga lari. Ia tak lahir dalam proses kompetitif seperti atlet umumnya.

“Bukan atlet, hanya hobi. Pensiunan PNS Pemkot Ternate,” ucap Hasbullah.

Rutinitas Tete Mid tak berbeda jauh dengan kebanyakan orang. Namun, ia terbiasa bangun sejak subuh, menunaikan salat, membaca Al-Qur’an, dan setelah itu bersiap untuk menjalankan aktivitas olahraga larinya.

“Sebelum kembali ke rumah, mampir dulu ke pasar beli ikan, sayur, dan bahan-bahan lain untuk menu makan hari itu,” tuturnya.

Kendati bukan seorang atlet, Tete Mid tergabung dalam sejumlah komunitas lari di Kota Ternate. Ia bergabung dengan banyak anak-anak muda, seperti RockRunners hingga Ngaralamo Run.

Tapi, jangan anggap remeh. Di usia sepuh, Tete Mid sudah menaklukkan jarak tempuh 10 kilometer, hingga yang terbaru 42 kilometer dalam event full marathon: Ring of Gamalama, pada 7 Desember 2025.

Hari itu, saat matahari belum benar-benar terbit, 131 pelari memulai langkah pertama mereka mengelilingi Pulau Ternate. Tete Mid ada dalam barisan itu.

Napasnya naik turun, berlari pelan, menerobos kemustahilan sepanjang jalan, dan tibalah di garis akhir menjadi finisher–meski bukan yang pertama. Di sana, tarian soya-soya sudah menyambut penuh gairah. Tak ada yang mengira, benar-benar tak ada yang mengira.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *