Halmaheranesia – Sudah enam hari semenjak bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Loloda Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Rabu, 7 Januari 2026 pekan lalu, masih minim dari perhatian.
Berdasarkan informasi yang diterima halmaheranesia pada Selasa, 13 Januari 2026, desa terdampak bencana serius seperti Tolofuo dan Totala Jaya belum juga mendapatkan bantuan secara merata dan maksimal.
Seperti diketahui, bencana tersebut menghancurkan puluhan rumah warga, satu bak induk penampung air bersih di Desa Tolofuo, bangunan Sekolah Dasar (SD), dan satu bangunan gereja yang terletak di Desa Totala Jaya.
Rincian rumah terdampak banjir dan longsor di dua desa tersebut di antaranya: Desa Tolofuo sebanyak 23 rumah warga terkena dampak longsor. Dari total rumah warga yang terdampak, 3 rumah mengalami rusak total, 3 rumah lainnya rusak parah, dan 17 rumah di antaranya rusak ringan.
Sementara untuk Desa Totala Jaya, 9 rumah terbawah banjir, 12 rumah mengalami rusak berat, bangunan SD Inpres 40 Halbar, rumah guru, polindes, gereja, dan tower mini pun ikut terdampak.
Selain itu, tumpukan tanah akibat longsor itu mulai mengeras, sisa reruntuhan rumah warga yang rusak pun belum juga dibersihkan sebab warga merasa sangat kesulitan karena keterbatasan alat.
Salah satu warga Desa Tolofuo, Hairil Abdullah, mengaku masyarakat terdampak memang sudah menerima bantuan makanan, selimut, dan kasur. Namun bantuan tersebut belum terdistribusi secara keseluruhan.
Hairil menyebutkan, bantuan itu datang dari Bandan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Maluku Utara, SD Negeri 28 Halbar Desa Tolofuo, dan Pemerintah Halbar yang memberikan selimut dan lima kasur. Meski begitu, sebagian warga terdampak lainnya belum kebagian.
“Pemerintah hanya memberikan bantuan, namun hingga sejauh ini tidak ada upaya pembersihan material timbunan longsor dan bangunan rumah yang rusak, warga sangat kesulitan,” ucap Hairil.
Ia menyebutkan, hingga saat ini hujan masih terus mengguyur Desa Tolofuo, situasinya mencemaskan, warga yang berada di titik rawan harus mencari lokasi aman.
“Pemerintah seharusnya mengambil tindakan penanganan serius, harus ada langkah-langkah perbaikan dan pencegahan, pembersihan tempat tinggal warga sangat dibutuhkan, karena ini sudah mendekati momentum bulan Ramadan,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa warga Tolofuo kini dalam keadaan krisis air bersih karena bak induk penampung air rusak total akibat longsor.
“Kami sementara hanya berharap air hujan, tapi di sisi lain mereka khawatir jika hujan turun terus menerus, longsor susulan bisa saja kembali terjadi,” katanya.
Sementara itu, salah satu warga Desa Totala Jaya yang tak mau namanya disebut mengatakan situasi di desa mereka juga sangat memprihatinkan.
“Selama dua atau tiga hari kami bertahan dengan kondisi yang sangat miris, listrik mati, jaringan internet tidak ada, akses air bersih lumpuh,” kisahnya.
Ia menyebutkan, sebagian besar rumah warga sudah tidak bisa ditempati, material tanah menimbun separuh bangunan, warga akhirnya diungsikan ke Kecamatan Kedi. Untuk sementara, meski dengan hati berat, warga terpaksa meninggalkan desa mereka.
“Beberapa Kepala Keluarga (KK) memilih mengamankan diri ke keluarga mereka di Jailolo. Saat ini desa kami dipenuhi lumpur, tidak bisa lagi ditempati. Meski begitu, sekitar lima KK yang masih memilih bertahan, sebagian besar sudah mengungsi,” pungkasnya.





