Bolanesia – Laga besar yang mempertemukan dua tim di klasemen atas, Malut United kontra Persija Jakarta pada Selasa, 24 Februari 2026 berakhir dengan kemenangan untuk Macan Kemayoran 3-2.
Berlangsung di Stadion Gelora Kie Raha, Malut United tampil dengan skuad yang terbatas, setelah dua center bek, Safrudin Tahar dan Nilson Junior tak dapat tampil di laga krusial ini.
Safrudin pada laga sebelumnya mendapat kartu merah dan Nilson mendapat akumulasi kartu. Sanksi ini membuat pelatih kepala, Hendri Susilo, harus berpikir ekstra untuk mengisi lini belakang dengan skuad yang tersedia.
Sehari sebelum kick off digulirkan, Gustavo Franca, center bek Malut United lainnya pun dikabarkan baru saja tiba dari Brasil karena urusan keluarga, dan tak dalam kondisi yang prima.
Ruang ganti tentu penuh analisa dan skema untuk menyelamatkan garis akhir pertahanan Malut United. Namun, kejutan itu tiba, Gustavo masuk dalam line up, 11 pertama yang akan menjamu Persija Jakarta.
Dalam sebuah sesi konferensi pers menjelang laga tersebut, Hendri sudah terlebih dahulu membocorkan skemanya–ia akan mendorong Igor Inocencio, pemain bek sayap untuk mengisi posisi Midfielder. Sebuah keputusan yang berani tentunya.
Skema itu ternyata benar adanya. Saat peluit kick off dibunyikan, Igor mengambil peran Wbeymar Angulo Mosquera. Sementara Angulo “dipaksa” bermain mengisi posisi center bek, menemani Gustavo untuk menjaga area pertahanan. “Cara aneh” ini punya alasan, karena menurut Hendri usai laga, para pemain pun setuju jika ditempatkan di posisi itu.
Apalagi Malut United benar-benar dalam kondisi krisis pemain. Sayangnya, Hendri seolah “berjudi” dengan laga besar seperti ini, memainkan Angulo, yang selama dua musim tak pernah berada di posisi ini, malah bermain dengan intensitas tinggi serta krusial sebagai “orang akhir”, begitu juga dengan Igor yang selama ini–di Malut United–tak pernah mengambil peran Midfielder.
Igor seolah kehilangan daya kreatifitas dan magisnya, ia tak dapat membaca alur permainan, atau mendistribusi bola, mengatur ritme, maupun saat ditekan oleh Persija Jakarta.
Berkali-kali Macan Kemayoran mengekspose area defensif gelandang. Igor terlihat terlambat mengisi areanya saat transisi positif anak-anak asuh dari Mauricio Souza. Baru babak pertama, dua gol sudah bersarang di gawang Malut United.
Cara Hendri yang “aneh” ini karena di daftar pemain, ada nama Riswan Lauhin, bek murni, pemain asal Ternate, yang punya pengalaman hebat bersama Persebaya Surabaya, malah dibiarkan mengisi bangku cadangan.
Riswan adalah bek tangguh yang jarang mendapat menit bermain bersama Laskar Kie Raha. Dan malam itu, saat gemuruh Gelora Kie Raha kian kencang, nyanyian yang mewarnai langit Ternate, kecemasan yang melanda garis akhir skuad, Riswan justru tak menjadi bagian dari 11 pertama tim.
Barulah pada babak kedua, Angulo kembali ditarik pada posisi normal, dan Igor dikembalikan ke bek sayap, Riswan masuk menemani Gustavo, Malut United akhirnya menemukan ritmenya. Apalagi setelah Frets Butuan masuk dan ikut berjuang memecah kebuntuan.
Tapi sayangnya, Malut United sudah kehilangan momentum di babak pertama. Ini murni “cara aneh” pelatih mengambil keputusan dalam laga sepenting ini.
Bermain di hadapan publik sendiri, Malut United benar-benar dihantam dan dihancurkan. Sementara Hendri terlihat “duduk manis” di bench, seolah tak punya kegelisahan apa-apa, diam, dan hanya menyaksikan laga layaknya seorang penonton yang hanya datang karena sudah terlanjur membeli karcis.
Pemandangan yang tak biasa dalam sebuah laga besar, apalagi hasil dari pertandingan ini sangat menentukan posisi Malut United dalam radar perebutan juara BRI Super League.
Tapi, Hendri menjawab santai saat konferensi pers usai laga. Bagi Hendri, manajemen sendiri tak pernah menargetkan juara apalagi menyinggung tentang target tersebut. Sebuah jawaban seperti para politisi di republik ini–yang makin “aneh” tentunya. Bagaimana bisa, sebuah klub dibentuk, diperjuangkan, mengeluarkan uang membeli banyak pemain, tapi tak pernah punya mimpi juara.
Alasan sebagai “klub baru” bukan jawaban berikut yang memuaskan. Apalagi tim ini sudah berjuang menempati posisi empat besar klasemen pada pekan ke-23 BRI Super League 2025-2026. Lalu kalah dari Persija, dan Hendri hanya menjawab santai, “Klub ini tak pernah menargetkan juara.”
Pantas saja, Hendri nyaman duduk di bench meski asisten pelatihnya terlihat lebih bersuara, berdiri sepanjang laga, seolah ada “peran yang tertukar”. Sementara, mimpi yang sedang dibangun oleh suporter, hanya dijawab santai oleh seorang pelatih yang tak punya gairah apa-apa.
Dan lihatlah, meski di sisa waktu akhir kontra Persija, walau unggul pemain karena Aditya Warman terkena kartu merah, Malut United masih kesusahan membuat gol dalam 8 menit tambahan waktu.
Saat waktu krusial itu, Hendri pun mengambil keputusan dengan mengeluarkan Angulo yang sedang dalam kondisi terbaik, “ngotot”, serta bermain disiplin. Sampai wasit meniup peluit tanda berakhir pertandingan, layar skor tak berubah: 3-2 untuk kemenangan Macan Kemayoran.
Pertandingan berakhir, Hendri dan tim tak menuju tribun suporter. Tak ada permintaan maaf meski kalah, layaknya tim-tim lainnya yang menyadari “pemain ke-12” yang berada di tribun punya energi besar.
Padahal malam itu, hujan membasahi stadion, ada anak-anak yang hadir merayakan mimpi melihat “klub baru” itu, ada dukungan yang terus dinyanyikan meski dingin memeluk mereka, tapi Hendri masuk menuju lorong stadion, membiarkan nyanyian habis perlahan, lalu kita semua pulang dan hanya mendengar kata-kata: “Klub ini tak pernah menargetkan juara.” (*)





