Halmaheranesia – Sejumlah warga di Lingkungan Jerbus, Kelurahan Tanah Tinggi Barat, Kota Ternate mendatangi kantor Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Ake Gaale pada Senin, 3 Agustus 2026, akibat gangguan pasokan air bersih yang disebut tidak berjalan selama tiga hari.
Ketua RW 02 Tanah Tinggi Barat, Fahrudin Upara, mengatakan sudah tiga hari pasokan air tidak mengalir di beberapa area, termasuk lorong belakang di wilayah tersebut. Akibatnya, warga harus membeli air tangki profil untuk memenuhi kebutuhan air mereka
“Satu tangki profil itu seharga Rp90.000. Selain itu, warga RT 03 serta RT 04 juga mengeluhkan bahwa air hanya mengalir pada malam hari dari pukul 01.00 atau hingga 05.00 subuh,” ucap Fahrudin.
Fahrudin menyebutkan, pembelian air tangki sangat membebani warga, terutama bagi mereka yang kurang mampu. Belum lagi, pemakaian satu tangki air hanya bisa bertahan satu sampai dua hari.
“Atas dasar itu, warga akhirnya datang ke kantor Perumda Ake Gaale untuk menuntut agar distribusi harus secepatnya dilakukan,” katanya.
Warga kemudian mengusulkan agar distribusi air untuk dialirkan ke rumah-rumah mestinya dimulai sejak pukul 10.00 agar semua warga dapat memperoleh pasokan air yang cukup.
Ia menegaskan, upaya pihak Perumda Ake Gaale mengirimkan mobil tangki untuk pasokan air untuk mengantisipasi krisis disebut hanya menjangkau area depan, pelayanannya tidak sampai ke warga yang rumahnya berada di gang-gang sempit.
“Kami berharap air dapat mengalir pada hari ini, dan jika tidak, warga RT 03 dan RT 04 akan datang kembali besok, pokoknya air harus mengalir pada hari ini,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Distribusi dan Perlengkapan Perumda Ake Gaale, Ali M. Nur mengaku ada gangguan pompa yang terjadi pada hari Sabtu pekan kemarin. Menurut dia, waktu terjadi kerusakan pompa, tidak ada penyediaan pengganti sehingga membutuhkan perbaikan.
“Pompa mengalami kerusakan, kebetulan pompa itu tidak ada pengadaan di gudang, jadi memerlukan perbaikan. Perbaikan itu memakan waktu, sehingga menyebabkan pasokan air terhenti sementara,” jelasnya.
Ali menyatakan gangguan lainnya dipicu oleh pemadaman listrik pada hari Minggu. Pihak pengelola menerima surat pemberitahuan dari pihak PLN terkait gangguan yang menyebabkan operasional pompa air ikut terhenti.
Selain itu, kata Ali, proses pengisian air dari bak penampungan juga membutuhkan waktu tunggu setelah aliran listrik kembali menyala.
“Setelah aliran kembali normal, warga diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam untuk menampung air sebelum distribusi kembali stabil,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem distribusi yang berlaku di wilayah Jerbus memiliki tantangan tersendiri karena berada di daerah ketinggian. Pasokan air dari jalur depan Jalan Amarah tidak dapat menjangkau kawasan tersebut.
“Karena itu, wilayah bagian atas dilayani melalui bak penampungan dengan dukungan suplai dari Jan-Tabona,” paparnya.
“Kemudian proses bantuan distribusi dari Tabona dilakukan melalui bak penampungan di SMA 2. Selanjutnya air dipompa ke bak penampungan lainnya sebelum dialirkan secara gravitasi menuju kawasan belakang Amarah hingga Jerbus,” sambungnya.
Ali menegaskan, pihaknya terus mengupayakan agar masyarakat di wilayah terdampak dapat kembali memperoleh pasokan air pada hari ini.
“Kami berupaya akan mengalirkan air ke mereka hari ini dengan cara menghentikan distribusi sementara untuk warga yang sudah terlayani,” pungkasnya.





