Halmaheranesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Babullah Ternate menyebut wilayah Maluku Utara saat ini telah memasuki musim kemarau lebih cepat dari perkiraan.

Kondisi tersebut diperkuat oleh pengaruh fenomena El Nino yang terpantau cukup kuat sehingga menyebabkan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya kondisi kekeringan di sejumlah wilayah.

Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Babullah Ternate, Justia Galensong, mengatakan musim kemarau di Maluku Utara diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober mendatang.

“Dari perkiraan yang seharusnya masih masuk di bulan Agustus hingga Oktober, ternyata untuk tahun ini di wilayah Maluku Utara sudah ada beberapa wilayah yang masuk lebih dahulu di luar dari perkiraan,” kata Justia, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurutnya, kondisi kemarau turut dipengaruhi fenomena El Nino yang saat ini terpantau cukup kuat. Dampaknya, dalam beberapa bulan terakhir kondisi Maluku Utara cenderung kering dengan frekuensi hujan yang semakin berkurang.

Selain minimnya hujan, kata dia, kecepatan angin yang cukup kencang juga ikut mengurangi potensi terbentuknya hujan.

“Untuk wilayah Maluku Utara sendiri hingga bulan Oktober masih masuk dalam musim kemarau. Namun di bulan Oktober itu ada potensi terjadi hujan tapi hanya sedikit, umumnya lebih ke cerah berawan,” ujarnya.

Kondisi kering juga disebut dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Minimnya hujan membuat kelembapan tanah menurun, sementara suhu udara di Maluku Utara saat ini juga relatif tinggi.

Ia menyampaikan, biasanya suhu maksimum hanya mencapai 32 atau 33 derajat Celsius, namun tahun ini dapat mencapai 34 derajat Celsius.

BMKG juga memetakan sejumlah wilayah yang memiliki potensi kekeringan dan rentan kebakaran, seperti Ternate, Tidore, Halmahera Barat (Halbar), Halmahera Utara (Halut), Morotai, serta sebagian Halmahera Timur (Haltim).

Menurut Justia, sejumlah wilayah tersebut mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) yang cukup panjang hingga sangat panjang. Lamanya periode HTH menjadi salah satu faktor yang memperkuat potensi kekeringan di wilayah-wilayah tersebut.

Melihat kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk mencermati informasi perkembangan cuaca dan tinggi gelombang yang disampaikan secara resmi.

Bagikan:

Andri R. Mansur

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *