Halmaheranesia — Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, mendorong percepatan digitalisasi benda, bangunan, dan warisan sejarah sebagai upaya memastikan pusaka tetap terdokumentasi dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Dorongan tersebut disampaikan Sherly saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Hotel Bela Ternate, Jumat, 28 Agustus 2026.

Sherly mengatakan, digitalisasi menjadi penting mengingat benda dan bangunan bersejarah memiliki risiko mengalami kerusakan atau bahkan hilang akibat bencana yang tidak dapat diprediksi.

“Kita tidak pernah tahu bencana apa yang akan datang. Tetapi jika semua benda pusaka, sejarah, foto, dan ceritanya disimpan dalam bentuk digital, kita masih punya catatan yang bisa diwariskan kepada anak cucu,” kata Sherly.

Menurutnya, dokumentasi pusaka tidak cukup hanya berupa foto. Setiap benda atau bangunan perlu dilengkapi dengan informasi mengenai bentuk fisik, sejarah, serta cerita yang melekat di dalamnya.

Dokumentasi tersebut dapat disimpan melalui sistem digital maupun cloud, sehingga informasi mengenai pusaka tetap tersedia meskipun bangunan atau benda aslinya mengalami kerusakan.

Sherly menegaskan, pelestarian pusaka tidak semata-mata menjaga keberadaan fisik bangunan atau benda bersejarah. Nilai dan cerita di balik pusaka juga harus dipastikan tetap hidup.

Ia mencontohkan keberadaan benteng-benteng bersejarah di Ternate. Menurutnya, keberadaan benteng tidak akan memiliki makna yang utuh apabila generasi mendatang hanya melihat bangunannya tanpa mengetahui sejarah dan alasan di balik pembangunannya.

“Kalau 100 tahun lagi benteng-benteng itu masih ada, tetapi anak cucu kita tidak tahu ceritanya, mengapa benteng itu ada dan apa maknanya, apakah kita berhasil melestarikan pusaka?” ujarnya.

Menurut dia, selain mendorong digitalisasi, Sherly menilai pelestarian pusaka harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Ia menjelaskan, tantangan pelestarian pusaka saat ini adalah bagaimana membuat generasi muda tertarik dan merasa memiliki hubungan dengan sejarah serta budaya daerah.

Karena itu, lanjut dia, pusaka perlu dikembangkan secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman, termasuk menghubungkannya dengan sektor ekonomi kreatif.

“Bagaimana kita menciptakan nilai ekonomi tanpa merusak nilai sejarahnya,” tegas Sherly.

Ia menyebutkan potensi pusaka dapat dikembangkan melalui berbagai produk dan kegiatan, mulai dari kuliner, usaha mikro, ekonomi digital, hingga konten kreatif seperti komik dan kartun yang dipublikasikan melalui media sosial.

Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi penerima cerita sejarah, tetapi juga dapat menciptakan manfaat ekonomi dari kekayaan budaya yang dimiliki daerah.

“Biasanya sebuah pusaka alam maupun budaya bisa dijaga apabila itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” katanya.

Sherly menilai, ketika masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan pusaka, akan tumbuh rasa memiliki yang pada akhirnya memperkuat upaya pelestarian.

Dorong Konsep Living Heritage

Sherly juga mendorong penerapan konsep living heritage dalam pengelolaan pusaka. Sebab, warisan budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan nilai bagi masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.

“Living heritage adalah heritage yang bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi bagaimana sejarah dan masa lalu ini kita manfaatkan secara optimal sehingga bisa menghasilkan nilai ekonomi di masa sekarang dan di masa yang akan datang bagi generasi kita,” jelasnya.

Ia berharap pusaka di berbagai daerah dapat terus dikembangkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan keasliannya.

Sherly juga membuka peluang agar pusaka yang memiliki nilai universal dapat didorong menuju pengakuan sebagai warisan dunia UNESCO.

Ia mengatakan, pengakuan tersebut tidak hanya memperkuat aspek pelestarian, tetapi juga berpotensi membuka pasar yang lebih luas serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Rakernas JKPI Gerakkan Ekonomi Ternate

Di sisi lain, Sherly mengapresiasi pelaksanaan Rakernas XII JKPI di Ternate. Menurutnya, kegiatan tersebut ikut memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Ia mengungkapkan, Kota Ternate terlihat semakin ramai dalam beberapa pekan terakhir karena rangkaian kegiatan JKPI menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

“Satu bulan terakhir yang saya tahu, Kota Ternate sangat ramai. Wali kota senyum terus karena perputaran ekonominya banyak,” ujar Sherly.

Ia berharap kegiatan berskala nasional seperti Rakernas JKPI dapat lebih sering dilaksanakan di Ternate agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh pelaku UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata, dan masyarakat.

“Pelestarian pusaka pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan bangunan atau benda bersejarah, tetapi memastikan sejarah, nilai budaya, dan cerita di baliknya tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *