Halmaheranesia — Musik tidak hanya untuk didengar. Di balik sebuah lagu, terdapat cerita, pengalaman, keresahan, hingga potret kehidupan yang menarik untuk dibaca dan dibicarakan.
Semangat itulah yang dibawa dalam kegiatan Baca Bunyi edisi perdana yang digelar Inkubator Space bersama Japan Foundation dan Music Corner di Pulo Tareba, Ternate, 8 September 2026.
Mengusung konsep membaca musik, mendengar cerita, kegiatan ini menghadirkan ruang diskusi yang secara khusus membedah lirik lagu karya musisi lokal Maluku Utara.
Pada edisi perdana ini, dua band lokal, Retronics dan The Bundles, menjadi karya yang dibahas. Lirik lagu tersebut dikupas untuk melihat lebih jauh cerita dan pesan yang tersimpan di balik karya musik mereka.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan musisi, tetapi juga melibatkan perspektif jurnalistik. Dua jurnalis, yakni Rajif Duchlun dari halmaheranesia dan MT. Bambang Cahyadi dari Kendali, hadir sebagai pembicara sekaligus pengulas dalam sesi bedah lirik.
Selain itu, Komunitas Literasi Ternate juga dihadirkan dalam agenda tersebut sebagai co-reader.
Rajif Duchlun mengatakan, lirik-lirik lagu dari dua band lokal ini sangat dalam dan memiliki makna sastrawi serta puisi.
Menurut dia, tiga kata yang selalu menjadi diksi para penyair dan penulis lagu adalah senja, rembulan, dan hujan. Semuanya dituangkan dalam setiap lirik lagu.
“Saya rasa para penulis lagu ini orangnya sangat sastrawi dengan puisi-puisi platonik mereka, dan karya-karya itu selalu mengungkapkan cerita-cerita cinta, kekasih, dan harapan,” katanya.
Rajif yang juga seorang penikmat lagu mejelaskan, syair-syair dalam setiap lirik telah memberi ungkapan dan pujaan yang dalam. Kedua band ini telah menunjukan optimisme kuat untuk menulis lagu dan membawa pendengar sampai pada tujuannya.
“Setiap lagu, pada setiap gelap, pasti ada api. Pada setiap kekeringan pasti ada hujan dan pada setiap yang kemarau pasi ada basah. Jadi soal terluka, kenangan, dan setiap apapun yang luka pasti bisa disembuhkan,” jelasnya.
Menurut dia, lagu itu adalah obat untuk menyembuhkan sesorang yang sementara dalam kepedihan yang dalam. Lagu juga bisa mejadi terapi.
“Saya membaca setiap lirik ini, ada metafora dan banyak pertanyaan yang harus dijawab. Sebenarnya penulis lagu ini berharap ada orang lain yang harus membuka cahaya, baik orang dari masa lalu atau masa depan,” jelasnya.
MT. Babang Cahyadi menambahkan, musik tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Menurutnya, musik perlu saling terhubung dengan berbagai bidang, seperti sastra, musisi, jurnalis, dan unsur lainnya yang dapat saling mendukung.
“Jadi, musik itu bukan hanya tersedia di platform musik, tetapi musik juga bisa dibaca dan dibicarakan. Ketika musik diputar, teman-teman pasti punya penilaian tersendiri sebagai pendengar,” katanya.
Ia mengungkapkan, melalui sesi baca lirik, terdapat berbagai makna yang dapat diungkap dari lirik-lirik lagu yang ditulis oleh para musisi.
“Musik itu punya banyak cerita. Ada makna yang meminta kita untuk mendengar lalu memahami, baik dari kata per kata maupun setiap bunyi yang terkandung di dalam lagu itu,” ujarnya.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan vokalis dari dua band lokal Maluku Utara, yakni Trizakriawi dari Band Retronics, dan Husen Surya Safitrah dari The Bundles.





