Ketika berusia sepuluh tahun, aku menghadiri pemakaman nenekku di sebuah gereja yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Gereja itu berdiri di antara rumah-rumah tua seperti seseorang yang lupa mengapa ia masih bertahan hidup. Dindingnya tinggi dan pucat, jendelanya berwarna-warni, dan dari luar terdengar bunyi lonceng yang menurutku terlalu muram untuk sekadar memberitahu orang bahwa seseorang sedang berdoa.

Ayahku berjalan di sampingku dengan wajah yang sulit kubaca. Ia seorang mualaf. Sejak meninggalkan agama dan keluarganya bertahun-tahun sebelumnya, ia tidak pernah kembali ke rumah orang tuanya. Bahkan ketika nenekku sakit, ia hanya menerima kabar melalui orang lain. Ada banyak hal yang tidak pernah dibicarakan ayahku, dan pada usia sepuluh tahun aku belum mengerti bahwa manusia kadang-kadang menyimpan masa lalu seperti menyimpan bangkai di bawah lantai rumah, tidak terlihat, tetapi baunya akan selalu menemukan jalan keluar. Karena itulah aku tidak pernah mengenal nenekku. Aku hanya mengenalnya melalui beberapa foto tua yang tersimpan di lemari. Seorang perempuan dengan rambut disanggul, mata tajam, dan senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Dalam foto-foto itu ia tampak seperti seseorang yang tahu sesuatu tentang dunia yang tidak diketahui orang lain.

Hari itu, untuk pertama kalinya, aku melihatnya secara langsung. Atau mungkin seharusnya kukatakan aku melihat tubuhnya. Nenekku terbaring di dalam peti kaca, dikelilingi bunga-bunga putih yang terlalu indah untuk kematian. Wajahnya pucat. Bibirnya tertutup rapat. Tangannya dilipat di atas dada. Ia tampak begitu tenang sampai-sampai kematian terlihat seperti tidur yang terlalu dalam. Aku berdiri beberapa langkah dari peti itu. Entah mengapa bulu kudukku berdiri. Udara di dalam gereja mendadak terasa lebih dingin. Bukan dingin seperti hujan atau malam. Dingin yang datang dari sesuatu yang tidak memiliki suhu. Aku menatap wajah nenekku dan merasa ada sesuatu yang sedang memperhatikanku dari balik wajah pucat itu. Aku ketakutan. Maka aku mengalihkan pandangan ke jendela.

Di luar, di samping sebuah pohon tua, berdiri seorang perempuan. Seorang perempuan tua. Ia mengenakan pakaian yang sama seperti yang dikenakan nenekku di dalam peti kaca. Aku mengedip. Perempuan itu tetap ada. Aku mengedip lagi. Ia tidak hilang. Aku mendekat ke jendela. Dan pada saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuat seluruh tubuhku seperti berubah menjadi es. Perempuan itu adalah nenekku.

Aku berbalik cepat. Peti kaca masih di sana. Nenekku masih terbaring di dalamnya. Aku kembali menatap jendela. Nenekku masih berdiri di bawah pohon. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan. melihat orang mati berdiri di luar gereja atau melihat orang mati yang sama terbaring di dalam peti.  Nenekku mengangkat satu jari ke bibir. Diam. Ia memintaku untuk tidak mengatakan apa-apa. Aku menuruti permintaannya. Mungkin itulah kesalahan pertamaku. Atau mungkin, seperti kebanyakan kesalahan manusia, aku baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian.

Hari itu adalah pertama kalinya aku melihat arwah. Dan tanpa kusadari, hari itu pula dunia membuka pintunya sedikit untukku. Aku hanya tidak tahu bahwa di balik pintu itu tidak ada cahaya. Yang ada hanyalah mereka. Enam tahun berlalu. Aku tumbuh menjadi gadis enam belas tahun dengan sebuah kemampuan yang tidak pernah kuminta. Aku bisa melihat orang mati. Awalnya hanya satu atau dua. Kemudian semakin banyak.

Seiring bertambahnya usiaku, jumlah mereka seperti bunga liar yang tumbuh setelah hujan. Di lorong sekolah. Di kamar mandi. Di halte. Di bawah pohon. Di jendela kelas. Di belakang orang-orang yang sedang tertawa. Di tempat-tempat yang tidak seharusnya ada siapa-siapa. Kadang-kadang mereka hanya berdiri. Kadang-kadang menangis. Kadang-kadang tersenyum. Dan yang paling mengerikan, sebagian dari mereka tahu bahwa aku bisa melihat mereka.

Aku pernah bertanya kepada ibu apakah orang lain juga melihat sesuatu yang kulihat. Ia tertawa. Kupikir ia menganggap pertanyaanku lucu. Aku tidak pernah bertanya lagi. Semakin lama, aku menyadari bahwa kemampuan itu bukan hanya kemampuan melihat. Mereka juga bisa melihatku. Dan itu membuat hidupku terasa seperti rumah yang semua pintunya tidak bisa dikunci. Teman-temanku mulai menganggapku aneh.

Aku sering melamun. Berhenti berjalan tanpa alasan. Menatap sudut ruangan terlalu lama. Berbicara kepada sesuatu yang tidak mereka lihat. Akhirnya mereka menemukan nama yang lebih sederhana untukku. Gila. Manusia menyukai kata-kata sederhana untuk sesuatu yang tidak mereka pahami. Maka aku belajar diam. Aku belajar menunduk. Aku belajar berpura-pura tidak melihat. Tetapi berpura-pura tidak melihat tidak membuat mereka menghilang.

Siang itu, saat jam makan, aku memilih pergi ke loteng sekolah. Tempat itu jarang digunakan. Debunya tebal, kayu-kayunya tua, dan udara di sana berbau seperti buku yang sudah lama kehilangan pembacanya. Aku lebih menyukai tempat itu daripada kantin. Di kantin, setidaknya orang-orang yang hidup bisa menyakitiku. Itu jauh lebih mudah dipahami. Aku baru saja membuka bekal ketika suara perempuan terdengar dari atas.

“Aku di sini.” Suara itu serak. Aku mendongak. Seorang perempuan berambut panjang merayap di langit-langit. Rambutnya menjuntai seperti akar pohon yang mencari tanah. Gaun putihnya kotor. Lehernya miring dengan sudut yang tidak mungkin dilakukan manusia hidup. Aku menarik napas panjang. Kuntilanak. Aku sudah melihatnya beberapa kali. Katanya ia adalah kuntilanak pesugihan yang dibuang di bangunan sekolah ini tujuh belas tahun lalu. Aku tidak tahu apakah cerita itu benar. Aku juga tidak peduli. Dibandingkan anak-anak di kantin, ia bahkan terasa lebih menyenangkan. Kemudian suara lain terdengar.

“Dia bukan kuntilanak pesugihan.” Aku menoleh. Seorang gadis berdiri beberapa meter dariku. Ia tampak seperti siswi sekolah. Seragamnya mirip seragamku, hanya modelnya sedikit berbeda. Logo sekolah terpasang di dadanya, tetapi bentuk seragam itu seperti berasal dari zaman yang lain. Rambutnya rapi. Wajahnya cantik. Terlalu cantik. Ada sesuatu pada wajahnya yang membuatku tidak nyaman. Bukan karena ia menyeramkan. Ia tampak terlalu hidup untuk seseorang yang seharusnya sudah mati.

“Itu bukan namanya,” katanya. Aku mengabaikannya. “Perempuan itu dibuang ke bangunan ini setelah ritual keluarganya gagal.” Aku tetap makan. “Namanya bukan seperti yang mereka ceritakan.” Aku meletakkan sendok. “Pergi.” Gadis itu tersenyum. “Aku Elena.” Aku mengangkat wajah. “Dan aku tidak peduli.” Untuk pertama kalinya senyumnya menghilang. “Aku sudah sendirian bertahun-tahun di sini.” “Itu bukan masalahku.” “Baru kali ini aku menemukan manusia yang bisa melihat kami.” Aku berdiri dan memasukkan bekal ke dalam tas. “Kalau begitu cari manusia lain.” Aku meninggalkannya.

Tetapi Elena mengikutiku. Di kelas, ia duduk di pojok. Saat guru menulis di papan, Elena berdiri di belakangnya. Saat aku membaca buku, ia berdiri di samping mejaku. Saat aku menoleh, ia tersenyum. Aku mulai kesal. “Tina, apa yang kau lihat dari tadi?” bentak guru. Aku terdiam. “Seharusnya kamu memperhatikan pelajaran.” Beberapa teman tertawa. “Seperti biasa, Bu. Mungkin dia melihat sesuatu lagi.” Aku ikut tersenyum. Bukan karena lucu. Aku hanya sudah terlalu sering belajar bahwa terkadang manusia lebih mudah ditertawakan daripada dijelaskan. Sepulang sekolah, Elena masih mengikutiku.

“Apa maumu?”

“Aku hanya ingin berteman.”

“Aku tidak butuh teman.”

“Semua orang membutuhkan teman.”

“Tidak semua orang.” Ia terdiam. Aku terus berjalan.

“Kalau kau ingin berteman,” kataku, “carilah arwah lain.” “Aku sudah berteman dengan mereka.” “Lalu?” “Mereka tidak bisa melihat kesepianku.” Aku tidak menjawab. Karena kalimat itu, entah mengapa, terdengar seperti sesuatu yang pernah kurasakan. Elena mengikutiku sampai rumah. Ia tidak mengganggu. Ia hanya duduk di sudut-sudut ruangan. Kadang-kadang di samping lemari. Kadang-kadang di dekat jendela. Kadang-kadang di belakang ibu ketika ibu sedang memasak.

Aku mulai terbiasa dengannya. Begitulah manusia bekerja. Bahkan terhadap sesuatu yang seharusnya membuatnya takut, manusia bisa terbiasa jika sesuatu itu hadir cukup lama. Elena akhirnya menjadi bagian dari rumah kami. Penunggu sekolah berubah menjadi penunggu rumah. Suatu malam, ketika aku sedang sendirian di kamar, aku bertanya kepadanya. “Apa sebenarnya yang terjadi padamu?” Elena duduk di ujung tempat tidur. “Aku ingin pergi.” “Kenapa tidak pergi?” Ia menunduk. “Aku tidak bisa.” “Kenapa?” “Keluargaku.” Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar tampak sedih. Ia kemudian menceritakan kisahnya. Ia mengatakan bahwa dulu ia adalah siswi sekolah itu. Ia dirundung. Setiap hari. Sampai suatu hari ia mati. Tetapi kematiannya bukan akibat perundungan. Keluarganya menggunakan kematiannya dalam sebuah ritual. Ia adalah tumbal. Darahnya menjadi bagian dari kesepakatan untuk memperoleh kekayaan.

Sejak saat itu, jiwanya terikat. Ia tidak dapat pergi. Ia tidak dapat mati. Ia hanya dapat menunggu. Bertahun-tahun. Sendirian. Sampai aku datang. “Aku bisa membantumu?” tanyaku. Elena mengangguk. “Dengan darahmu.” Aku menatapnya lama. “Kenapa harus darah manusia?” “Karena hanya darah orang hidup yang dapat memutus ikatan itu.” Aku tahu seharusnya aku takut. Tetapi aku juga tahu bagaimana rasanya hidup sebagai sesuatu yang tidak dimengerti siapa pun. Aku melihat Elena dan untuk pertama kalinya aku tidak melihat hantu. Aku melihat seseorang yang kesepian. Dan mungkin karena itulah aku tidak menyadari bahwa belas kasihan kadang-kadang adalah pintu paling mudah bagi sesuatu yang jahat untuk masuk.

Malam itu, pukul satu lewat sedikit, aku kembali ke sekolah. Sekolah tampak berbeda pada malam hari. Bangunan yang pada siang hari penuh suara mendadak menjadi seperti bangkai besar. Lorong-lorongnya gelap. Lampu beberapa ruangan berkedip. Angin masuk dari jendela yang rusak dan membawa bau tanah basah. Aku mengikuti petunjuk Elena menuju tempat ia katanya dibunuh. Di sana terdapat ruangan tua yang sudah lama tidak digunakan.

Aku menyalakan lilin. Elena berdiri di belakangku. “Lakukan semuanya seperti yang kukatakan.” Aku mengangguk. Aku menggambar tanda yang ia ajarkan. Menyalakan lilin. Membaca kalimat-kalimat yang tidak kupahami. Kemudian mengambil pisau. Tanganku gemetar. “Sedikit saja,” kata Elena. Aku mengiris lengan. Rasa sakitnya datang terlambat. Darah muncul perlahan. Dan ketika darah itu jatuh ke tanda yang telah kugambar, terdengar jeritan. “Tidaaaak!” Aku terkejut. Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Jeritan itu seperti berasal dari bawah lantai, dari balik dinding, dari dalam kepalaku sendiri. Jantungku berdebar keras. Elena berdiri diam. Aku mengoleskan darah. Lalu semuanya hening. Aku menunggu. “Elena?” Tidak ada jawaban.

Aku menoleh ke belakang. Ia tidak ada. Aku tersenyum. Kupikir ia telah pergi. Kupikir akhirnya ia bebas. Namun ketika aku mengangkat kepala, seseorang berdiri di sudut ruangan. Nenekku. Perempuan yang kulihat enam tahun lalu di pemakaman. Ia menatapku. Air mata mengalir di pipinya. Aku tidak pernah melihatnya menangis sebelumnya.  “Nenek?” Ia menggeleng keras. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Seolah ingin memperingatkanku.

Namun sebelum aku sempat memahami apa yang terjadi, suara langkah terdengar dari lorong. Seorang satpam muncul. Ia menatap lilin, darah, dan tanda-tanda di lantai. “Tina?” Aku berdiri. “Bapak…” “Apa yang kamu lakukan?” Aku tidak punya pilihan. Aku menceritakan semuanya. Tentang Elena. Tentang sekolah. Tentang kematiannya. Tentang ritual. Tentang darah. Satpam itu mendengarkan dengan wajah semakin bingung. Setelah aku selesai, ia diam beberapa saat. Kemudian ia berkata perlahan.

“Tina… apa maksudmu?” Aku menatapnya.

“Bapak sudah bekerja di sini sejak sekolah ini dibangun.” Ia menunjuk sekeliling.

“Tidak pernah ada siswi bernama Elena yang meninggal di sini.” Dunia terasa berhenti. “Tidak mungkin.” “Tidak ada Elena.” “Dia ada.” “Siapa?” Aku menoleh. Dan Elena berdiri di pojok ruangan. Ia tersenyum. Tetapi senyumnya berbeda. Matanya mulai berubah. Hitam. Seluruhnya hitam. Tidak ada putih. Tidak ada cahaya. Tidak ada manusia di sana. Aku mundur. Elena tersenyum semakin lebar.

“Terima kasih, Tina.” Aku tidak bisa bergerak. “Kini tubuhmu milikku.” Setelah itu, dunia menjadi gelap.

Semenjak malam itu, Tina berubah. Ia masih anakku. Wajahnya masih wajah anakku. Suaranya masih suara anakku. Tetapi ada sesuatu yang hilang. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Seperti melihat rumah sendiri setelah semua perabot dikeluarkan. Bentuknya masih sama, tetapi tidak lagi terasa sebagai tempat pulang. Tina sering duduk sendirian berjam-jam. Kadang ia tertawa tanpa alasan. Kadang menangis. Kadang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat. Kadang-kadang ia mengamuk dan melukai dirinya sendiri. Aku dan suamiku membawanya ke rumah sakit. Dokter mengatakan banyak hal yang tidak kupahami. Kami mencoba pengobatan. Kami mencoba doa. Kami mencoba kesabaran. Kami mencoba waktu. Tetapi waktu ternyata bukan obat untuk semua luka. Waktu hanya membuat luka menjadi lebih pandai bersembunyi.

Bertahun-tahun berlalu. Tina tetap seperti itu. Sampai akhirnya aku bertemu seorang yang dianggap mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat manusia biasa. Aku menceritakan semuanya. Tentang satpam. Tentang ritual. Tentang Elena. Perempuan itu mendengarkan dalam diam. Kemudian ia menatapku.

“Anakmu telah dimanfaatkan.” Aku menggenggam ujung bajuku. “Oleh siapa?” Ia menarik napas. “Oleh sesuatu yang bukan manusia.” Dunia di bawah kakiku seakan runtuh.

“Ia menyerupai siswi sekolah Tina.” Aku menutup mulut. “Elena?” Ia mengangguk. “Nama itu hanya wajah yang dipakai.” Aku tidak mengerti. Ia menjelaskan bahwa makhluk itu telah membohongi Tina. Kisah tentang keluarga, perundungan, kematian, dan kutukan hanyalah jebakan. Ritual yang dilakukan Tina bukan untuk membebaskan Elena. Ritual itu adalah pintu. Darah Tina adalah kuncinya.

Dan tubuh Tina adalah rumahnya. “Lalu Tina?” Perempuan itu menatapku lama. “Tina yang sekarang bukan Tina yang dahulu.” Aku menangis. Aku tidak tahu kapan air mataku mulai jatuh. “Anak saya di mana?” “Sudah tidak ada.” Kalimat itu sederhana. Tetapi beberapa kalimat memiliki kekuatan untuk membunuh seseorang tanpa menyentuh tubuhnya. “Tidak ada cara mengembalikannya?” Ia menggeleng. “Ritual itu menggunakan darahnya sendiri. Setelah raga kehilangan pemiliknya, jiwa tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.” Aku menggigil. “Lalu makhluk itu?” “Sekarang ia adalah Tina.” Aku menatap perempuan itu. “Bagaimana cara mengusirnya?” Ia tidak segera menjawab.

Ketika akhirnya berbicara, suaranya begitu pelan. “Tidak bisa.” Aku merasa seperti mendengar vonis kematian. “Kalau begitu apa yang harus kulakukan?” Ia menatapku dengan mata yang membuatku berharap ia berbohong. “Satu-satunya cara menghentikannya adalah membunuh raganya.” Aku pulang tanpa mengucapkan banyak kata. Di rumah, Tina sedang duduk di ruang tamu. Ia menoleh kepadaku. “Sudah pulang, Bu?” Aku berhenti di ambang pintu. Suara itu milik anakku. Wajah itu milik anakku. Senyum itu juga milik anakku. Tetapi untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa manusia tidak selalu tinggal di dalam tubuhnya sendiri. Aku mendekat. Tina tersenyum.

“Kenapa, Bu?” Aku tidak menjawab.

Aku hanya menatap matanya. Dan selama beberapa detik, aku melihat sesuatu bergerak di dalam sana. Sesuatu yang jauh lebih tua daripada anakku. Sesuatu yang sabar. Sesuatu yang telah menunggu bertahun-tahun untuk menemukan tubuh yang tepat. Tina kemudian memelukku.Tubuhnya hangat. Aku menangis di bahunya. Dan ia membelai rambutku seperti anak yang menenangkan ibunya. “Jangan menangis, Bu.”

Aku memejamkan mata. Dalam pelukan itu aku teringat satu hal yang selalu kulupakan, ketika Tina berusia sepuluh tahun, ia pernah bertanya kepadaku apakah orang mati dapat melihat orang hidup. Aku menjawab tidak. Sekarang aku tahu aku telah berbohong. Yang lebih mengerikan, mungkin orang mati bukanlah satu-satunya yang bisa melihat kita. Barangkali sesuatu yang lebih buruk sedang menunggu di balik mata orang yang kita cintai.

Dan kita tidak akan pernah tahu kapan ia mulai menatap melalui mata mereka.

Lembah, 2026

_____

Cerpen Husna Amalia Kasim

Husna Amalia Kasim lahir di Ternate, 28 Agustus 2011. Saat ini aktif sebagai siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Halmahera Barat. Ia dapat disapa melalui Instagram @cimellll___.

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *