15
Oktober
2026
Kamis - : WIB

Dari Kepulauan ke Ruang Digital: Saatnya Mahasiswa Maluku Menjadi Pencipta di Era Kecerdasan Artifisial

Lilis Sugiyanti Suwakul
Oktober 13, 2026 pada Perspektif
Ilustrasi tulisan “Dari Kepulauan ke Ruang Digital: Saatnya Mahasiswa Maluku Menjadi Pencipta di Era Kecerdasan Artifisial”. Gambar (Gemini)

Ada satu hal yang sering saya pikirkan ketika melihat perkembangan teknologi saat ini: kalau teknologi semakin pintar, apakah manusia juga akan semakin pintar?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, menurut saya, pertanyaan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa hari ini. Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya kita lihat dalam film atau kita dengar dari berita. AI sudah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk mencari informasi, menerjemahkan bahasa, menyusun ide, membuat gambar, menganalisis data, bahkan membantu mengerjakan tugas kuliah.

Kemudahan tersebut tentu merupakan sebuah peluang. Akan tetapi, kemudahan juga dapat menjadi persoalan ketika manusia mulai menyerahkan proses berpikirnya kepada teknologi.

Bagi saya, AI memang mempermudah dan mempercepat banyak hal ketika belajar. Ketika ada materi yang belum saya pahami, saya dapat meminta AI menjelaskannya dengan cara yang lebih sederhana. Namun, saya tidak ingin menerima jawabannya secara mentah. Saya biasa mencocokkan informasi dengan buku atau bertanya kepada dosen. Dengan begitu, AI menjadi alat bantu untuk memahami sesuatu, bukan satu-satunya sumber yang menentukan apa yang saya percaya.

Bagi saya, persoalannya bukan tentang apakah mahasiswa harus menggunakan AI atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah untuk apa AI digunakan dan siapa yang menentukan arah penggunaannya.

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting bagi mahasiswa di Maluku dan Maluku Utara. Kita hidup di wilayah kepulauan dengan kondisi geografis, akses, dan kebutuhan masyarakat yang tidak selalu sama dengan daerah lain di Indonesia. Karena itu, perkembangan teknologi seharusnya tidak hanya membuat mahasiswa Maluku menjadi pengguna teknologi yang diciptakan di luar daerah. Kita juga harus mulai memikirkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan yang ada di sekitar kita.

Ketika AI Masuk ke Ruang Pendidikan

AI memberikan banyak kemungkinan baru dalam pendidikan. Mahasiswa dapat menggunakannya sebagai teman belajar, membantu memahami materi, menemukan berbagai sudut pandang, atau menjadi alat bantu dalam penelitian.

Namun, ada garis tipis antara menggunakan AI untuk belajar dan menggunakan AI agar tidak perlu belajar.

Keduanya terlihat hampir sama, tetapi sebenarnya sangat berbeda.

Ketika mahasiswa menggunakan AI untuk memahami suatu materi kemudian membaca sumber lain, memeriksa kebenaran informasi, dan menyusun kesimpulannya sendiri, teknologi tersebut membantu proses belajar. Sebaliknya, ketika mahasiswa hanya memasukkan pertanyaan lalu menyalin jawaban AI tanpa membaca dan memahaminya, proses pendidikan justru kehilangan maknanya.

UNESCO melalui panduannya mengenai generative AI dalam pendidikan menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia. Penggunaan AI dalam pendidikan perlu memperhatikan aspek etika, keamanan, kesetaraan, perlindungan data, serta kemampuan manusia untuk tetap memiliki kendali dan berpikir secara mandiri.

Pengalaman tersebut membuat saya semakin sadar bahwa kemudahan menggunakan AI harus tetap diikuti dengan kebiasaan berpikir dan memeriksa. Saya merasa terbantu ketika AI memberikan penjelasan awal, tetapi saya tetap perlu memastikan apakah penjelasan tersebut sesuai dengan sumber yang saya pelajari. Menurut saya, cara seperti ini lebih baik daripada langsung percaya hanya karena jawaban AI terlihat meyakinkan.

Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan AI. Kita juga perlu belajar kapan harus menggunakan AI, kapan harus memeriksa jawabannya, dan kapan harus berpikir tanpa bergantung pada AI.

Sebab pendidikan bukan hanya tentang menghasilkan jawaban.

Pendidikan adalah tentang bagaimana seseorang belajar menemukan pertanyaan yang tepat, mencari kebenaran, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil kesimpulan berdasarkan pemikirannya sendiri.

Maluku Tidak Boleh Hanya Menjadi Konsumen Teknologi

Perkembangan teknologi digital sebenarnya memberikan kesempatan yang besar bagi daerah kepulauan seperti Maluku dan Maluku Utara.

Pemerintah Provinsi Maluku saat ini juga mendorong penguatan infrastruktur digital. Pada September 2026, Pemerintah Provinsi Maluku bersama Telkomsel membahas akselerasi digitalisasi dan penguatan infrastruktur, termasuk perluasan layanan ke wilayah seperti Buru Selatan, Pulau Seram, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, dan Maluku Barat Daya. Konektivitas tersebut diarahkan antara lain untuk mendukung pendidikan, pariwisata, dan layanan publik.

Ini menunjukkan bahwa pembicaraan tentang masa depan digital bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat Maluku.

Tetapi membangun koneksi internet saja belum cukup. Kita membutuhkan manusia yang mampu memanfaatkan koneksi tersebut. Di sinilah mahasiswa memiliki peran. Mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang bisa AI lakukan untuk saya?”

Kita perlu mengubah pertanyaan tersebut menjadi: “Apa yang bisa saya lakukan dengan AI untuk daerah saya?” Perubahan pertanyaan tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi menurut saya memiliki arti yang besar. Dari pengguna menjadi pencipta. Dari konsumen menjadi inovator. Dari orang yang hanya mengikuti perkembangan teknologi menjadi generasi yang ikut menentukan bagaimana teknologi digunakan.

Membawa Pengetahuan Maluku ke Ruang Digital

Maluku memiliki kekayaan yang tidak hanya berupa sumber daya alam. Kita juga memiliki cerita, bahasa, tradisi, kuliner, musik, sejarah, pengetahuan masyarakat, serta kehidupan masyarakat kepulauan yang memiliki nilai untuk generasi berikutnya.

Namun, kekayaan tersebut tidak akan otomatis dikenal oleh generasi muda hanya karena kekayaan itu ada. Kita perlu mendokumentasikannya. Di sinilah AI dapat menjadi salah satu alat yang digunakan mahasiswa. Mahasiswa dapat membuat proyek digital sederhana untuk mendokumentasikan cerita masyarakat di desa, mengarsipkan sejarah lokal, membuat konten edukasi mengenai budaya, atau membantu memperkenalkan bahasa dan tradisi daerah melalui media digital.

Misalnya, seorang mahasiswa dapat melakukan wawancara dengan orang tua atau tokoh masyarakat mengenai cerita sejarah suatu desa. Hasil wawancara tersebut kemudian ditranskripsikan, disunting, diterjemahkan, dan dikembangkan menjadi konten digital dengan bantuan teknologi.

Tetapi ada satu prinsip yang harus dijaga:

AI membantu mengolah pengetahuan, bukan menentukan kebenaran budaya tersebut. Sumber utamanya tetap berasal dari masyarakat dan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan cara seperti itu, teknologi justru dapat menjadi jembatan antara generasi muda dan pengetahuan lokal. Anak muda tidak hanya mengenal teknologi dari dunia luar, tetapi juga menggunakan teknologi untuk memperkenalkan identitas daerahnya kepada dunia.

Dari AI untuk Tugas Menjadi AI untuk Masyarakat

Pemanfaatan AI juga dapat diarahkan pada persoalan ekonomi masyarakat. Pada 2025, Pemerintah Provinsi Maluku menyoroti pentingnya kemampuan UMKM menghadapi era digital, termasuk pemanfaatan platform digital untuk meningkatkan promosi, efisiensi operasional, dan memperluas pasar.

Menurut saya, mahasiswa dapat mengambil peran dalam proses tersebut. Tidak semua pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk mempelajari teknologi digital secara mendalam. Di sinilah mahasiswa dapat menjadi penghubung.

Mahasiswa dapat membantu pelaku UMKM membuat katalog digital, menyusun deskripsi produk, membuat strategi konten media sosial, mengolah foto produk, menerjemahkan informasi produk, sampai membantu melakukan riset sederhana mengenai calon pasar.

Menurut saya, AI dan ruang digital dapat membantu UMKM atau pedagang agar lebih mudah dikenal. Produk yang dipromosikan melalui media digital dapat diketahui lebih cepat oleh orang lain dan informasinya dapat tersebar lebih luas. Hal ini membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk menjangkau calon pembeli yang sebelumnya mungkin belum mengetahui keberadaan produk tersebut.

Bayangkan jika mahasiswa di berbagai daerah di Maluku dan Maluku Utara memiliki satu proyek sederhana: satu mahasiswa mendampingi satu UMKM untuk masuk ke ruang digital. Jika dilakukan oleh banyak mahasiswa, dampaknya tidak lagi kecil.

Teknologi yang sebelumnya hanya digunakan untuk membuat tugas kuliah dapat berubah menjadi alat yang membantu masyarakat mendapatkan pasar yang lebih luas.

Dengan demikian, ilmu yang diperoleh mahasiswa di kampus tidak berhenti di ruang kelas. Ia pulang kepada masyarakat.

Gagasan “Mahasiswa Maluku Melek AI”

Dari berbagai persoalan tersebut, saya membayangkan sebuah gerakan yang saya sebut “Mahasiswa Maluku Melek AI.” Gerakan ini bukan sekadar mengajarkan mahasiswa cara membuat perintah atau prompt untuk AI. Lebih dari itu, gerakan ini memiliki tiga prinsip.

Pertama, menggunakan.

Mahasiswa harus mampu menggunakan AI untuk mendukung proses belajar, penelitian, kreativitas, dan pekerjaan secara produktif.

Kedua, memeriksa.

Setiap informasi yang diberikan AI tidak boleh langsung dianggap benar. Mahasiswa harus membandingkan informasi dengan jurnal, buku, data pemerintah, hasil penelitian, dan sumber terpercaya lainnya.

Kemampuan memeriksa ini sangat penting karena semakin mudah seseorang mendapatkan informasi, semakin besar pula kebutuhan untuk membedakan informasi yang benar dan yang keliru.

Kementerian Komdigi sendiri menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat dapat menghadapi hoaks, misinformasi, dan disinformasi, terutama ketika akses digital semakin luas.

Bagi saya, penggunaan AI yang baik dimulai dari kemampuan kita memilah apa yang kita cari dan apa yang memang bermanfaat bagi kita. Ketika kita mencari sesuatu tanpa mempertimbangkan sumber dan konteksnya, hasil yang kita dapatkan bisa saja tidak sesuai dengan kebutuhan. Jadi, ketika informasi yang diterima ternyata keliru atau tidak bermanfaat, kita juga perlu melihat kembali cara kita mencari dan menggunakan informasi tersebut. AI adalah alat, sedangkan manusia tetap bertanggung jawab untuk memilih, memeriksa, dan menggunakan hasilnya dengan tepat.

Ketiga, menciptakan.

Ini merupakan bagian yang paling penting. Mahasiswa jangan berhenti pada kemampuan menggunakan AI untuk kepentingan pribadi. Kita perlu mulai menciptakan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Bisa berupa aplikasi sederhana. Bisa berupa arsip budaya digital. Bisa berupa sistem informasi untuk masyarakat. Bisa berupa media pembelajaran. Bisa berupa digitalisasi UMKM.Bisa juga berupa penelitian yang menggunakan AI untuk membantu memahami persoalan di daerah.

Tidak harus selalu sesuatu yang besar. Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari masalah kecil yang diselesaikan dengan serius.

Suara Mahasiswa untuk Masa Depan

Maluku sedang menghadapi masa depan yang semakin digital. Pemerintah daerah sendiri memasukkan penguatan sumber daya manusia, sains dan teknologi, pendidikan, serta konektivitas antarwilayah sebagai bagian dari arah pembangunan Maluku 2025–2029. Karena itu, mahasiswa tidak boleh hanya menunggu perubahan datang. Kita harus mengambil bagian di dalamnya. Namun, menjadi bagian dari perkembangan teknologi bukan berarti meninggalkan identitas sebagai orang Maluku. Justru sebaliknya. Teknologi harus digunakan untuk membuat identitas, pengetahuan, dan potensi daerah semakin dikenal.

Saya membayangkan suatu hari nanti seseorang di luar Maluku dapat mengenal cerita masyarakat kepulauan melalui arsip digital yang dibuat mahasiswa Maluku. Seorang pelaku usaha kecil dapat menjual produknya kepada konsumen di luar daerah karena dibantu mahasiswa yang memahami teknologi. Seorang pelajar di pulau kecil dapat memperoleh bahan belajar yang lebih baik karena ada mahasiswa yang membuatnya. Dan seorang anak muda dapat mengenal kembali budaya daerahnya melalui teknologi yang selama ini dianggap hanya membawa budaya dari luar.

Pada titik itu, teknologi tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang datang dari jauh. Teknologi menjadi milik kita juga.

Pada akhirnya, kecerdasan artifisial mungkin akan terus berkembang. Kemampuannya mungkin akan semakin besar dan kecepatannya akan semakin tinggi. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan kepada teknologi: kemampuan kita untuk menentukan apa yang penting bagi manusia.

AI dapat membantu kita menulis, tetapi manusia harus menentukan apa yang ingin disampaikan. AI dapat membantu mencari informasi, tetapi manusia harus menentukan apa yang benar. AI dapat membantu membuat sesuatu, tetapi manusia harus menentukan untuk siapa sesuatu itu dibuat.

Karena itu, saya percaya bahwa mahasiswa Maluku dan Maluku Utara tidak seharusnya hanya menjadi generasi yang bertanya, “Bagaimana saya menggunakan AI?”

Kita harus mulai bertanya:

“Bagaimana saya menggunakan AI untuk membuat kehidupan di sekitar saya menjadi lebih baik?”

Dari pertanyaan itulah perubahan dapat dimulai.

Bagi saya, menjadi pencipta di era AI tidak berarti harus langsung membuat teknologi yang besar. Menjadi pencipta juga berarti mampu melihat kebutuhan di sekitar, menggunakan teknologi dengan bijak, memeriksa informasi, lalu menghasilkan sesuatu yang memiliki manfaat bagi orang lain.

Kita mungkin berasal dari pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut. Namun teknologi memberi kita kesempatan untuk membangun jembatan yang menghubungkan pengetahuan, kreativitas, dan masyarakat.

Maka, biarlah suara mahasiswa Maluku tidak hanya terdengar di ruang kuliah. Biarlah suara itu terdengar di ruang digital. Bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pencipta masa depan. Karena masa depan yang lebih cerah tidak cukup hanya ditunggu. Masa depan harus mulai kita ciptakan dari sekarang.

***

Lilis Sugiyanti Suwakul adalah mahasiswa di Fakultas Ekonomi, Universitas Darussalam Ambon. Tulisan ini meraih Juara 2 di Lomba Esai Kontemporer antar Mahasiswa se-Maluku dan Maluku Utara pada rangkaian kegiatan Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) Politeknik Negeri Ambon 2026 dalam menyongsong Dies Natalis Politeknik Negeri Ambon ke-39.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

by halmaheranesia
MENU
close