02
Oktober
2026
Jumat - : WIB

AI dan Masa Depan Kemanusiaan

Mario Panggabean
September 27, 2026 pada Perspektif
Ilustrasi tulisan Mario Panggabean “AI dan Masa Depan Kemanusiaan”. Gambar (Gemini)

“Teknologi baru tidak selalu

dapat memberi manfaat kepada semua orang”

(Simon Johnson, Profesor MIT Sloan, Nobelist)

Akhir-akhir ini saya mencoba untuk mendalami peranan AI dan dalam membantu pekerjaan manusia. Beruntung, kesempatan tersebut saya dapatkan dalam bentuk pelatihan berseri untuk membekali pesera pelatihan dalam memanfaatkan AI atau akal imitasi yang kritis dan bertanggung jawab.  Dalam perjalanan pelatihan, saya mendapatkan berbagai sudut pandang baru. AI tentu saja mampu membantu pekerjaan namun, di sisi lain, pernyataan yang disampaikan beberapa peserta cukup mengejutkan; AI semakin memudarkan kemampuan dasar yang telah dibangun bertahun – tahun. Dalam hal ini, menulis dan menyusun kerangka berpikir.

Kondisi tersebut semakin menarik diri untuk melihat dampak AI bagi kemanusiaan. Salah satunya dari artikel ABC Australia yang berjudul “Australia need an AI ‘early warning system’, top cybersecurity chief warns” (15/9/2026) yang mempublikasikan bahwa “negeri jiran” yang berada di sudut selatan tersebut berdasarkan kajian lembaga intelejen sibernya membutuhkan sistem peringatan dini untuk melindungi masyarakat dari bahaya meningkatknya dampak perkembangan teknologi tersebut.

Di sisi lain, ribuan pekerja di perusahaan AI menyatakan pernyataan tertulis yang terlampir di artikel di atas juga mengingatkan semua pihak agar pengembangan AI dapat diperlambat. Salah satu pernyataan tertulis tersebut dibuat oleh Shengjia Zhao, peneliti utama Meta AI, “Perkembangan AI yang sangat cepat mungkin belum siap dihadapi oleh masyarakat kita, kecerdasan dan kecepatan perkembangan tersebut akan memberi dampak risiko sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sehingga untuk memastikan masa depan yang positif kita membutuhkan pengembangan AI dengan teliti dan bertanggung jawab”.

Pernyataan Zhao sangat tepat jika terlefeksi dengan kenyataan akhir – akhir ini. Kita tentu saja masih mengingat adanya pernyataan seorang pembesar yang merendahkan salah satu profesi kerja dan berhasil memantik amarah publik hingga terjadinya dampak nyata yang terjadi. Ternyata setelah ditelaah lebih jauh, pernyataan tersebut telah diubah dengan sedemikian rupa menggunakan bantuan AI yang dikenal dengan deep fake . Tentu saja tidak semua orang mampu melihat segala yang terlontar di kanal media sosial merupakan sebuah realita. Tepat rasanya melihat bahwa akal imitasi dan kecanggihannya belum tentu mampu berdampak baik kepada setiap orang. Dibutuhkan pikiran kritis dan cara berpikir ilmiah untuk menghalau dampak – dampak buruk dari akal imitasi. Namun, sayang, dalam kesehariaan dan dunia pendidikan, acap kali, individu yang memiliki cara pikir kritis dan ilmiah dianggap sebagai orang yang menyebalkan dan diangap aneh.

Selain itu,  hal menarik lain terpublikasi di MIT Technology Review yang berisi liputan investigasi jurnalistik dengan judul AI Colonialism. Dalam pengantarnya, AI menciptakan tatanan dunia baru serta mencatat semakin banyak intelektual yang melihat bahwa AI mengulangi pola sejarah kolonial. Jika dahulu kolonialisme menalukkan bangsa, mengambil sumber daya dan mengeksploitasi manusia, AI melakukan pola yang sama, pihak yang menggengam teknologi kelak mengeksploitasi sumber daya dan manusia.  Dalam liputan berseri tersebut menyampaikan kehidupan masyarakat yang dikendalikan oleh mekanisme akal imitasi dari berbagai wilayah di dunia.

Namun, di balik itu semua, tentu saja , sebagai manusia, kita tidak dapat mengelak kemajuan zaman. Sepanjang kehidupan, kelompok yang menolak modernisasi akan terlempar dari arus waktu. Terlena dengan modernisasi juga dapat membahayakan kemanusiaan itu sendiri. Sering kali pula kita mendengar pameo bahwa perkembangan teknologi seperti “pisau bermata dua”, dia akan bermanfaat jika dengan bijak digunakan. Dan tentu saja, sebagai warga negara kita patut mendorong penguasa juga memikirkan dampak dari pesatnya teknologi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan sampai hal klasik selalu terulang, “tiba akal , tiba masa”. Semoga.

_____

Penulis: Mario Panggabean | Pemerhati Publik

Disalin
by halmaheranesia
MENU