Halmaheranesia – Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara mencatat inflasi tahun ke tahun atau Year on Year (y-on-y) menguat di Provinsi Maluku Utara pada Desember 2025 sebesar 1,63 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,08.

Kota Ternate menjadi daerah dengan inflasi tertinggi yakni 1,91 persen (IHK 110,29), sementara Kabupaten Halmahera Tengah mencatat inflasi sebesar 0,39 persen dengan IHK 109,13.

Kepala BPS Maluku Utara, Simon Sapary, menyebutkan inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 7,91 persen, disusul perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 4,43 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,26 persen.

“Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok transportasi sebesar 2,12 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,36 persen, kesehatan 1,29 persen, makanan, minuman, dan tembakau 0,95 persen, serta pakaian dan alas kaki 0,58 persen,” ujar Simon dalam rilis resmi yang diterima Senin, 5 Januari 2025.

“Sementara itu, tiga kelompok mengalami deflasi, yakni pendidikan sebesar 19,81 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,17 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen,” sambungnya.

Secara bulanan, kata Simon, inflasi month to month (m-to-m) Maluku Utara pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,05 persen. Adapun inflasi year to date (y-to-d) Desember 2025 terhadap Desember 2024 mencapai 1,63 persen.

Menurut Simon, kelompok kesehatan pada Desember 2025 mengalami inflasi y-on-y sebesar 1,29 persen, ditandai dengan kenaikan indeks dari 101,65 pada Desember 2024 menjadi 102,96 pada Desember 2025.

“Inflasi pada kelompok ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada subkelompok obat-obatan dan produk kesehatan yang mencapai 2,63 persen,” kata Simon.

Ia mengatakan, kelompok kesehatan memberikan andil atau sumbangan inflasi y-on-y sebesar 0,02 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi y-on-y pada kelompok ini adalah obat gosok dengan andil sebesar 0,01 persen. Kelompok kesehatan tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi m-to-m.

Selain itu, Simon menegaskan perbedaan justru terjadi pada kelompok pendidikan yang mengalami deflasi terdalam sebesar 19,81 persen, akibat turunnya indeks dari 104,63 pada Desember 2024 menjadi 83,90 pada Desember 2025.

Menurutnya, deflasi terutama dipicu subkelompok pendidikan menengah yang turun hingga 66,33 persen. Meski demikian, pendidikan dasar dan anak usia dini justru mengalami inflasi sebesar 5,00 persen.

“Kelompok pendidikan memberikan andil deflasi y-on-y sebesar 0,52 persen, dengan tarif sekolah menengah atas menjadi komoditas dominan penyumbang deflasi sebesar 0,56 persen, sementara tarif sekolah dasar memberikan andil inflasi y-on-y paling kecil yakni sebesar 0,03 persen,” pungkasnya.

Bagikan:

Andri R. Mansur

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *