Halmaheranesia – Terik matahari seperti bara api yang menyala, cahayanya masuk menyelinap hingga ke teras rumah warga, sementara jalanan tampak begitu lengang, hanya embusan angin–menyapu dedaunan pohon pala, hening, tanpa bising kendaraan dan padatnya aktivitas di pusat kota.

Di punggung Gunung Gamalama, Kelurahan Marikurubu, Kota Ternate, Maluku Utara, di situlah tempat seorang pria paruh baya bernama Hamadal Minggu membudidayakan lebah madu Trigona atau lebah tanpa sengat (stingless bees) dari suku Meliponini, khususnya genus Trigona atau Tetragonula, untuk produksi madu alami.

Lebah madu Trigona punya beberapa karakteristik yang membedakannya dari lebah madu lainnya. Ukuran tubuh mereka lebih kecil dan tidak memiliki sengat. Selain itu, perilaku sosial mereka cukup kompleks dan hidup dalam koloni yang besar.

Selain madu Trigona, Hamadal juga membudidayakan jenis madu Cerana. Jenis madu ini rasanya lebih manis ketimbang Trigona. Tapi jenis madu tersebut masih dalam tahapan proses dan belum masuk masa panennya.

Awis, anaknya Hamadal yang ikut membudidayakan lebah madu Trigona. Foto (Rifki Anwar/halmaheranesia)

Jarak kebun tempat Hamadal membudidayakan lebah memang tidak jauh dari rumahnya, hanya sekitar 300 meter lebih untuk bisa melihat tempat madu alami diproses. Di sebelahnya, tak jauh dari lahan miliknya, hamparan pohon pala berjejer mengikuti arah tenggelamnya matahari.

Pria 73 tahun itu memang begitu akrab dengan kebun, separuh hidupnya ia habiskan di sana. Bertahun-tahun menyemai nasib di kebun memang tak mudah, namun bagi Hamadal, tanah dan kebun sudah seperti napas yang selalu memberikan kehidupan untuk keluarganya.

Ukuran lahan miliknya memang tidak begitu besar, di dalamnya terdapat petakan lahan yang ditanami pohon cabai, serta beberapa pohon durian tumbuh tak jauh dari rumah kebunnya. Meski begitu, di sanalah pria sepuluh anak itu menyusun hidup serta menjaga harapannya.

Saat tiba di lokasi tersebut, tampak di arah bagian timur, sebuah rumah kecil lainnya berdiri kokoh, tempat lebah-lebah dikumpulkan, lalu menghasilkan madu dari proses mengumpulkan nektar bunga di sekitar mereka.

Siang itu, Senin, 2 Februari 2026, saat ditemui halmaheranesia, Hamadal tampak sibuk membersihkan rumah lebah miliknya. Sesampainya di sana, ia langsung menyapa kami dengan senyuman yang hangat lalu mempersilakan duduk.

Tak lama kemudian, ia mengambil posisi duduk lalu mulai bercerita. Baginya, ternak lebah hanyalah pekerjaan sampingan. Sejatinya Hamadal adalah seorang petani pala.

“Pekerjaan ini (petani pala) sudah lama saya jalani, semenjak masih bersama almarhumah atau mendiang istri, sampai hari ini,” ucap Hamadal.

Rencana Sederhana untuk Kesehatan

Hamadal mengaku, mulanya tak ada niat atau rencana membuat rumah lebah untuk produksi madu lalu dijual. Sebelumnya ia melihat banyak lebah yang membuat sarang di rumahnya, lalu ide tersebut dengan sendirinya muncul.

Namun, kata Hamadal, ide pembuatan rumah lebah tersebut sekadar sebuah inisiatif sederhana, sebab pembuatannya tidak butuh modal, tak ada harapan lebih, hanya memanfaatkan madu tersebut sebagai pengobatan.

“Budidaya madu ini mulai sejak tahun 2022, dan pertama kali buat memang tara (tidak) bafikir (berpikir) cari doi (uang), tapi untuk berobat (pengobatan) saya pe (punya) diri sendiri, karena madu juga baik untuk kesehatan,” ujarnya.

Ia bercerita, cara pembuatan rumah lebah begitu sederhana, hanya menggunakan kayu, di buat dalam bentuk persegi empat, ada yang berbentuk kotak dan ada juga yang bentuknya lonjong, kemudian dibiarkan sedikit lubang.

“Setelah itu, lubang tersebut ditaruh bibit lebah, kemudian dibiarkan di atas rumah panggung kecil, lebah akan datang dengan sendirinya,” jelasnya.

Hamadal juga menyebutkan bahwa cara panen juga tak begitu ribet, cukup mengambil sarang lebah yang ada madunya, lalu diremas ke dalam botol, prosesnya begitu sederhana dan masih sangat alami.

Sementara musim panennya berjalan tiga sampai empat bulan sekali. Setelah panen pertama ia kemudian memutuskan agar produksi madu tersebut sepertinya harus dijual keluar.

Walaupun sebagai seorang petani pala, dengan usia yang sudah sepuh serta hasilnya yang tak menentu dan kerap dibagi ke anak-anaknya, membuat Hamadal harus mengambil langkah untuk menjual hasil panen madu tersebut, setidaknya bisa memenuhi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya.

Asam Manis Hidup Hamadal Menjaga Madu Trigona

Pada penyuluhan pertama, lanjutnya, hasilnya pun dilirik oleh Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon, dan BPHL Wilayah XVI Ambon yang wilayah kerjanya meliputi Maluku Utara.

Torang (kami) akhirnya dapat bantuan penambahan rumah lebah, dan hasil panen selalu dorang (mereka) pesan,” katanya.

Ia menambahkan, semenjak dimulai di tahun 2022, musim panen madu terbesar pernah terjadi pada tahun 2023. Saat itu, hasil panennya mencapai 13 botol madu, dengan total pendapatan sebesar Rp 1.170.000.

“Satu botol madu ukuran 100 mil harganya Rp 90 ribu, jadi waktu itu, torang dapa (dapat) sekitar Rp 1.170.000, tara sangka, memang tara banyak, tapi alhamdulilah bisa membantu torang punya kebutuhan,” ungkapnya.

Awis, anaknya Hamadal yang ikut membudidayakan lebah madu Trigona. Foto (Rifki Anwar/halmaheranesia)

Meski sudah enam kali panen, kata dia, hasil tersebut kadang tidak menentu, tak selalu berjalan sesuai keinginan, keberadaan semut justru membuat Hamadal bersama seorang anak lelakinya bernama Awis setiap saat harus bolak-balik memeriksa serta melakukan pembersihan.

Ia mengungkapkan, banyak semut justru menjadi kendala besar. Semut memang tak membuat gagal panen, tapi hasil madunya menjadi kabur serta memengaruhi kualitasnya. Selain itu, satu tahun terakhir, hasil panen justru makin menurun.

Dalam satu tahun terakhir, hasil panen mereka hanya bisa mencapai 5 sampai 6 botol, dan yang paling terakhir, hasilnya cuma 3 botol madu dengan pendapatan sekitar 200-500 ribu.

Menurutnya, setiap usaha pasti ada kendala. Namun, ia justru bersyukur, dari hasil budidaya lebah tersebut, Hamadal akhirnya mampu membentuk sebuah kelompok produksi madu alami.

Selain itu, Hamadal dan anaknya Awis juga sukses membuat kelompok lainnya yang fokus mengembangkan daging buah pala menjadi selei maupun perman dengan melibatkan warga setempat. Kelompok bergerak seadanya, fasilitas yang biasa, bahkan tanpa bantua Pemerintah Kota Ternate.

“Biar pendapatan setiap panen akhir-akhir ini menurun, tapi alhamdulilah, setidaknya torang istilahnya masih bisa beli gula dan kopi,” katanya.

“Saya memang sudah berumur, tapi saya harus tetap kerja, tara boleh selalu bergantung ke anak-anak saya, karena mereka sebagian sudah punya tanggung jawab masing-masing,” sambungnya.

Hamadal menuturkan, walaupun pendapatan setiap panen semakin menurun, itu tidak membuat dirinya patah semangat, ia percaya bahwa hidup selalu punya kejutan, selalu punya cara, dan yang paling penting, tak boleh khawatir apalagi tenggelam dalam kecemasan.

“Saya percaya, masing-masing orang punya rezeki, tapi torang tara boleh cemas dan khawatir, kalau terus usaha, pasti ada jalan baik,” tutur Hamadal lirih, namun tegas.

Matahari perlahan mulai miring ke barat, suara burung saling bersahutan di kejauhan, di akhir percakapan itu, Hamadal menitipkan harapan besar kepada Pemerintah Kota Ternate agar usaha mereka mendapatkan perhatian serius.

Di sebuah kebun kecil itu, Hamadal tengah menyemai nasibnya, ia adalah potret ketangguhan yang sebenarnya. Semangatnya justru lebih besar dari terik matahari yang makin meninggi siang itu.

Sementara budidaya madu, semacam sungai di dalam hidupnya, mengalir ke harapan yang satu–menuju ke harapan selanjutnya.

“Budidaya madu ini sudah jadi bagian dari saya punya hidup, tetap sabar kalau panen kacil, semoga ini bisa bertahan dan bantu kami punya ekonomi,” tutup Hamadal, sore itu, saat matahari benar-benar miring, siluetnya menyapu punggung Gamalama.

____

Penulis: Andri R. Mansur | Fotografer: Rifki Anwar

Bagikan:

Andri R. Mansur

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *