Halmaheranesia – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate mengecam keras dugaan tindakan intimidasi terhadap sejumlah jurnalis saat meliput pertandingan BRI Super League antara Malut United melawan PSM Makassar di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Sabtu, 7 Maret 2026 malam.
Ketua AJI Ternate, Yunita Kaunar, menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk penghalangan terhadap kerja jurnalistik yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Menurut Yunita, kebebasan pers merupakan bagian dari hak publik untuk memperoleh informasi. Karena itu, setiap bentuk intimidasi, tekanan, maupun paksaan terhadap wartawan untuk menghapus materi liputan tidak dapat dibenarkan.
“Setiap upaya intimidasi atau paksaan terhadap wartawan untuk menghapus materi liputan, baik artikel maupun video, adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan berpotensi melanggar hukum,” tegas Yunita dalam pernyataan sikap AJI Ternate, Minggu, 8 Maret 2026.
Ia juga mengecam segala bentuk penghalangan terhadap kerja jurnalistik di ruang publik, termasuk di arena olahraga. Organisasi jurnalis tersebut mendesak manajemen Malut United untuk memberikan klarifikasi secara terbuka serta mengambil tindakan tegas terhadap oknum yang diduga terlibat dalam tindakan intimidasi.
Selain itu, AJI Ternate meminta pihak penyelenggara liga dan pengelola Stadion Gelora Kie Raha untuk menjamin keamanan serta kenyamanan wartawan dalam menjalankan tugas peliputan.
Ia mendorong aparat penegak hukum untuk memantau dan menindaklanjuti peristiwa tersebut apabila ditemukan unsur pelanggaran hukum terhadap kebebasan pers.
Ia mengatakana wartawan bekerja untuk kepentingan publik, sehingga semua pihak diharapkan dapat menghormati dan melindungi kerja-kerja jurnalistik sebagai bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan kronologi yang dihimpun AJI Ternate, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 23.05 WIT setelah pertandingan antara Malut United dan PSM Makassar berakhir.
Saat itu, sejumlah wartawan masih melakukan aktivitas peliputan pasca pertandingan di area Stadion Gelora Kie Raha. Salah satu wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate, Irwan Djailan, sedang mendokumentasikan perjalanan perangkat pertandingan yang meninggalkan lapangan menuju ruang ganti.
Namun, seorang pria yang diduga merupakan official tim Malut United menghampiri wartawan dan mempersoalkan aktivitas perekaman tersebut. Pria tersebut kemudian diduga melakukan intimidasi dengan meminta wartawan menghapus rekaman video yang telah diambil.
Tidak hanya itu, pria tersebut juga diduga memprovokasi suporter di sekitar lokasi serta meminta steward stadion untuk mengusir wartawan dari area tribun, meskipun para jurnalis telah menggunakan ID Card resmi peliputan Super League dan berada di area yang diperbolehkan untuk kegiatan jurnalistik.





