Aku jadi babi setelah bertahun-tahun jadi hantu dalam tidur seseorang, “Kau babi, tapi aku mencintaimu!” itu dikatakannya dengan sepenuh hati setelah menjebloskan headset ke lubang telepon pintarnya dengan tergesa-gesa, dari seberang, suara grasa-grusu itu membawaku pada suatu khayalan genit dengan harapan bahwa babi dalam mimpinya tak berani melucuti sesuatu, seperti celana, baju, atau apa saja yang akan merusak perumpamaan tak senonoh itu.
Seseorang, entah siapa, tak muncul sebagai sebuah nama, namun angka dua dua tiga tiga di pangkal nomor telepon ini, seingatku pernah menduduki posisi puncak dalam daftar kontakku dengan bergelar emot love berwarna hitam di hari Rabu, putih di Kamis malam, kadang-kadang api, kadang-kadang terong kemudian fu*k you dan apa saja sesuka hatiku selain dua hari itu. Aku mengenang.
Kami bercerita sebagai dua orang yang tidak saling kenal dengan pertanyaan-pertanyaan dramatis tentang pekerjaan, kesibukan, orang tua dan berakhir dengan olok-olok berkedok iba, bagaimana nasibmu sekarang? Tentu saja ia mungkin berharap agar tidak mengorek-ngorek kotoran di lubang hidung, karena mengenang sepertinya bukan pilihan yang baik untuk diobrolkan sekarang, dan kotoran di lubang hidung adalah peringatan: “Aku sedang malas mengupil sekarang, tuan Babi!”, tegasnya.
Selain berbahaya dan mengandung bencana moral, tergesa-gesa, kumatikan Cigaretes After Sex yang sedang menggulir tiap-tiap ingatan itu lewat playlist wajib yang kebetulan akan selalu terputar di leptop. Aku lupa jika Nothing’s Gonna Hurt You Baby adalah lagu kesukaannya, meskipun setelah lima tahun tak lagi berkabar, ia masih saja tak lupa menegurku dengan halus “Matikan lagu sampah itu, aku di kantor dan belum berminat pergi ke kamar mandi”.
Kami berbasa-basi. Menertawakan cerita-cerita yang sebenarnya kurang penting, sambil menunggu siapakah gerangan yang berani memangkas kumis Hitler dalam perang dingin pagi ini—menopeng kata “birahi” dengan ungkapan genit seperti “Aku kangen kamu” atau “Jujur saja, aku juga begitu!” (Belum ada yang berani menutup telepon)—mengungsikan sejenak ingatan-ingatan binal itu dengan mengubah-ubah intonasi. Lembut, keras, lembut lagi, keras lagi, dan seterusnya; suara-suara memang tak pernah berbohong. Terlebih lagi bagi seorang lelaki yang sudah jadi babi, hal-hal yang menjijikkan selalu pantas dinikmati. Biasa saja. Karena sekali lagi, suara-suara memang tak pernah berbohong, apalagi suara-suara yang berkobar dari masa lalu yang penuh dengan kejutan. Yang membuat pesan-pesan terselubung terasa begitu menggelikan.
Telepon berdering-dering. “Babi… babi…babi …,” seseorang mungkin sedang memaki-maki. Setelah bunyi beep untuk yang ke sekian kali. Marilah kita sudahi peristiwa yang menjemukkan ini dengan mengubur diri dalam penyesalan di bawah bantal. Membiarkan ketegangan yang sementara ini layu, berlalu, lekas-lekas tertidur.
Babi! (blip! Notifikasi).
____
Fiksi mini oleh WDGafoer





