Halmaheranesia – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Sango, Kota Ternate, menggelar rapat koordinasi (rakor) perdana bersama sejumlah sekolah dari jenjang TK, SD hingga SMP di wilayah Kecamatan Ternate Utara.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kedai Wcoffe, Kelurahan Jati, Kota Ternate, Kamis, 7 Mei 2026, dengan melibatkan sepuluh sekolah dan dihadiri langsung oleh perwakilan Yayasan Walisongo sebagai mitra Badan Gizi Nasional (BGN), kepala sekolah, serta sejumlah guru.
Perwakilan Pengurus Yayasan Walisongo Maluku Utara, Sendy Rahman, menyampaikan bahwa langkah tersebut merupakan upaya untuk menjalin komunikasi yang intens dengan para stakeholder, dalam hal ini pihak sekolah.
“Rakor ini menjadi langkah untuk meminimalisir hal-hal minor atau buruk yang terjadi di lapangan, sehingga menjadi catatan penting agar hal seperti itu tidak terjadi lagi,” ucap Sendy.
Sendy menyebutkan, bahwa pembahasan penting dalam rakor tersebut adalah persoalan waktu distribusi makanan ke setiap sekolah yang dianggap kurang tepat.
Ia mencontohkan, proses distribusi makanan dengan jumlah 1.060 porsi dinilai dapat mengganggu jam pelajaran siswa.
Karena itu, kata Sendy, melalui momentum rakor tersebut mereka melakukan koordinasi untuk membahas waktu yang tepat dalam proses distribusi tanpa mengganggu jam belajar siswa.
Kepala Dapur SPPG Sango, Fadli Haris, mengatakan rakor ini merupakan bagian dari proses evaluasi dan sinergi. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan berdasarkan arahan atau petunjuk teknis (juknis), di mana setiap satu bulan pihaknya melakukan rapat bersama stakeholder terkait.
“Rakor ini bertujuan untuk mengevaluasi program-program kami yang sudah berjalan sekitar satu tahun tiga bulan, dan evaluasi ini perdana kami lakukan. Bahkan, untuk Kota Ternate dimulai dari SPPG Sango,” katanya.
“Evaluasi ini juga berkaitan dengan menu, kemudian saran-saran dari pihak penanggung jawab dan kepala sekolah terkait menu yang kami sajikan, kandungan gizi, kemudian waktu distribusi yang sedikit terlambat. Ini menjadi bahan koreksi kami ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Kota Ternate, Hizkia, berharap langkah tersebut dapat diikuti oleh SPPG lainnya di Kota Ternate, karena proses evaluasi dilakukan secara bersama-sama.
“Jadi jangan hanya evaluasi di internal, tapi juga di eksternal, supaya kita bisa tahu apa yang terjadi di lapangan. Kemudian koordinasinya akan terus kami perkuat,” jelasnya.
Terkait ketersediaan pangan untuk kebutuhan makanan di Kota Ternate, ia mengaku masih sangat terbatas karena sebagian besar bahan diambil dari luar kota. Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu kendala.
Meski begitu, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan dinas terkait agar seluruh kendala dapat segera teratasi.
Ia menegaskan semua masukan akan diterima, dan mereka berharap setelah rakor tersebut semuanya menjadi lebih baik, terutama terkait waktu distribusi makanan yang ideal.
“Semua itu sudah kami evaluasi setiap hari, kemudian sudah disampaikan ke pihak sekolah, dalam hal ini guru,” pungkasnya.





