Halmaheranesia – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Ternate terus memperkuat koordinasi untuk menangani masalah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sepanjang musim kemarau tahun 2026.

Wilayah Kota Ternate Utara menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian karena kebakaran lahan terjadi secara berulang. Pihak Damkar Ternate mencatat sebanyak 79 peristiwa Karhutla yang terjadi sepanjang Januari hingga September 2026.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Ternate, Naim Syafar, mengatakan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan petugas Damkar. Kerja-kerja penanganan sangat membutuhkan koordinasi yang intens.

Sehingga itu, keterlibatan masyarakat dan sinergi dengan sejumlah instansi, termasuk TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dinilai penting karena karakter kebakaran di kawasan hutan dan lahan berbeda dengan kebakaran di wilayah perkotaan.

“Kalau sudah di hutan dan lahan itu luas, kemudian akses jalan juga kita tidak bisa jangkau. Jadi membutuhkan sinergitas antara Damkar dengan instansi terkait,” ujar Naim, Rabu, 16 September 2026.

Menurut dia, faktor cuaca menjadi penyebab sehingga masalah kebakaran seringkali terjadi, terutama pada kawasan kering, dan ditambah angin kencang yang justru sangat memengaruhi.

“Yang sering terjadi Karhutla itu di bagian Ternate Utara, kalau di Selatan aman-aman saja, padahal di Selatan juga banyak tumbuhan alang-alang,” katanya.

Penanganan karhutla di Ternate, kata dia, menghadapi kendala berat, terutama terkait akses medan yang terjal di area ketinggian serta keterbatasan armada untuk menjangkau titik api.

Karena itu, pihaknya bakal membangun sinergitas bersama TNI, Polri, BPBD, dan warga lokal sebagai upaya untuk meningkatkan penanganan pemadaman maupun pemantauan wilayah.

Sebagai langkah antisipasi, Damkar dan BPBD Kota Ternate telah menyiagakan bak penampungan air di sejumlah titik rawan seperti Kelurahan Kulaba, Tobololo, dan Loto. Keberadaan fasilitas ini bertujuan mempermudah pasokan air bagi personil dan masyarakat saat terjadi penanganan darurat di lokasi yang sulit diakses mobil pemadam.

Naim meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau. Imbauan itu disebut telah disampaikan berulang kali, termasuk kepada warga yang tinggal di sekitar wilayah rawan kebakaran.

“Imbauan kami, masyarakat harus kurangi aktivitas pembakaran-pembakaran. Kalau mengarah hingga ke areal permukiman itu sangat berbahaya,” pungkasnya.

Bagikan:

Andri R. Mansur

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *