
Halmaheranesia – Pemerintah Kota Ternate terus mematangkan persiapan pengembangan Aspiring Geopark Ternate untuk meraih pengakuan sebagai Geopark Nasional hingga menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, mewakili Wali Kota Ternate, memaparkan draf Rencana Induk Aspiring Geopark Ternate dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektor yang difasilitasi Kementerian PPN/Bappenas di Auditorium Ismunadji, Bogor, Rabu, 08 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut melibatkan perwakilan kementerian dan lembaga pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, tim penyusun, serta asosiasi kebumian. Koordinasi ini bertujuan memperkuat sinkronisasi program dan dukungan lintas sektor dalam pengembangan geopark di Kota Ternate.
Dalam paparannya, Rizal menegaskan pengembangan Aspiring Geopark Ternate mengusung tema ‘Harmoni Gunung Api, Rempah, dan Peradaban di Gerbang Wallacea’. Tema tersebut menggambarkan keterkaitan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta sejarah dan budaya masyarakat Ternate.
“Kawasan Aspiring Geopark Ternate mencakup wilayah daratan dan perairan seluas 228,17 kilometer persegi, meliputi enam kecamatan dan dua pulau utama, yakni Pulau Ternate dan Pulau Hiri. Kawasan ini memiliki 19 geosite, enam biosite prioritas, serta 25 situs budaya atau cultural site,” katanya.
Menurut dia, penyusunan rencana induk tersebut merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark) dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 69.K/GL.01/MEM.G/2025 tentang Penetapan Warisan Geologi (Geoheritage) Kota Ternate.
Sebelumnya, kata dia, Gubernur Maluku Utara juga telah mengajukan permohonan penetapan Geopark Nasional Ternate sekaligus meminta rekomendasi kepada Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) pada 31 Agustus 2026.
Dalam rapat koordinasi itu, pemerintah bersama para pemangku kepentingan membahas 12 isu prioritas beserta indikasi aksi penanganannya. Isu tersebut mencakup konservasi dan tata ruang, mitigasi bencana, pengelolaan sampah pesisir, konektivitas wilayah, integrasi budaya dan keanekaragaman hayati, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pada aspek konservasi, perlindungan warisan geologi menjadi perhatian utama, terutama untuk mengantisipasi ancaman perambahan lahan dan penambangan material. Upaya tersebut diarahkan melalui penguatan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG).
Sementara itu, dari aspek mitigasi bencana, pengembangan geopark turut mempertimbangkan kerawanan Ternate terhadap erupsi Gunung Gamalama, gempa bumi, tsunami, dan bencana hidrometeorologi. Penguatan sistem peringatan dini serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian dari rencana penanganan.
Pengelolaan sampah plastik di kawasan geosite, seperti Batu Angus dan Danau Tolire, juga menjadi perhatian. Selain itu, rehabilitasi dan pembangunan dermaga penyeberangan direncanakan untuk memperlancar konektivitas laut antara Pulau Ternate dan Pulau Hiri.
Pengembangan geopark juga diarahkan untuk mengintegrasikan sejarah rempah, tradisi Kesultanan Ternate, kuliner, dan perlindungan ekosistem pesisir maupun daratan. Pada sektor ekonomi, pemerintah mendorong penguatan peran UMKM dan perempuan melalui pengembangan geoproduk berbasis rempah, kuliner, serta kerajinan lokal.
Secara keseluruhan, pengembangan Aspiring Geopark Ternate bertumpu pada empat pilar utama, yakni konservasi, edukasi, ekonomi masyarakat, dan sarana pelaksanaan.
“Dalam dokumen rencana induk, terdapat 99 aksi yang disusun dalam matriks program dengan tiga fase pelaksanaan. Tahap jangka pendek pada 2027–2028 difokuskan pada pengkajian dan perencanaan, tahap jangka menengah pada 2027–2031 diarahkan pada pelestarian dan pengembangan sarana, sedangkan tahap jangka panjang pada 2027–2037 ditujukan untuk pemanfaatan geowisata secara penuh,” jelasnya.
Menurut dia, melalui pematangan rencana induk dan koordinasi lintas sektor, Pemerintah Kota Ternate berharap seluruh program pengembangan geopark dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan. Langkah ini diharapkan membuka jalan bagi Ternate untuk meraih status Geopark Nasional sebelum melanjutkan proses menuju pengakuan UNESCO Global Geopark.
“Pengembangan tersebut tidak hanya ditujukan untuk melestarikan warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya, tetapi juga untuk memperkuat sektor pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,” pungkasnya.