02
Oktober
2026
Jumat - : WIB

Cerita Relawan Parkir di Ternate

Andri R. Mansur
Januari 30, 2025 pada Kabar Daerah
Samsul, relawan parkir di Kota Ternate, Maluku Utara. Foto (Andri R. Mansur/halmaheranesia)

Halmaheranesia – Sore itu, langit Kota Ternate tampak mendung. Awan hitam memenuhi separuh langit seakan menandakan hujan akan segera turun. Namun, Aktivitas di Pasar Gamalama justru semakin sibuk.

Lalu lalang orang yang berbelanja, kendaraan yang parkir dan keluar, serta suara para pedagang bercampur menjadi satu dalam keseharian pasar terbesar di kota ini.

Di bahu jalan, barisan sepeda motor terparkir rapi, memenuhi lahan parkir yang terbatas. Di antara kesibukan itu, seorang pemuda dengan cekatan mengatur kendaraan, memastikan tidak ada yang menghalangi jalan atau memicu kemacetan. Dia adalah Samsul Galela (26), seorang relawan parkir yang telah menjalani pekerjaan ini selama enam bulan terakhir.

Samsul bukanlah pegawai tetap atau pekerja yang digaji secara rutin. Ia disebut relawan parkir karena bekerja tanpa gaji tetap, hanya mengandalkan hasil penjualan karcis parkir yang diberikan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Ternate.

“Kami memang tidak digaji. Pendapatan kami tergantung pada jumlah karcis yang berhasil terpakai,” ujar Samsul saat ditemui pada Selasa, 28 Januari 2025.

Setiap hari kerja, Samsul harus menyelesaikan kuota karcis yang diberikan Dishub sebelum bisa memperoleh penghasilan tambahan. Jumlah karcis yang diterimanya pun tidak menentu, kadang 100 lembar, kadang 200 lembar.

Jika hari sedang ramai, karcis bisa habis lebih cepat. Namun, jika pasar sedang sepi, ia harus bertahan hingga malam agar karcisnya laku terpakai.

“Kalau lagi ramai, sehari bisa dapat lebih dari Rp 100 lebih. Tapi kalau sepi, ya harus sabar sampai karcis habis,” tuturnya.

Sebelum menjadi relawan parkir, Samsul adalah seorang tukang ojek. Namun, seiring waktu, pendapatannya dari mengojek semakin menurun. Ajakan seorang teman yang lebih dulu bekerja sebagai relawan parkir akhirnya membawanya ke profesi ini.

“Saya dulu tukang ojek, tapi karena penghasilan tidak menentu, saya coba pekerjaan ini,” katanya.

Bagi Samsul, pekerjaan ini bukan sekadar mencari uang. Ia menganggapnya sebagai tanggung jawab untuk membantu mengatur lalu lintas di sekitar pasar, terutama saat hari-hari sibuk. Jalanan di Pasar Gamalama memang sempit, sehingga tanpa pengaturan yang baik, kendaraan yang parkir bisa menyebabkan kemacetan parah.

“Kuncinya harus sabar. Kalau pasar lagi ramai, saya harus bolak-balik mengatur motor supaya tidak menghalangi jalan,” jelasnya.

Di tengah ketatnya persaingan mencari pekerjaan di kota, Samsul memilih untuk tidak banyak mengeluh. Ia menerima pekerjaan ini dengan lapang dada. Baginya, yang terpenting bisa menafkahi istri dan anaknya.

Di bahu jalan Pasar Gamalama, Samsul tidak hanya mengatur kendaraan. Ia juga merawat kehidupannya, membesarkan anaknya, dan menjaga dapurnya tetap mengepul. Tanpa gaji tetap, tanpa jaminan, tetapi dengan semangat yang tak pernah padam.

“Di kota, cari pekerjaan itu sangat susah, jadi apa saja pekerjaannya torang (kami) harus terima dan harus bersyukur, yang penting tara (tidak) boleh menyerah deng (dengan) keadaan,” pungkasnya.

_____
Reporter: Andri R. Mansur

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

by halmaheranesia
MENU